
Soni yang sedang menemani Wida di toko buku merasakan ponselnya yang bergetar disaku celananya. Ia mengambil ponselnya. Dilihatnya nama Prima tertera dilayar ponsel.. dan tanpa diangkat atau dirijek ia mengabaikan panggilan tersebut. Setelah tidak berdering lagi Soni langsung mematikan daya ponselnya. Ia tidak mau acara jalannya dengan Wida terganggu.
Didekatinya Wida yang sedang serius mencari buku. Soni tersenyum. Dimatanya Wida tampak manis hari ini apalagi kalau sedang serius begini.
"Buku apa sih, yang kau cari..?" tanyanya.
"Buku kumpulan puisi.." jawab Wida.
Soni ikut membantu mencarinya.
"Sepertinya tidak ada.. sudah habis kali.." kata Wida setengah putus asa.
"Kita cari ditempat lain?"
"Tidak usahlah.. lain kali saja.." tolak Wida halus.
Mereka pun lanjut jalan-jalan kesana kemari di dalam mall. Makan.. lalu jalan lagi.
__ADS_1
"Kita nonton yuk!" ajak Soni tiba-tiba. Wida terkesiap. Ia ingat pengalamannya nonton dengan Ryan. Dan juga janjinya pada Prima.. untuk tidak kebioskop dengan siapa pun.. kecuali dengannya.
Wida menggeleng. "Enggak ah.." katanya.
Soni terlihat kecewa. Padahal ia ingin sekali nonton dengan Wida. Ia ingin menyatakan perasaannya di dalam sana nanti. Tapi sepertinya ia harus menunggu lagi.. menunggu waktu dan tempat yang tepat.
"Kita pulang yuk.." ajak Wida, "sudah mau sore.."
Soni menghela napas. Waktu dirasa terlalu cepat berlalu. Ia masih kurang puas jalan dengan Wida hari ini. Tapi ia tidak bisa menolak keinginan Wida yang tampaknya sudah mulai lelah. Soni mengangguk menuruti keinginan Wida.
"Sampai besok ya.." kata Wida mengusir secara halus. Soni hanya mengangguk. Walau ia sedikit kecewa dengan sikap Wida, namun ia berpikir positip bahwa Wida memang sudah lelah.
"Ya.. " jawabnya sambil tersenyum, "sampai jumpa besok.."
Soni berbalik melangkah pulang setelah dilihatnya Wida masuk kedalam rumah. Sambil berjalan diraihnya ponsel yang ada disaku celananya. Di aktipkan dayanya yang tadi sempat ia matikan. Setelah menyala, terlihat beberapa panggilan.. dari Prima.. dan Eko. Soni tersenyum sinis. Ia tahu kedekatan Eko dan Prima, karena dekatnya, Eko akan melakukan apa saja untuk Prima. Ia yakin, panggilan dari Eko kali ini pasti atas permintaan Prima. Dimasukkannya lagi ponselnya kedalam saku.
Terbayang olehnya waktu di mall saat mereka jalan tadi. Beberapa kali ia berusaha untuk menggandeng tangan Wida. Namun Wida selalu saja bisa menemukan alasan untuk menepis tangannya. Pura-pura menunjuk sesuatulah.. menggaruk.. atau sekedar merapikan rambutnya.
__ADS_1
Soni menghela napasnya. Mungkin ia terlalu cepat melakukan pendekatannya. Atau mungkin Wida memikirkan Prima walau ia sedang jalan dengannya? Lagi-lagi Prima! Prima memang temannya walau ia tidak sedekat Eko. Ia juga tahu Prima menyukai Wida. Tapi bagaimana lagi.. ia juga menyukai Wida. Setidaknya ia ingin berusaha dulu untuk mendapatkan hati Wida.
Tiba-tiba di rasakannya ponselnya bergetar. Diambil ponselnya dan dilihatnya nama Eko tertera disana.
Dengan malas di jawabnya juga panggilan Eko.
"Ya.." katanya.
"Kau ada dimana?" tanya Eko tanpa basa basi.
"Kenapa?" Soni tidak langsung menjawab. Apa urusannya? pikirnya.
"Katanya kau jalan dengan Wida.. ke mall" kata Eko menyelidik.
"Apa urusannya denganmu?" Soni mulai jengkel dengan sikap Eko yang menurutnya terlalu ikut campur.
"Aku hanya mengingatkan.. Wida pacar Prima. Kita berteman.. teman tidak mengambil milik teman lainnya. Aku harap kamu tahu itu." Eko memperingatkan. Lalu terdengar nada putus dari ponsel Soni. Rupanya Eko mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Soni.
__ADS_1