Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LX : Jauhi Dia..


__ADS_3

Prima keluar dari kelas Wida dengan wajah yang terlihat galau. Dirinya sudah menduga kalau Wida akan seperti ini.. marah atau kesal padanya. Tadinya ia ingin mengajak Wida kekantin untuk menghiburnya. Tapi waktunya sepertinya kurang tepat. Dilihatnya Asti yang baru balik dari kantin. Prima menghadangnya.


"Kau beli sesuatu untuk Wida?" tanyanya.


"Iya," jawab Asti sambil mengacungkan batagor yang dibawanya.


Prima tersenyum, "Terima kasih."


"Tidak masalah.. iya temanku," jawab Asti dan kemudian meninggalkan Prima.


Baru Prima akan melangkah seseorang meneriaki namanya. Eko. Rupanya ia, Iwan serta Edi sedang berkumpul di pinggir lapangan. Prima pun datang menghampiri mereka.


Wida mengunyah batagornya dengan lahap. Entah karena lapar, atau stres karena masalah yang di hadapinya. Asti tersenyum melihatnya.


"Pelan-pelan Wid, keselek kamu nanti," katanya, "ada apa Prima mencarimu?"


Wida menggeleng. "Ga tau," jawabnya pendek. "Sepertinya cuma mau mengingatkan aku tentang hukuman yang harus aku kerjakan nanti siang, sepulang sekolah."


Dan sepertinya Wida datang lebih dulu ketaman daripada Prima. Setelah meletakkan tasnya di pinggir taman, Wida mengambil peralatan kebersihan. Dengan sapu lidi, disapunya taman yang kotor karena daun dan rumput kering. Sesekali matanya melihat ke arah jalan masuk ke taman. Mungkin ia mencari sosok Prima yang tak kunjung datang.


Saat ia sedang jongkok untuk mencabut rumput kering, didengarnya ada yang datang menghampiri. Senyumnya mengembang karena mengira Prima yang datang. Ia pun segera menoleh ke arah suara tersebut, namun perlahan senyumnya menghilang begitu tahu siapa yang datang.

__ADS_1


"Hai.." sapa sosok itu yang ternyata Soni. Soni berjongkok di depan Wida. "Kau sendiri?" tanyanya, "Prima mana?"


Wida menggeleng. "Tidak tahu," jawabnya. Ia pun kembali mencabut rumput yang telah kering. Soni ikut membantunya.


"Aku tidak mengadukanmu," Soni mencoba mengajak Wida bicara.


"Aku tahu," Wida menatap Soni. "Maapkan aku.. aku sempat menduga kalau kau yang mengadukannya.." Wida tersenyum tulus.


Soni mengangguk. "Aku mengerti."


"Wida!" Tiba-tiba terdengar suara memanggil Wida. Reflek Wida dan Soni menoleh ke arah suara dengan berbarengan. Nina.


"Aku ingin bicara," katanya dengan wajah yang terlihat serius.


"Ada apa?" tanya Wida sambil berjalan mendekati Nina.


"Aku mau.. kau menjauhi Prima mulai sekarang," Nina langsung mengutarakan maksudnya.


Wida tidak menjawab. Alisnya mengerut karena tidak mengerti maksud Nina.


"Kau tahu... Prima banyak berubah belakangan ini!" lanjut Nina. "Asal kau tahu, Prima tidak pernah berkelahi dengan siapapun! Tapi karena mu, ia berkelahi dengan Ryan! Bahkan juga degan teman baiknya, Soni!" mata Nina melihat kearah Soni sekilas, yang sedang berdiri tidak jauh di belakang Wida.

__ADS_1


Merasa dirinya dikaitkan, Soni maju mendekat. Ia berdiri disamping Wida. "Itu salah paham," katanya membela Wida, "kami tidak benar-benar berkelahi."


Sepertinya Nina tidak suka jika Soni membela Wida. "Apanya yang tidak berkelahi?" serunya dengan emosi, "kalian hampir saling pukul jika guru tidak datang!"


Wida menatap Soni. Ia tidak tahu kalau Prima berkelahi dengan Soni. "Benarkah?" tanyanya dengan rasa bersalah. Soni tidak menjawab. Ia hanya melihat ke arah Nina dengan kesal.


"Dan satu lagi! Prima tidak pernah membolos!" Nina masih mengorek kesalahan Wida. "Tapi sejak ia dekat denganmu, ia mulai membolos!"


Wida yang terdiam, hanya menatap Nina dengan mata yang mulai berkaca. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena menurutnya, apa yang dikatakan Nina memang benar.


Soni yang tidak terima Wida dipersalahkan, semakin geram dengan ulah Nina.


"Kau pikir Wida pernah bolos?" serunya, "kalau Prima tidak mengajaknya ia juga tidak akan membolos!"


"Kau tidak usah membelanya!" Nina makin emosi.


"Aku tidak membelanya! Aku ada disana saat Prima membawa Wida pergi!" Soni tak kalah emosi. Wida yang melihat Soni mulai terbawa emosi, dengan segera memegang tangan Soni untuk menenangkannya.


Nina menghela napas kesal.


"Pokoknya Wida, aku minta mulai sekarang kau jauhi Prima!"

__ADS_1


"Kenapa ia harus menjauhiku?!" Tiba-tiba Prima sudah berdiri di belakang Nina. Nina terkejut. Ia menoleh ke arah Prima. Dilihatnya Prima memandang tak suka kearahnya. Dan kemudian pandangan Prima beralih ke Wida yang sedang memegang tangan Soni. Dengan kesal Prima berjalan melewati Nina kearah Wida. Dan dengan sekali hentak, ia menarik Wida agar menjauh dari Soni.


__ADS_2