Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXCI : Kencan Terakhir Kita...


__ADS_3

Prima berhasil kabur dari rumahnya berkat bantuan Eko, sahabatnya. Tanpa mempedulikan teriakan ibunya yang tampak marah, saat mengetahui ia keluar dari rumah. Dan berkat pinjaman motor dari Eko pula ia sampai ketempat dimana Wida menunggunya. Dilihatnya Wida sedang duduk di halte tidak jauh dari kafe..


Setelah menutup ponselnya, Wida berjalan kearah halte yang berada tidak jauh dari kafe tempat ia bertemu dengan Nina. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya, disekanya dengan punggung tangannya. Ia tidak ingin Prima tahu kalau ia menangis tadi. Dipilihnya sudut halte untuk tempatnya duduk menunggu Prima. Matanya tampak menerawang. Sepertinya ia memikirkan perkataan Prima tentang apa yang harus ia lakukan dengan larangan ibunya, yang melarangnya untuk menemui putranya lagi.


Hhh.... Haruskah ia menyerah pada hubungan mereka kali ini? Setelah apa yang mereka lalui selama ini? Mengapa romansa mereka tidak seindah pasangan lainnya di masa SMA? Katanya pacaran dimasa SMA adalah yang terindah... tapi mengapa pacaran mereka banyak aralnya? Wida mendesah lagi... Apa memang Prima bukan takdirnya?


Wida tertunduk, memainkan kakinya yang bersepatu kets putih. Pikirannya berputar disekitar masalah asmaranya yang naik turun. Terbayang hal-hal indah juga buruk yang telah terjadi dalam hubungannya dengan Prima. Tidak bisa ia pungkiri, banyak juga kenangan indah saat bersama Prima. Saat pertama mereka bergandengan tangan.. kencan pertama mereka.. nonton.. dan juga ciuman pertama mereka.. ah.. banyak hal indah yang terjadi. Wida tersenyum saat mengingatnya.


Namun senyumnya memudar saat di ingatnya aral yang terjadi di hubungan mereka. Bagaimana usaha Nina yang begitu gigih untuk memisahkan mereka. Fitnah yang hampir membuatnya keluar dari sekolah.. dan hal-hal kecil yang hampir saja membuat ia menyerah pada hubungan mereka. Dan sekarang.. terjadi lagi. Apakah ia akan menyerah kali ini? Setelah lama ia bertahan?


Tiba-tiba matanya melihat sepasang kaki dengan sepatu kets hitam didepan kakinyanya. Wida mendongak. Ternyata sepasang kaki itu milik Prima, yang sedang menatapnya sambil tersenyum manis.


"Hai.." kata kekasihnya itu ramah menyejukkan hatinya.


Wida balas tersenyum. Ditatapnya wajah tampan Prima. Ada ketulusan disana... Ketulusan hati yang hanya untuk dirinya. Apakah ia bisa melepas orang yang begitu ia sayangi ini? Cintanya... yang kini telah terpatri didalam hatinya?


"Kenapa tunggu disini?" tanya Prima sambil menyentuh pipi Wida. "Harusnya kau tunggu aku di kafe... atau di dalam toko buku. Kan panas kalau tunggu disini."


Wida hanya tersenyum. Ia takut, jika ia membuka mulutnya, bukan kata-kata yang keluar, melainkan tangis yang ia tahan dari tadi.


"Ayo," ajak Prima sambil menarik tangan Wida. "Kita cari tempat yang nyaman untuk bicara.."


Prima dan Wida kembali ke kafe. Mereka duduk berdampingan disudut kafe. Prima memesan dua porsi beef steak dan lemon tea untuk mereka berdua.


"Hari sudah hampir siang, kau belum makan siang kan?" kata Prima sambil memotong-motong daging sapi, dan kemudian di sodorkannya ke hadapan Wida setelah ia selesai.


Wida masih terdiam.


"Bukankah... kau tidak boleh keluar oleh mamihmu?" tanya Wida tak lama kemudian.


Prima tersenyum.


"Aku kabur. Tidak ada yang bisa mengekangku bila untuk dirimu. Makanlah.."


"Bukankah ada yang harus kita bicarakan? Masalah hubungan kita?"

__ADS_1


Prima yang sedang memotong steaknya langsung terhenti ketika mendengar perkataan Wida. Ia menoleh ke arah Wida dan menatapnya lembut.


"Lalu... menurutmu... apa yang sebaiknya kita lakukan? Aku tidak ingin memaksamu. Tapi kalau aku.. aku ingin kita terus. Karena aku sungguh mencintaimu."


Wida kembali terdiam. Prima yang menatapnya lembut membuat dirinya semakin tidak ingin melepaskannya.


"Kita sudah sejauh ini.. semua sudah kita lalui. Baik buruknya dalam hubungan kita, dapat kita lalui bersama. Masa kau ingin kita berhenti. Jarak Jogja dan Jakarta itu dekat, Wid. Aku bisa bolak balik menemuimu kapan saja," kata Prima berusaha meyakinkan.


"Bukan itu yang ingin aku bicarakan.. Tapi masalah larangan mamihmu agar aku menjauhimu..." kata Wida dengan suara tertahan.


"Hei... Ini bukan pertama kalinya kita mendapat larangan. Bukankah ibumu juga pernah melarangku untuk menjauhimu? Dan kau lihat, aku tidak peduli dengan larangan itu. Dan kita pun bisa berlanjut sampai sekarang. Masa kau tidak bisa seperti aku? Bertahan sampai mamihku menyerah dengan sendirinya?"


Wida mendesah. Benar juga kata kekasihnya itu. Ini bukan pertama kalinya mereka mendapat tentangan dari orang tua mereka. Ibunya pun pernah tidak menyukai Prima, dan Prima dapat bertahan... sampai sekarang. Lalu... mengapa ia tidak bisa? Tidak.. ia juga harus bisa!


Wida mengangguk pelan.


"Baiklah," katanya pelan. "Aku juga bisa sepertimu.. karena aku juga menyayangimu. Kita jalani saja hubungan kita ini. Aku janji, aku tidak akan goyah... walau apapun yang terjadi.." kata Wida dengan senyum tegar di bibirnya.


Prima tersenyum. Digenggamnya tangan kekasihnya itu dengan lembut.


Hari itu Prima dan Wida melakukan kencan mereka yang mungkin saja merupakan kencan terakhir, karena Prima akan berangkat besok. Ke Mall, menonton bioskop, bahkan mereka ketempat rekreasi yang belum pernah mereka kunjungi saat berkencan. Sejenak mereka melupakan permasalahan yang terjadi. Tangan mereka pun saling menggenggam kuat seakan takut terlepas dan terpisah. Hari itu, benar-benar hari mereka berdua...


Hari sudah pukul delapan malam, Prima mengantar Wida pulang.


"Kau tidak masuk?" Wida menawari Prima untuk masuk kerumahnya.


Prima menggeleng.


"Tidak, aku harus mengembalikan motor Eko dulu sebelum pulang."


"Baiklah.. Kalau begitu aku masuk, ya.." kata Wida sambil berbalik hendak masuk kepekarangan rumahnya. Namun langkahnya terhenti karena Prima menarik tangannya.


"Ada apa?" tanyanya heran dengan sikap Prima yang tiba-tiba itu.


Prima tidak menjawab pertanyaan Wida, namun tangannya menggenggam erat tangan Wida.

__ADS_1


"Besok aku akan berangkat. Tidakkah kau ingin memberikan ciuman untukku?" katanya tak lama kemudian, membuat Wida sedikit terkejut.


Wida yang terkejut tampak tertegun dengan permintaan Prima. Ciuman..? Batinnya. Yah, sepertinya wajar jika Prima memintanya, karena mereka akan berpisah besok.


"Disini?" katanya kemudian dengan malu-malu karena mereka ada di pinggir jalan.


Prima mengangguk.


"Kenapa? Tidak ada orang, kok.."


Gang Rumah Wida memang terlihat sepi, apa lagi karena letak rumah Wida yang berada di ujung gang. Tidak ada orang yang bolak-balik melintas disana. Wida tampak ragu memenuhi keinginan Prima. Namun dengan sedikit rasa malu, akhirnya ia maju mendekati Prima. Perlahan di dekatkannya wajahnya ke wajah Prima. Di tatapnya bibir Prima yang sepertinya menunggu kecupan bibirnya. Lalu dengan cepat ia mengecup bibir kekasihnya itu.


"Kok begitu..?" kata Prima yang protes dengan kecupan kilat Wida.


Wida yang memerah mukanya karena malu, mendelikkan matanya. Mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun belum sempat Wida bicara, Prima meraih kepalanya dan langsung mencium bibirnya. Bukan kecupan singkat seperti yang Wida lakukan, sampai-sampai Wida harus menarik wajahnya untuk menghentikan ciuman Prima.


"Kau ini.." katanya sambil mendorong Prima.


Prima tertawa pelan, ia merasa puas karena berhasil menggoda Wida.


"Harusnya seperti itu ciuman perpisahan," katanya sambil senyum menggoda, membuat wajah Wida semakin memerah.


"Kalau ada yang melihat bagaimana?" kata Wida sedikit kesal.


"Biar saja... biar semua tahu kalau kau sudah ada yang punya. Dengan begitu aku bisa tenang di Jogja nanti," kata Prima mengacuhkan kekesalan Wida.


"Dasar! Sudah ah, aku mau masuk," kata Wida sambil berusaha melepas pegangan tangan Prima. Namun pegangan tangan Prima sungguh erat, hingga ia tidak bisa melepaskannya.


"Besok... kau harus datang, ya. Kau harus melihat aku pergi.." pinta Prima tanpa melepas tangan Wida.


Wida menatap Prima. Kini ia melihat pancaran kesedihan di mata Prima. Wida melipat bibirnya. Ia tidak tega melihat Prima yang tampak sedih itu.


"Iya..," jawabnya sambil tersenyum, "aku akan datang..."


Prima tersenyum. Ia akhirnya melepas pegangan tangannya. Dan membiarkan Wida masuk kepekarangan rumahnya hingga hilang di balik pintu rumahnya. Prima tertunduk, rasa bahagia yang ia rasakan hari itu seakan hilang seketika, saat ia teringat bahwa ia akan berpisah dengan Wida besok. Lalu dengan langkah gontai ia menghampiri motor pinjamannya, dan tanpa menoleh lagi, ia berlalu pergi meninggalkan rumah Wida...

__ADS_1


__ADS_2