
Asti mengikuti langkah Wida yang tergesa menuju ke kelas.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas pada Wida. "Bukankah semua sudah baik-baik saja, kenapa kau masih tampak khawatir begitu?"
Wida tidak menanggapi pertanyaan Asti. Sampai mereka ada di dalam kelas pun, Wida benar-benar diam seribu bahasa..
Pak Anton tampak tak bersemangat saat keluar dari ruangan kepala sekolah. Bu Shinta yang melihatnya langsung menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya cemas.
Pak Anton menatap Bu Shinta dengan tatapan khawatir.
"Kepala sekolah ingin kita mengeluarkan seorang siswa dari sekolah.."
Mata Bu Shinta membelalak.
"Siapa?"
Pak Anton diam sejenak, ia merasa berat untuk mengatakannya.
"Wida..." katanya pelan seakan terpaksa mengatakannya..
Sifa terlihat khawatir karena Anin belum juga kembali dari toilet.
"Kenapa?" tanya Nina yang melihatnya gelisah.
"Anin... ia lama sekali ke toiletnya.." jawab Sifa pelan. "Kau , sih! Terlalu keras padanya."
"Biar saja! Biar ia merenungi kesalahannya disana," kata Nina yang sepertinya masih kesal dengan Anin.
Sifa menatap Nina.
"Biar bagaimana pun itu bukan kesalahan dia sepenuhnya. Dia hanya ingin membantumu.."
"Aku tidak ingin bantuannya!" potong Nina, "apalagi dengan cara seperti itu. Bukankah sudah ku katakan, kalau aku tak akan memaafkan bila ada yang menyakiti Prima?"
Sifa menghela menghela napas. Ia tahu, kalau sudah menyangkut Prima Nina susah di ajak kompromi.
"Ya sudah. Aku ingin ke toilet menyusul Anin. Aku khawatir padanya," kata Sifa kemudian berdiri dan meninggalkan Nina yang masih berwajah kesal.
Ternyata Anin memang berada di toilet. Matanya sedikit memerah seperti habis menangis. Rasa kesal masih memenuhi hatinya. Ia tidak menyangka bahwa niatnya untuk membantu Nina malah menjadi pukulan keras baginya. Ia tahu, Nina memang tidak pernah memandangnya seperti ia memandang Sifa. Mungkin bagi Nina, dirinya hanya parasit saja, yang selalu mengekor kemana pun mereka pergi. Makanya ia berbuat seperti itu, agar Nina memandangnya. Namun...
Tak berapa lama Sifa pun masuk ke toilet. Dilihatnya Anin yang sedang berdiri di depan wastafel.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya begitu berada di samping Anin.
Anin terdiam, wajahnya menunduk menyembunyikan matanya yang sembab.
"Jangan kau pikirkan apa yang di katakan Nina. Ia hanya sedang kesal saja, karena Prima terusik. Nanti juga ia akan baik lagi," kata Sifa menyemangati sahabatnya.
"Tapi aku sungguh hanya ingin membantu. Aku ingin bisa berbuat sesuatu untuknya," kata Anin sedikit merajuk.
"Iya... aku tahu. Sudahlah. Kita kembali ke kelas, kau sudah terlalu lama keluar. Nanti ketinggalan pelajaran," Sifa membujuk Anin.
Anin menghela napas. Sifa memang selalu bisa menenangkan sahabatnya bila ada perselisihan di antara mereka. Setelah membasuh mukanya, akhirnya Anin mengikuti Sifa keluar dari toilet..
Jam pelajaran berlalu dan jam istirahat pun tiba. Dengan tergesa Prima merapikan buku-buku yang ada di atas mejanya. Belum sempat ia berdiri dari bangkunya, Nina sudah berdiri di pinggir meja. Eko pun yg melihatnya menjawil Prima.
"Aku duluan.." katanya seraya berdiri dan berlalu keluar kelas.
Tanpa menunggu Prima untuk menyuruhnya duduk, Nina langsung duduk di tempat Eko.
"Kau lihat, kan?" katanya sambil menatap Prima, "aku tidak bersalah? Aku tidak ada sangkut pautnya dengan foto itu.."
Prima yang kini tahu kalau Nina memang tidak bersalah, mulai melunak. Ditatapnya Nina tanpa perasaan emosi.
"Iya.. aku tahu," katanya datar, "maafkan aku.."
Nina tersenyum senang karena Prima memaafkannya.
Prima menggeleng dengan senyum samar yang terlihat di bibirnya.
"Kalau begitu, ayo kita ke kantin. Aku akan mentraktirmu," kata Nina sambil berdiri.
Prima ikut berdiri.
"Maaf.. aku harus ke kelas Wida, ia sedang menungguku," tolak Prima pelan.
Nina terdiam sejenak, sedikit kecewa dengan penolakkan Prima.
"Oh.. "katanya dengan nada kecewa.
"Hei... bagaimana kalau aku ikut?" katanya tiba-tiba dengan semangat. "Aku juga ingin mengatakan padanya kalau bukan aku pelakunya. Aku ingin minta maaf atas nama Anin.."
Prima menatap Nina. Sebenarnya ia ingin menolak permintaan Nina karena ia ingin berdua saja dengan Wida, tapi ia tidak ingin mengecewakan Nina apalagi ia telah salah paham sebelumnya pada Nina.
"Terserah kau.." katanya akhirnya mengijinkan.
__ADS_1
Nina tersenyum, lalu berdiri dan keluar dari bangku memberi jalan pada Prima. Lalu dengan wajah berseri di ikutinya Prima keluar kelas menuju ke kelas Wida..
Wida menolak ajakan Asti untuk ke kantin. Walau masalah sepertinya telah selesai, namun hatinya masih belum merasa tenang.
"Kau sajalah.. aku masih ingin di kelas," tolaknya pada Asti.
Asti tidak ingin memaksa sahabatnya. Lalu ia meninggalkan Wida setelah mengatakan akan membawakan batagor kesukaan Wida sekembalinya dari kantin nanti..
Wida merebahkan kepalanya di meja dengan wajah menghadap ke tembok. Hal yang selalu ia lakukan bila pikirannya sedang ruwet. Matanya bergerak-gerak menatap dinding kelasnya yang berwarna putih, seakan sedang melihat sesuatu disana. Rupanya ia sedang mengingat kejadian saat di ruang BK tadi, dan bagaikan film yang sedang di putar, satu demi satu bayangan itu terputar di dinding.
Dalam sidang tadi ia tidak berkata apa-apa. Walau ia terdiam, bukan berarti ia tidak memperhatikan jalannya sidang. Perdebatan Anin dan Nina, emosi Prima yang meluap dan ekspresi para guru serta kepala sekolah, tidak luput dari pandangannya. Semuanya terekam dalam pikirannya.
Wida menghela napas. Ia menyadari kalau semua ini terjadi karenanya. Andai saja ia bisa menahan sakit perutnya waktu itu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Tanpa disadari, air mata menetes dari sudut matanya mewakili rasa sesal yang melanda hatinya.
Wida tidak menyadari kedatangan Prima dan Nina, sampai ia merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Ia menduga bahwa Asti telah kembali dari kantin. Wida mengangkat kepalanya sambil menggumam pelan.
"Cepat sekali kau kem...." kata-katanya terputus saat menyadari ternyata bukan Asti yang duduk disampingnya, melainkan Prima. Matanya seketika membelalak terkejut, apalagi saat dilihatnya juga ada Nina yang berdiri di samping mejanya.
"Hai..." sapa Nina sambil tersenyum manis.
Wida yang merasa dirinya sangat berantakkan, langsung merapikan rambutnya dengan jemarinya.
Prima yang melihat sudut mata Wida yang basah segera menyadari kalau Wida sepertinya habis menangis. Seketika ia merasa iba dengan kekasihnya itu. Dengan tangan kanannya ia membantu Wida merapikan rambutnya. Dan dengan ibu jarinya ia menyeka sudut mata Wida yang basah.
Wida yang merasa jengah karena ada Nina yang sedang meperhatikannya, menepis tangan Prima. Dengan senyum yang sedikit di paksakan ia membalas sapaan Nina.
"Ada apa kalian kemari?" tanyanya dengan suara parau.
Prima tersenyum.
"Tidak ada.." jawabnya pelan "Aku hanya ingin mengajakmu ke kantin."
Wida menatap Prima sesaat, lalu melihat ke arah Nina yang masih berdiri. Seakan mengerti maksud pandangan Wida, Prima menjelaskan mengapa Nina ikut dengannya.
"Nina ingin mengatakan sesuatu padamu," katanya menjelaskan.
Nina mengangguk.
"Iya.. aku ingin minta maaf atas nama Anin," katanya. "Walau itu kesalahannya, tapi tetap.. aku juga merasa bersalah, karena aku sahabatnya. Dan ia melakukan itu karena aku."
Prima melirik Nina sekilas. Ia merasa bahwa Nina sedang menyindirnya, karena ia pernah mengatakan baik Nina atau temannya adalah sama saja.
"Bagaimana... kau memaafkan aku, kan?" tanya Nina dengan mata yang tak lepas dari Wida.
__ADS_1
Dengan canggung Wida menganggukkan kepalanya.
"Kau tenang saja," kata Prima sambil tetap menatap Wida, "Wida pasti memaafkanmu.. karena ia memiliki hati yang lapang..."