
Wida benar-benar hanya terdiam. Jangankan bergerak, menatap mata Prima saja ia tidak berani. Tempat pensilnya yang terjatuh pun tidak berani ia ambil. Dan untuk menghilangkan rasa takutnya itu, tali tasnya yang jadi sasarannya. Diremas-remasnya tali tasnya agar tidak kelihatan betapa gugupnya ia.
Kalau hanya sekali ia melakukan kesalahan, mungkin ia tidak akan setakut ini. Tapi ini sepertinya sudah berulang kali ia menyakiti Prima, walau tanpa sengaja. Dan itu semua saat ia sedang bersama Soni. Waktu ke mall, naik taksi karena takut telat, dan hari ini... berboncengan motor dengan Soni kesekolah! Wajar sajalah kalau Prima marah padanya nanti.
Tapi saat Prima mengambilkan tempat pensilnya, dan kemudian menggenggam tangannya lembut, rasa takutnya agak berkurang sedikit. Ia pun tak ingin menarik tangannya dari genggaman Prima. Dan ia hanya bisa mengangguk saat Prima mulai bertanya padanya.
Tapi sepertinya Prima tidak puas dengan jawaban Wida yang hanya mengangguk.
"Lalu kenapa kau tak datang?" tanya Prima pura-pura tidak tahu kalau Soni menjemput Wida.
Wida menatap Prima "Aku..."
"Kau tidak mau aku jemput lagi?" potong Prima sambil menarik tangannya yang menggenggam tangan Wida, pura-pura marah.
"Bukan itu..." jawab Wida sambil meraih kembali tangan Prima yang tadi menggenggamnya, dengan reflek. Namun saat menyadari kelakuannya itu, ia pun segera melepaskannya dengan wajah tersipu malu. Prima yang melihatnya, diam-diam tersenyum geli.
__ADS_1
"Soni... tadi pagi datang menjemputku," kata Wida tak lama kemudian denga suara pelan.
"Dan kau lebih memilih dia daripada aku?" sela Prima dengan nada ketus.
"Bukan begitu... " Wida membela diri. "Aku sudah menolaknya, tapi ibu malah menyuruh aku ikut dengannya. Aku minta Soni lewat depan gang.. biar aku bisa ketemu kamu..eh.. dia malah pilih jalan memutar.." katanya menjelaskan.
Dan Prima pun kembali tersenyum saat mendengarkan penuturan Wida yang panjang lebar. Wida yang menyadarinya merasa kesal.
"Kok, kamu malah senyum gitu.." katanya, "kamu gak percaya, ya?" Wida merajuk.
"Percaya.." jawab Prima dengan senyum menggoda.
Prima menggeleng.
Wida tersenyum lega, "Maaf, ya.."
__ADS_1
"Iya..." Prima mengangguk, "aku suka kamu jujur, tapi jangan di ulangi lagi, ya."
Prima tiba-tiba berdiri, diraihnya tangan Wida, "Sudahlah..." katanya, "sekarang kita kekantin. Aku lapar!"
Soni yang sedang berada dipinggir lapangan bersama Eko dan Iwan, melihat Prima dan Wida yang berjalan berdampingan di lorong sekolah. Matanya menatap cemburu. Eko yang melihatnya menepuk pundak Soni.
"Sadar, Bro..." katanya, "jangan mengejar cewek yang sudah punya pacar. Apalagi pacarnya itu teman sendiri."
Tanpa menoleh, Soni menepis tangan Eko. Sepertinya ia tidak peduli dengan apa yang di katakan temannya itu. Ia pun akhirnya berjalan meninggalkan lapangan di iringi pandangan Eko dan Iwan.
Suasana kantin tampak ramai. Wida dan Prima mencari bangku yang masih kosong. Tampak di pojokkan kantin masih ada untuk dua orang. Prima menarik tangan Wida untuk segera ke bangku itu sebelum di dahului yang lain. Ternyata tidak jauh dari tempat duduk itu, Nina dan gengnya juga ada disana. Dan mereka melihat kedatangan Prima dan Wida.
Prima yang melihat Nina langsung menyapa.
"Hai, Nin!" katanya sambil melambaikan tangannya. Nina membalasnya dengan senyuman. Wida yang juga melihat kearah Nina tersenyum canggung, ia hanya melambaikan tangannya saja.
__ADS_1
"Kau duduk saja dulu, biar aku yang pesan," kata Prima pada Wida, "somay, kan?"
Wida mengangguk pelan. Dan Prima pun beranjak pergi meninggalkan Wida, yang merasa seakan-akan berada di sarang penyamun. Bagaimana tidak, trio cewek yang berada dihadapannya, sedang menatap dirinya dengan tatapan seakan-akan ingin menelanjanginya.