Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXXVII : Maaf... Aku Menghentikanmu...


__ADS_3

Cukup lama Wida menangis di pelukkan Prima. Setelah ia merasa tenang, di lepasnya pelukkan Prima.


"Maaf... aku terbawa emosi.." katanya lirih.


Prima mengambil minum yang ia bawa tadi dari meja nakas.


"Minumlah..." disodorkannya gelas itu ke Wida.


Wida menerimanya dan meminumnya.


"Terima kasih.." katanya masih dengan suara lirih, dan meletakkan kembali gelasnya.


"Sepertinya... lebih baik aku tidak berangkat," kata Prima. "Aku tidak tega meninggalkanmu."


Wida menggeleng.


"Tidak.. berangkatlah. Aku benar tidak apa-apa.."


Prima menatap Wida dalam, ia ingin melihat keseriusan dari perkataan Wida.


Wida tersenyum. Di cobanya untuk tegar dihadapan Prima. Ia tidak ingin harapan orang tua Prima pada anaknya kandas karena dirinya.

__ADS_1


"Apa... kita harus putus agar kau tenang disana?" kata Wida pelan.


Prima terperanjat mendengar perkataan kekasihnya itu. Matanya membelalak lebar karana tidak menyangka Wida bisa mengatakan kata putus.


"Kau... kau bilang apa? Putus?" katanya dengan alis berkerut. "Gampang sekali kamu bicara seperti itu! Aku saja tidak pernah berpikiran seperti itu!" Nada suara Prima terdengar kesal.


"Bukan begitu... aku hanya tidak ingin membebanimu.."


Dengan wajah yang terlihat kesal, Prima kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Mulutnya tertutup rapat. Sepertinya ia sangat kecewa dengan pemikiran Wida.


Wida yang melihat Prima yang tampak marah, agak menyesal dengan perkataannya. Ia ikut menyandarkan tubuhnya, dan duduk agak mendekat ketubuh Prima. Di raihnya tangan Prima, lalu di genggamnya erat.


Prima yang tidak ingin mendengar berbagai alasan dari mulut Wida lebih banyak lagi, dengan cepat meraih wajah Wida. Dibungkamnya bibir kekasihnya itu dengan ciuman yang sedari tadi di tahannya.


Semula Wida tampak terkejut dengan serangan Prima yang tiba-tiba. Ia hendak menarik wajahnya untuk menghindari ciuman Prima. Namun Prima yang sedang terbawa emosi, menahannya dengan erat. Diserangnya bibir Wida tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar. Wida yang mendapat serangan yang bertubi-tubi dari bibir Prima, akhirnya menyerah. Dengan pasrah dibiarkannya bibirnya yang tak bersalah di kuasai Prima.


Lama bibir Prima bermain dibibir Wida, sampai akhirnya ia berhenti dengan sendirinya. Lalu dengan perlahan ia menjauhkan wajahnya dari wajah Wida, seakan ingin memastikan bahwa kekasihnya itu memiliki hasrat yang sama dengan dirinya. Dan saat dilihatnya Wida yang tengah memejamkan matanya, Prima kembali tertantang. Ia merasa Wida sedang menunggu dirinya untuk kembali mencumbunya. Lalu tanpa menunggu lama, ia kembali menghujani bibir Wida dengan ciumannya yang kini semakin berhasrat. Setelah puas, perlahan ditinggalnya bibir mungil itu, dan beralih kewajah Wida. Disapunya wajah Wida dengan lembut, membuat Wida ikut berhasrat. Wida kini larut dalam gejolak yang Prima ciptakan. Saat bibir Prima menyusuri lehernya yang sensitif akan sentuhan, membuat dirinya mendesah pelan, membuat gejolak birahi Prima semakin bertambah.


Kini bukan hanya bibirnya yang beraksi, tangannya pun mulai ikut bergerilya menyusuri tubuh Wida. Tangan yang semula menahan wajah Wida, kini mulai turun menyusuri leher Wida. Dan semakin menurun menyentuh dua gundukkan mungil yang ada ditubuh gadis mungil itu. Dan saat jemari tangan itu meremas lembut gundukkan itu, Wida memekik pelan.


Wida sepertinya telah melupakan kesedihannya. Isak tangis yang tadi menguasainya kini berganti dengan desahan yang sesekali terdengar dari bibir mungilnya, ketika Prima menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Saat jemari Prima meremas bagian tubuhnya yang sangat ia jaga, ia memekik pelan, namun entah mengapa ia tidak ingin menghentikan tangan itu untuk tidak menyentuhnya. Mungkin karena perasaan bersalahnya pada Prima, yang telah membuatnya kesal sehingga ia membiarkannya. Atau... apakah ia mulai terbiasa dengan sentuhan Prima?

__ADS_1


Merasa tak ada larangan dari Wida, aksi Prima semakin berani. Tangan yang tadi hanya menyentuh dari luar kini mulai berani menyusup ke balik t-shirt Wida. Sesaat tangan itu berhenti ketika menyentuh kulit tubuh Wida yang terasa halus. Sepertinya ia ingin memastikan apakah Wida akan melarangnya.


Wida yang merasakan sentuhan hangat di bagian tubuhnya yang kini tanpa pembatas itu, tercekat. Ia sedikit terkejut saat menyadari tangan Prima yang mulai menyusup kebalik t-shirt putihnya. Nafasnya tertahan dan tubuhnya menegang. Matanya yang tadi terpejam, membuka seketika.


Prima yang merasakan ketegangan tubuh Wida, menghentikan petualangan bibirnya di leher Wida. Ia menarik wajahnya dan menatap ke mata Wida yang kini terbuka. Mata yang menatap kembali itu tampak melebar dan panik. Sekilas Prima ragu akan aksinya. Namun Wida yang diam tanpa reaksi itu, membuat dirinya melanjutkan gerilyanya pada tubuh Wida.


Wida yang duduk bersandar, semakin menekan tubuhnya kesandaran sofa. Tangan Prima yang mulai merabai tubuhnya membuat ia benar-benar tak bisa bernafas. Pikirannya pun seakan tidak dapat berfungsi dengan baik. Sebenarnya ia sangat menjaga dirinya agar tidak disentuh oleh laki-laki manapun. Tapi ini Prima, kekasihnya, yang ia percaya bahwa Prima bertanggung jawab atas segala perbuatannya pada dirinya. Hanya Prima...


Diamnya Wida membuat gejolak birahi Prima memuncak. Ia seakan gelap mata tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya. Saat tangannya telah mencapai ketempat yang ingin disentuhnya, gairahnya mengalahkan akal sehatnya. Kembali ia menyusuri wajah Wida... pipi... bibir... leher...


'Praaang!'


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ruang makan yang ada di seberang ruang dimana Wida dan Prima berada...


Eko yang sedang asik memainkan gamenya, merasa tidak fokus. Beberapa kali ia kalah dalam pertandingan gamenya. Sepertinya ia merasa gelisah, karena ada Prima dan Wida diruang santai keluarganya. Pikirannya tak tenang karena meninggalkan dua sahabatnya yang sedang kasmaran itu disana. Walau ia tahu bagaimana pribadi Prima, ia tetap tidak percaya membiarkannya hanya berdua dengan Wida.


Setengah kesal ia melempar stik gamenya, menghempaskan guling yang ada di pangkuannya, lalu berdiri dengan cepat. Ia pun segera melangkah kearah pintu kamarnya. Berhenti sejenak, memikirkan apa yang akan ia lakukan sebagai alasan dirinya keluar dari kamar. Setelah menemukan alasan yang kuat, ia membuka pintu kamarnya dan keluar.


Tanpa bersuara ia berjalan menuju ke ruang makan. Ia akan mengambil air minum, sebagai alasannya keluar kamar. Sambil memegang gelas yang berisi air putih, ia berjalan perlahan ke arah ruang santai yang ada diseberang ruang makan. Walau ia bukan orang yang suka ikut campur dalam urusan asmara sahabatnya itu, namun entah mengapa ada rasa ingin tahu akan apa yang sedang dilakukan sobatnya itu.


Dengan ragu ia mengintip keruangan tempat dimana Wida dan Prima berada. Walau ia telah menduga apa yang akan ia lihat di tempat itu, tetap saja ia merasa terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Tampak olehnya Prima yang sedang mencumbu Wida. Merasa sedikit jengah ia kembali ke ruang makan. Entah mengapa ia merasa harus menghentikan kegiatan Prima. Dan tanpa pikir panjang, diraihnya mug stainless milik ayahnya yang ada di meja makan, lalu menjatuhkannya ke lantai...

__ADS_1


__ADS_2