
"Pagi, cantik..." sapa Bude Lastri saat melihat Wida memasuki ruang makan. Wida yang disapa hanya tersenyum manis dengan wajah yang merona. Bagaimana tidak, pagi ini hampir semua keluarga Mas Danu berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi, kecuali Mas Arya kakak pertama Mas Danu yang memang sudah berkeluarga.
Pagi ini Wida memang terlihat cantik, dengan balutan sweater pink kesukaannya yang di padukan dengan jeans biru muda. Ia tampak bersinar pagi itu diantara keluarga Mas Danu.
"Wah...! Ternyata Dek Wida sudah dewasa, ya.." seru Mas Dika kakak kedua Mas Danu saat Wida duduk di kursi makan. "Lama tidak bertemu, tahu-tahu sudah sebesar dan secantik ini. Hati-hati... Nanti Mas Danu-mu bisa kepincut, loh."
Serempak Pakde dan Bude Wida tertawa menanggapi gurauan Mas Dika, sedangkan Mas Danu hanya tersenyum malu.
"Loh... tidak apa-apa kan, Bu? Lagian si Danu juga masih jomblo.." kata Mas Dika disela tawanya.
"Sudah-sudah...jangan menggoda terus. Lihat, wajah Wida sudah memerah begitu, nanti dia tidak berselera untuk sarapan," Bude Lastri menengahi gurauan Mas Dika. "Ayo Wida, makanlah, jangan kau dengar omongan Mas Dika-mu itu.."
Wida yang terlihat malu dengan gurauan pagi itu, memulai sarapannya dengan perasaan yang tak nyaman. Sedangkan Mas Danu hanya terdiam, sambil sesekali ia melirik ke arah Wida..
***
Nina mematut-matut dirinya di depan cermin. Di cobanya berbagai baju untuk mendapatkan penampilan yang terbaik hari ini. Setelah berganti berkali-kali akhirnya didapatinya pakaian yang dirasa cocok untuk kulitnya yang putih.
Hari ini entah mengapa hatinya terasa gembira. Apakah karena ia telah berbincang-bincang semalam dengan Prima..? Yah..semalam adalah perbincangan mereka yang cukup lama dan akrab setelah sekian lama...setelah Wida hadir di antara mereka. Namun kini, karena Wida pula ia dapat dekat kembali dengan Prima. Dengan janjinya untuk mencari tahu kabar tentang Wida. Tidak apa-apa ia mengalah sekali ini saja. Dengan berpura-pura mendukung hubungan Prima dan Wida, asalkan ia bisa dekat kembali dengan Prima.
Setelah dirasa penampilannya cukup cantik, Nina segera keluar dari kamar. Ia ingin berangkat bareng Prima hari ini. Ia tahu kalau Prima ada jadwal kuliah pagi. Saat menuruni anak tangga ia sudah melihat Prima yang tengah mengenakan sepatunya di ruang tamu.
__ADS_1
"Kalian tidak sarapan dulu?" tanya Tante Ana saat Nina melewati ruang makan dan langsung ke ruang tamu.
"Tidak, Tante. Kami ada kuliah pagi hari ini," jawab Nina sopan.
"Oh...begitu. Tapi nanti kalian jangan sampai lupa makan, ya," ujar Tante Ana lalu melanjutkan sarapannya dengan suaminya.
"Aku ikut kamu ya, Prim, soalnya aku juga harus datang pagi-pagi sekali hari ini. Ada beberapa tugas yang mau aku serahkan," pinta Nina pada Prima, setelah berdiri di dekatnya.
Prima hanya melihat sekilas ke arah Nina, lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Setelah sepatunya terikat rapi, Prima pun berdiri. Disambarnya tas ranselnya yang tergelatak di sofa.
"Om... Tante... Aku berangkat dulu.." pamitnya, sambil berjalan keluar rumah, diiringi Nina yang tersenyum manis.
Suasana canggung terjadi di antara mereka, senda gurau yang biasa mereka lakukan di masa lalu, tidak bisa mereka lakukan lagi sekarang. Karena rasa persahabatan mereka telah berubah bila salah satu telah menaruh hati.
"Aku akan menghubungi Sifa hari," Nina mencoba membuka percakapan. "Aku akan meminta tolong padanya, untuk mencari tahu keadaan Wida."
Prima menoleh sekilas ke arah Nina. "Terima kasih," katanya pelan. "Apakah tidak akan merepotkan dia? Bukankah kalian dulu tidak menyukainya?"
"Itu kan dulu... Lagi pula Sifa pasti akan melakukannya diam-diam. Ia bisa bertanya pada orang yang dekat dengan Wida," dalih Nina. Diliriknya Prima yang fokus menyetir. Sungguh... Kalau bukan untuk bisa dekat kembali denganmu, aku takkan mau melakukan ini! Batin Nina. Yah, untuk apa ia mencari kabar tentang Wida? Bukankah lebih baik dia menguap dari kehidupan Prima?
Mobil pun masuk ke parkiran kampus. Setelah mobil terparkir, Prima dan Nina keluar dari mobil bersamaan.
__ADS_1
"Aku akan langsung ke kelas," kata Prima sambil memakai ranselnya di punggung.
"Iyah..Aku juga mau langsung keruangan dosen. Aku benar-benar harus menyerahkan tugasku pagi ini," kata Nina menimpali.
"Oke... Baiklah kalau begitu.. Daah," ucap Prima sambil melambaikan tangannya. Dan ia pun pergi meninggalkan Nina yang masih merapikan bawaannya.
Nina mendengus kesal begitu Prima meninggalkannya. Sebenarnya ia tidak ada kuliah pagi atau mengantarkan tugas ke dosen. Itu hanya akal-akalannya saja, agar ia bisa berangkat bersama Prima. Bisa berbicara dengan Prima, walau hanya sekedar basa-basi.
"Hhaaah..." desahnya pelan. Apa yang harus ia lakukan pagi-pagi begini di kampus? Dilihatnya jam tangan mungil yang bertengger ditangannya. Jam delapan seperempat, yah, masih pagi... Bahkan ia melewatkan sarapannya tadi. Lebih baik aku ke kantin, batinnya. Dan dengan hati yang galau, Nina melangkahkan kakinya.
Kantin masih terlihat sepi. Aktivitas para penjual pun belum terlihat, mungkin masih sibuk dengan menu yang akan mereka jual nanti. Karena masih belum ada masakan yang matang, Nina terpaksa memesan mie rebus dan teh hangat.
Di makannya mie yang ia pesan tanpa selera, dengan sesekali menyeruput teh hangatnya. Tatapan matanya terlihat hampa. Karena pikirannya menerawang pada janji yang ia ucapkan pada Prima. Wida, gadis yang tak penting dalam hidupnya, namun penting bagi orang yang ia cintai. Andai saja ia lebih dulu mengungkapkan perasaannya sebelum Wida hadir..
Dengan hati yang sedikit sesak, Nina melemparkan pandangannya ke luar kantin, untuk mencoba menyegarkan pikirannya. Kini matahari sudah meninggi, dan para mahasiswa pun sudah berkeliaran di sekitar kampus. Setengah melamun ia memandangi aktivitas pagi itu. Tanpa sengaja ia fokus ke satu titik, ke sosok seorang gadis yang postur tubuhnya mirip seperti seseorang yang ia kenali... Bahkan ia benci...
Wida?! Pekiknya dalam hati. Kini ia lebih memfokuskan pandangannya, ditingkatkannya kesadarannya dari lamunannya. Namun sosok itu telah hilang, karena terhalang oleh orang-orang yang berseliweran di sekitar tempat itu. Apakah benar itu dia? Batinnya. Masa iya Wida ada disini?
"Aaaah..." desahnya lagi. Ada apa ini? Masa iya sudah berhalusinasi pagi ini...? Pikirnya. Gila! Tentang Wida lagi! Apa karena ia terlalu memikirkannya?
Nina menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap bayangan Wida lenyap dari pikirannya... Dan ia pun berharap ini hanya ilusi yang tak akan menjadi nyata...
__ADS_1