Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXVIII : Maaf... Ada Rasa Yang Ku Jaga...


__ADS_3

Wida yang memang ingin menghindari masalah dengan Nina, memilih untuk meninggalkan kantin. Ia merasa kesal mendengar pertanyaan-pertanyaan konyol yang di ajukan Nina. Mempermainkan perasaan... memangnya tahu apa dia tentang perasaan? Andai saja ia tahu betapa sulitnya menjaga perasaan seseorang agar tidak tersakiti.


Bukannya ia tidak tahu kalau Soni ada rasa padanya, meskipun sebenarnya ia baru tahu belakangan ini. Bisa saja ia bersikap kasar pada Soni tadi pagi, dengan menolak ajakannnya untuk bareng kesekolah. Tapi itu bukan sifatnya. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk menolak perasaan Soni.


Dan dengan Prima... ia sama sekali tidak mempermainkan perasaannya. Sejak Prima mengawasi segala tingkah lakunya disekolah, ia sudah merasa terikat olehnya. Entah mengapa ia selalu merasa nyaman bila Prima mentapnya diam-diam. Dan tidak ada sedikit pun niat untuk menyakitinya. Walau terkadang tanpa sengaja ia melakukannya.


Wida menoleh kebelakang, sepertinya ia mengharapkan Prima mengejarnya. Tapi sosok yang dicarinya tidak ada. Akhirnya dengan perasaan tak menentu ia pun bergegas menuju ke kelasnya.


Prima terpaku mendengar pertanyaan Nina. Ia tidak pernah menyangka bahwa Nina akan menanyakan tentang perasaan padanya.

__ADS_1


"Kenapa kau tanyakan itu?" katanya pelan agar tidak menyinggung Nina. "Kau tahu benar perasaanku terhadapmu. Aku selalu peduli padamu, karena kita sudah berteman dari kecil."


Nina menoleh ke arah Prima dan menatapnya tajam. Sepertinya ia tidak terima bila Prima berkata seperti itu.


"Itu dulu... saat kita masih kecil. Sekarang kita sudah berubah, kita sudah beranjak dewasa. Perasaanku padamu pun berubah," kata Nina sedikit terbawa emosi.


Prima terdiam. Matanya masih menatap Nina. Ia pun mengubah posisi duduknya dengan menyorongkan badannya kedepan. Sebenarnya ia bingung ingin bicara apa. Ia takut akan menyakiti perasaan Nina bila ia salah bicara.


Prima bangun dari duduknya. Ia merasa tidak ada lagi yang perlu ia katakan pada Nina. Ia tidak ingin merusak hubungan yang telah betahun-tahun terbina hanya karena perasaan yang berubah.

__ADS_1


Saat Prima akan melangkah, Nina pun bangun dari duduknya. Ia menghampiri Prima dengan cepat, dan memegang lengannya. Prima yang tidak menyangka kalau Nina akan berbuat seperti itu, tampak terkejut.


"Tapi perasaanku telah berubah..." kata Nina dengan tatapan memohon, "dan aku tidak bisa menghentikannya."


Prima menghela napasnya. Dilepaskannya pegangan tangan Nina dengan perlahan. Lalu dipandangnya Nina dengan perasaan yang tak menentu.


"Kalau begitu... aku tidak bisa lagi untuk peduli padamu," putusnya, "aku tidak ingin menyakiti perasaanmu... dan perasaan Wida. Maaf.."


Dan akhirnya Prima melangkah meninggalkan Nina yang diam terpaku. Sebenarnya Prima tidak tega mengatakan hal itu pada Nina. Ia sungguh tidak ingin menyakiti Nina. Tapi apa boleh buat... ada sebuah perasaan yang ingin dia jaga. Yang tak ingin ia sakiti walau hanya sedikit. Maafkan aku, Nin... batinnya.

__ADS_1


Nina benar-benar terpaku. Dua sahabatnya yang sedari tadi dengan setia menemaninya, datang menghampiri. Sifa merangkul Nina dari belakang. Ia merasakan tubuh Nina yang mulai bergetar. Sepertinya Nina menangis. Dan tak lama Nina pun berbalik badan memeluk Sifa. Anin yang bingung harus melakukan apa, hanya menatap dua sahabatnya yang saling berangkulan.


__ADS_2