
Walaupun Prima telah mengikrarkan diri disekolah bahwa ia adalah pacar Wida, ia tetap butuh jawaban yang pasti dari Wida. Ia ingin diakui oleh Wida bahwa ia adalah memang pacarnya. Karena selama ini, hanya ia seorang yang merasa bahwa mereka memiliki hubungan. Dan saat ini ia butuh jawaban kepastian itu dari mulut Wida.
Hatinya berdebar menunggu apa yang akan Wida katakan. Tangannya yang menyentuh pipi Wida dirasa agak bergetar karena hatinya yang berdebar tidak karuan. Dilihatnya Wida tersenyum.. dan menganggukan kepalanya!
Prima tersenyum lebar saat dilihatnya Wida mengangguk. Tapi ia masih kurang puas dengan anggukan itu.
"Aku ingin mendengarnya lewat kata-kata.. bukan hanya sekedar anggukan kepala," kata Prima.
"Kata..? Kata-kata apa?" tanya Wida gugup.
"Kalau kamu sayang padaku.." Prima mendekatkan wajahnya kewajah Wida. Tangannya yang menyentuh pipi Wida, kini membelai rambut Wida sayang.
Wida menundukkan wajahnya menghindari tatapan Prima. Ia menggeser duduknya agar sedikit menjauh dari Prima. Prima menurunkan tangannya yang menggantung karena wajah Wida yang menjauh.
Senyum Prima yang tadi mengembang kini menghilang dari wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya, "apa kau tidak sayang padaku?" Prima agak kecewa dengan sikap Wida yang diam dan menjauh.
"Bukan.." jawab Wida pelan. Matanya kembali menatap Prima dengan tatapan malu. "Aku.. aku hanya merasa aneh saja bila mengatakan hal itu.." Wida kembali tertunduk.
Prima menghela napas lega, karena akhirnya ia mengerti bahwa Wida hanya malu untuk mengungkapkannya. Senyumnya kembali mengembang.
"Baiklah.." katanya mengalah, "anggukan kepalamu saja sudah cukup. Yang penting di hatimu hanya ada aku. Tapi aku akan menunggu saat dimana kamu akan mengatakan sayang padaku."
Wida tersenyum, ia merasa lega karena Prima tidak memaksanya untuk mengatakan kalimat yang dianggapnya memalukan itu. Baginya rasa sayang tidak perlu di ucapkan, dengan sikap menyayangi saja sudah cukup. Ia memang telah lama memendam perasaan terhadap Prima. Namun kedekatan Prima dengan Nina membuatnya ragu. Walau ia tahu Prima selalu perhatian padanya dari kelas satu.
Prima mengeluarkan motor vesva matic merah kesayangannya dari garasi. Ia akan mengantarkan Wida pulang.
Wida menggeleng. "Aku bisa kok naik angkot.." katanya, "kau tidak perlu mengantar"
"Aku sudah janji pada Eko dan Asti, bahwa aku akan mengantarmu." Eko mengambil helm dan dipakaikannya di kepala Wida. Dan ia pun mengambil helm lain untuk dipakainya sendiri.
__ADS_1
"Ayo! Naiklah!" perintahnya pada Wida agar naik kemotor.
Prima membawa motornya dengan kecepatan sedang. Wida yang duduk menyamping karena ia pakai rok, berpegangan pada ujung baju Prima. Tiba-tiba Prima menarik tangan Wida kedepan untuk berpegangan pada tubuhnya. Wida terkejut, namun ia hanya diam dan menurut saja.
Jalan raya tidak terlalu padat sore itu, karena memang belum waktunya orang pulang kantor atau sekolah. Tidak lama kemudian mereka sampai di ujung jalan rumah Wida.
"Berhenti disini saja," pinta Wida.
Prima bingung. "Kenapa tidak dirumahmu saja?" tanyanya.
"Ibuku kalau jam segini tidak ada dirumah. Sedangkan aku ingin ambil jahitan dulu.." Wida beralasan. Rupanya ia tidak ingin mengajak Prima mampir kerumahnya. Ia belum siap menunjukkan keadaan keluarganya.
"Aku antar ya, ketempat tukang jahitnya?" Prima menawarkan diri.
"Aah.. tidak usah, "Wida gugup. "Aku bisa sendiri.. deket kok. Kau pulang saja"
__ADS_1
Prima tersenyum, "Baiklah," katanya tanpa curiga dengan penolakan Wida. "Aku pulang ya.."
Wida mengangguk. "Terima kasih.."