Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXXIII : Kita Lupakan Sejenak...


__ADS_3

Prima membawa Wida keluar dari halaman sekolah yang sedang ramai dengan pesta kelulusan anak kelas tiga. Wida yang tahu sifat Prima yang tidak bisa di hentikan kalau sedang marah, hanya membiarkan saja dirinya di tarik kesana kemari. Hingga akhirnya Prima menghentikan langkahnya sendiri, setelah tidak jauh dari gedung sekolah. Dan otomatis Wida pun ikut berhenti dengan tangan yang masih terpegang erat oleh Prima.


Nafas Prima tampak tersengal, karena menahan emosi akibat rasa cemburunya pada Soni. Ditatapnya mata Wida yang berdiri disampingnya dengan kesal. Bagaimana tidak, dengan terang-terangan Wida berdiri begitu dekat dengan Soni saat membubuhkan namanya di dada Soni. Dan rivalnya itu, dengan leluasa memandangi wajah Wida dengan matanya yang tak berkedip sedikitpun.


"Kau... kau tampaknya sengaja memberikan tanda tanganmu pada Soni didepanku!" tuduh Prima pada Wida, yang langsung mengerutkan alisnya.


"Sengaja bagaimana.. Kan semuanya memang sedang saling bertukar tanda tangan," bela Wida. "Wajar aku juga ikut memberikannya pada Soni. Apalagi ia memintanya dengan sopan. Masa aku menolaknya."


Prima mendesah kesal.


"Apa kamu tidak tahu kalau itu hanya modusnya saja? Kau tidak sadar kalau dia memandangi wajahmu dengan leluasa saat kau dekat dengannya?"


Wida menatap kesal Prima.


"Aku hanya membubuhkan namaku, mana sempat aku melihat apakah ia memandangiku atau tidak."


Prima terdiam. Ia tahu kalau Wida itu baik terhadap siapa saja. Dan karena sikapnya itulah, membuat orang yang menyukainya akan salah paham padanya.


"Hei... Bukankah tadi aku lagi menanyakan, apakah benar kau akan kuliah di Jogja?" kata Wida yang tiba -tiba teringat kembali pada perkataan Nina. "Jangan kau alihkan ke Soni, kalau kau tidak ingin menjawabnya."


Prima menghela nafas untuk membuang rasa cemburunya, yang sepertinya memang tampak berlebihan itu.


"Iya.. Itu benar. Maafkan aku karena belum memberitahumu."


Wida menatap mata Prima dalam.


"Dan Nina... Apakah ia akan kuliah bersamamu disana?"


Prima mengangguk.


"Orang tua Nina menitipkannya pada Mamihku, begitu tahu aku akan kuliah di sana. Kenapa? Kau cemburu padanya karena dia akan kuliah bersamaku?"


"Kau saja bisa cemburu karena Soni. Kenapa aku tidak?" kata Wida sambil menepis tangannya yang di pegang Prima.

__ADS_1


"Iya... Maaf.. Aku tidak akan seperti itu lagi," kata Prima sambil meraih tangan Wida kembali. "Baiklah... Kita lupakan kejadian tadi, ya. Dan kau lupakan juga apa yang kau dengar dari Nina. Walau pun nanti kami kuliah bareng disana, bukan berarti aku dan Nina bisa bersama."


Sesaat Wida terdiam, dan akhirnya ia mengangguk menyetujui usul Prima untuk melupakan masalah yang terjadi hari ini. Walau perkataan Nina masih mengganjal di hatinya. Yah, mau bagaimana lagi... Kebersamaan mereka mungkin hanya tinggal beberapa minggu saja..


"Heii..!!" terdengar suara Asti dari kejauhan yang memanggil mereka, membuat Wida dan Prima menoleh berbarengan.


"Dari tadi aku mencari kalian!" kata Asti setelah ia dan Eko sampai didekat mereka. "Sedang apa kalian disini?"


Wida hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Asti.


"Kami sedang menghindari fans fanatiknya Wida," jawab Prima asal. "Apa kalian ada rencana mau kemana kita hari ini untuk merayakan kelulusan kita?"


"Terserah... Kami ikut saja," jawab Eko santai.


"Yang penting kita makan saja dulu, aku sudah lapar," kata Asti sambil memegang perutnya.


Saat mereka berjalan ke arah tempat parkir, mereka berpapasan dengan anak-anak tim basket Prima. Iwan, Soni, Edi, dan Robi yang ternyata memang sengaja menunggu mereka untuk mengadakan pesta perpisahan bersama yang terakhir kalinya.


"Baru saja aku akan meneleponmu," kata Iwan sambil mengacungkan ponselnya menunjukkan pada Prima bahwa ia berniat menghubunginya. "Aku tahu kau belum pulang, karena aku lihat motormu masih disini. Kita akan mengadakan pesta perpisahan. Kau setuju, kan?"


Prima mengangguk.


Tidak berapa lama datang Nina, Sifa serta Anin menghampiri mereka.


"Haaii..!" sapa Anin dan Sifa berbarengan. Sedangkan Nina hanya tersenyum sambil melihat ke arah Prima.


"Aku yang mengajak mereka," kata Soni saat melihat wajah Prima yang agak terkejut dengan kedatangan gengnya Nina. "Mereka juga anggota kita, kita tidak akan bisa tanpa dukungan dan semangat dari mereka."


"Setuju!" seru Robi mendukung ucapan Soni. "Ayolah.. Aku dengar tidak jauh dari sini ada tempat tongkrongan baru. Kita kesana saja.."


Rupanya tempat yang di tunjukkan oleh Robi adalah sebuah kafe anak muda yang berada beberapa blok dari sekolah mereka. Mereka memilih lantai dua untuk tempat berkumpul dan berpesta. Bangku dan meja disusun memanjang agar mereka bisa duduk bersama dan saling berhadapan. Prima, Wida, Asti, Eko, Iwan serta Edi duduk dalam satu barisan. Sedangkan yang lainnya di barisan seberang meja mereka.


Wida yang duduk disamping Prima merasa sedikit resah. Karena seperti sudah di atur, ia duduk berhadapan dengan Soni, sedangkan Prima berhadapan dengan Nina. Asti yang ada disebelah kanan Wida rupanya mengetahui keresahan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kenapa?" bisiknya.


Wida menoleh.


"Tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum menutupi keresahannya.


Suasan mulai tampak ramai. Mereka membicaraka apa saja yang bisa jadi topik pembicaraan. Dari masalah ujian, kelulusan, dan sampai tujuan kemana mereka setelah lulus.


"Hei, Prim! Aku dengar dari Eko kau akan meneruskan kuliah di Jogja. Benarkah itu?" tanya Robi tiba-tiba pada Prima, yang membuat hampir semua mata tertuju padanya.


Prima melirik ke arah Wida yang sedang tertunduk, memainkan tali tasnya yang ada di pangkuannya.


"Iya... Aku akan kuliah disana," katanya menjawab pertanyaan Robi.


"Wah... Kalau begitu yang jauh dari kita sekarang, Prima dong!" seru Edi setelah mendengar perkataan Prima.


"Aku juga akan kuliah di Jogja," celetuk Nina tiba-tiba membuat semua mata beralih padanya.


"Dan sepertinya aku akan satu kampus dengan Prima," katanya lagi sambil melihat ke arah Prima yang juga sedang menatapnya.


Soni yang mendengar penuturan Nina, langsung melihat ke arah Wida yang sedang melihat ke arah Nina. Batin Soni bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkan gadis itu, saat ia tahu bahwa Prima akan kuliah bersama saingannya.


"Wah.. Kalau begitu, bakal ada CLBK dong!" seru Anin menanggapi perkataan Nina.


Prima yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Anin. Matanya menatap kesal gadis itu.


"CLBK apa?" katanya ketus. "Aku tidak pernah pacaran dengannya!"


"Ops.. Maaf.." kata Anin sambil menutup mulutnya karena salah bicara. "Aku hanya bercanda.."


Untunglah makanan dan minuman yang mereka pesan telah datang, membuat suasana yang sempat keruh karena celetuk Anin, menjadi ceria kembali.


"Sudah.. Sudah.." kata Eko menengahi. "Kita makan dulu.. Pesanan sudah datang.."

__ADS_1


Dan kini semua beralih ke menu yang mulai terhidang dimeja..


__ADS_2