Romansa SMA

Romansa SMA
BAB : LIII : Karena Ini Bolos Pertamaku


__ADS_3

Wida meminta Prima menghentikan motornya di depan gang rumahnya. Ia tidak ingin ibunya tahu, kalau ia pulang sore karena jalan berdua bersama Prima.


"Aku turun disini ajah.." katanya, "aku takut ibu tahu kalau aku membolos." Wida turun dari motor, membuka helmnya, lalu menyerahkannya pada Prima.


"Aku antar sampai rumah," Prima memaksa. Wida menggeleng.


"Tidak usah," katanya, "terima kasih ya, untuk hari ini. Aku.. senang sekali." Wida tersenyum manis.


"Aku juga senang.." jawab Prima. "Terima kasih untuk ini.." Prima menunjukkan gelang yang di pakainya. Senyum Wida makin melebar, ia senang Prima menyukai pemberiannya.


"Daah.. aku pergi ya.." pamit Wida. Wida berbalik hendak meninggalkan Prima. Namun baru selangkah Wida melangkah, Prima menarik tangannya. Wida jadi berhenti dan menatap Prima heran. "Ada apa?" katanya.


Prima tersenyum. "Tidak.. hanya.. tunggulah sebentar lagi.." sepertinya Prima tak rela berpisah dengan Wida.


Wajah Wida tersipu malu, karena Prima menatapnya dalam. Prima menggenggam tangan Wida erat.


"Nanti aku telepon ya.." katanya pelan. Wida mengangguk. "Besok aku jemput.." kata Prima lagi, dan Wida mengangguk lagi. Prima tertawa pelan melihat Wida yang begitu menurut.


Akhirnya Prima melepaskan tangan Wida.

__ADS_1


"Ya sudah, pulanglah.. tunggu telepon dariku ya," katanya.


Wida mengangguk. "Iya," katanya sambil melambaikan tangannya. Lalu berbalik bergegas pulang. Prima memandangi Wida hingga ia menjauh. Setelah Wida menghilang dari pandangannya, dihidupkannya motornya dan berlalu pulang.


Wida sampai didepan rumahnya. Dengan takut-takut ia membuka pintu pagarnya. Di hela napasnya pelan untuk bersiap menghadapi ibunya. Saat membuka pintu rumahnya Wida terkejut. Karena ibunya berdiri dibalik pintu.


Wida tersenyum kaku untuk menghilangkan keterkejutannya.


"Bu.." katanya lalu meraih tangan ibunya untuk salim.


"Dari mana?" tanya ibunya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak Wida.


"Kerumah Asti.." katanya pelan. Sori As.. aku pakai namamu.. katanya dalam hati.


"Sejak kapan kau belajar berbohong!" bentak ibu. "Kau tahu..? Gurumu menelepon ibu! Ia bilang kau membolos!" Wida terkejut. Siapa yang melaporkan dirinya kalau telah membolos? Tidak ada yang tahu kalau ia membolos. Kecuali... Soni? Apa Soni mengadukannya?


"Kenapa kau diam? Ibu juga telah menelepon Asti. Dan dia juga bilang kalau kau tidak masuk. Kau berangkat dari rumah kesekolah, tapi kau tidak kesekolah. Kau tidak pernah seperti itu! Siapa yang mengajarimu bolos?!" Ibu sepertinya benar-benar marah.


Bagaimana tidak, Wida memang tidak pernah bolos sebelumnya. Mungkin ibunya berpikir setan mana yang merasukinya, hingga ia berani membolos.

__ADS_1


Wida hanya terdiam. Ia tahu, kalau ibunya sedang cuap-cuap begitu mendingan diam saja. Soalnya, kalau di sahuti bisa tiga hari tiga malam ngomelnya. Wida menundukkan kepalanya sambil pasang muka memelas. Seakan ia menyesal dengan perbuatannya.


"Maaf.." katanya setelah ibunya berhenti mengomel.


"Kau pikir dengan kata maaf, itu bisa menghapus kesalahanmu hari ini?" kata ibu sambil berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Wida mengikuti ibunya dan hendak ikut duduk juga. Namun belum juga duduk ibunya sudah berteriak.


"Siapa yang menyuruhmu duduk!" teriaknya.


Wida yang kaget dengan teriakkan ibunya langsung kembali berdiri tegak.


Ibu terdiam sejenak, setelah menghela napas untuk melepas kekesalannya, ia kembali bicara dengan tenang.


"Siapa Prima?" kata ibu yang membuat Wida terkejut dan menatap ibunya.


"Kata gurumu kau bolos dengan Prima tadi."


Wida masih terdiam. "Prima.. " ibu tampak berpikir, "apakah dia Prima yang kemarin mencarimu?" tanya ibu sambil menatap Wida penuh selidik.


Wida kembali tertunduk menghindari tatapan ibunya. Ia tidak ingin Prima kena masalah dengan ibunya karena dia.

__ADS_1


"Hei!" tegur ibunya karena Wida hanya diam.


" Benarkan, Prima yang kemarin?" tanya ibu lagi. Dan akhirnya Wida mengangguk pelan.


__ADS_2