
Prima berjalan dilorong sekolah dengan langkah gontai. Pikirannya terasa penuh oleh masalah yang baru saja ia alami. Ia tidak menyangka bahwa apa yang pernah dikatakan Wida ternyata benar... bahwa Nina menyukainya. Ia tidak menyadari bahwa perasaan Nina telah berubah padanya. Pikirnya, itu hanya sikap protektip dari seorang sahabat yang sudah seperti saudara baginya. Tapi ternyata... Hheeh.. Prima mendesah.
Sebenarnya Prima ingin ke kelas Wida untuk mengetahui keadaannya. Ia takut Wida akan salah paham. Tapi entah mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah kesana. Lagi pula bel sebentar lagi berbunyi, pikirnya, Wida pasti bisa mengerti.
Akhirnya ia masuk ke dalam kelasnya. Eko yang sudah duduk di bangkunya, tampak sedang mencatat di buku tulisnya. Prima yang merasa lelah, menghempaskan tubuhnya ke bangku dengan cukup keras. Sampai-sampai Eko yang sedang mencatat jadi berhenti karena merasa terganggu.
Mau tak mau Eko menoleh ke arah Prima. Terlihat olehnya Wajah Prima yang tampak lesu. Eko mengerutkan keningnya karena heran. Bukankah tadi ia terlihat baik-baik saja saat kekantin bersama Wida? pikirnya. Tapi, kenapa sekarang ia tampak seperti seorang prajurit yang kalah perang?
"Kau kenapa?" tanya Eko yang jadi penasaran karena melihat keadaan sobatnya itu. Prima hanya menoleh sekilas ke arah Eko dan kemudian kembali menatap ke depan kelas, tanpa menjawab pertanyaan Eko. Eko tahu kalau percuma saja bertanya pada Prima, kalau ia sedang galau. Maka ia pun kembali mencatat tanpa mempedulikan Prima.
__ADS_1
Tiba-tiba Prima menegakkan tubuhnya saat dilihatnya Nina dan dua sahabatnya masuk ke dalam kelas. Eko yang sedang mencatat pun jadi berhenti, dan ikut melihat kearah pandangan Prima. Terlihat Nina yang juga tampak lesu sedang di gandeng Sifa menuju ke bangkunya.
Eko menebak-nebak sendiri di dalam hatinya. Ia menduga pasti terjadi sesuatu antara Prima dan Nina.
"Hei... katakan padaku apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya penasaran pada Prima. Prima tak menjawab pertanyaaan Eko. Matanya masih melihat ke arah Nina. Sepertinya ia tidak tega melihat keadaan Nina yang seperti itu. Bila keadaannya masih seperti dulu, mungkin ia sudah menghampirinya untuk menghiburnya.
Di kelas, Wida sama sekali tidak bisa konsen dengan pelajarannya. Selain perutnya yang lapar karena ia tidak makan apa-apa saat istirahat, pikirannya juga tak bisa lepas dengan kejadian di kantin tadi. Apalagi Prima tidak datang menyusulnya. Ia jadi kepikiran sebenarnya apa yang telah terjadi sepeninggalnya tadi. Tiba-tiba perutnya berbunyi, sepertinya cacing-cacing yang ada di perutnya pada berteriak karena laper.
Asti yang mendengarnya spontan menoleh. Alisnya berkerut heran.
__ADS_1
"Kau tidak jajan tadi?" tanyanya.
Wida hanya menggeleng pelan.
"Lalu untuk apa kau ke kantin tadi bersama Prima?"
Wida hanya mendesah. Sebenarnya ia ingin curhat ke Asti mengenai masalahnya. Tapi ia bingung mau mulai darimana. Akhirnya ia mengambil botol minumnya, dan menenggak isinya sampai habis. Lumayanlah, pikirnya. Setidaknya bisa menahan rasa laparnya sampai jam pelajaran berakhir.
Asti yang memang tidak tahu akan masalah sahabatnya, hanya melongo melihat kelakuan Wida.
__ADS_1