Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCIII : Kau Mulai Mengawasiku...?


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta Prima tidak langsung pergi ke rumahnya atau ke rumah Wida. Karena bila ia ke rumahnya itu sama saja ia bunuh diri, karena akan menghadapi mamihnya yang pasti heboh bila ia tahu alasannya kembali pulang. Dan bila ia ke rumah Wida, mungkin ia tidak akan diterima oleh ibunya Wida, karena hari sudah agak malam.


Dan di sinilah ia akhirnya berada. Di depan rumah sahabatnya, yang paling bisa mengerti dan menerima dirinya. Diambilnya ponselnya dari saku celana levis birunya, dan dengan cepat, ia segera menghubungi sahabatnya itu.


"Ko... Aku ada di depan rumahmu.." katanya setelah mendengar suara Eko yang menjawab panggilannya dengan suara kantuknya.


Eko yang memang terbangun karena suara dering ponselnya, langsung membelalakkan matanya.


"Apa?" katanya setengah tak percaya. Dengan tergesa akhirnya ia terbangun dan turun dari tempat tidurnya. Ada apa lagi ini? Batinnya, sambil menatap ponselnya yang telah terputus. Setelah mendesah pelan, akhirnya Eko melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


Dengan hati yang bertanya-tanya, mengapa sahabatnya itu bisa sampai ada di depan rumahnya, Eko membuka pintu pagarnya. Setelah terbuka, tampak olehnya sosok sahabatnya yang terlihat lelah dengan seulas senyum di bibirnya.


"Maaf... aku merepotkanmu... lagi.." katanya pelan. Dan tanpa di suruh oleh tuan rumah, Prima langsung masuk meninggalkan Eko yang kebingungan.


Setelah menutup pintu pagar rumahnya, Eko mengejar sahabatnya itu.


"Ada apa lagi ini?" tanyanya setelah mensejajari langkah Prima. "Kenapa kau tiba-tiba datang? Baru juga dua hari kau di Jogja, kenapa tiba-tiba kau kembali ke Jakarta? Kerumahku pula! Kenapa tidak kerumahmu?"


"Kenapa? Apa aku tidak boleh kerumahmu?" tanya Prima santai. "Aku kangen padamu..." kata Prima lagi sambil tersenyum jail.


"Jangan bercanda!" kata Eko kesal, karena Prima menanggapi pertanyaannya dengan candaan.


Prima yang memang sedang terlihat lelah, segera menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu mereka tiba di ruang tamu. ******* nafasnya yang panjang, seakan sedang membuang rasa lelahnya karena perjalanannya yang menyita tenaga dan pikirannya. Disandarkannya tubuhnya disandaran sofa, lalu di pejamkannya matanya.


Eko yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya, lalu ikut duduk di sofa yang ada di sebelah tempat Prima duduk.


"Aku serius..! Kenapa kau kemari?" tanyanya penasaran karena merasa belum mendapat jawaban dari Prima.


Prima membuka matanya, di tatapnya sahabatnya yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Jujur saja... aku juga tidak tahu kenapa aku kemari.." katanya dengan suara pelan. "Entah aku kesal karena Nina, atau kesal karena Soni.."


"Soni?" tanya Eko terkejut sambil mengerutkan alisnya. "Kenapa Soni? Kau di Jogja... Soni di Jakarta... kenapa bisa karena Soni?"


Prima mengubah posisi duduknya, kini ia mulai tampak serius.


"Apa kau tahu, kalau Soni sedang berusaha untuk kembali mendekati Wida?" tanyanya dengan nada suara yang tertahan karena kesal.


"Mendekati bagaimana?"


"Nina mengirimi aku gambar foto-foto saat Wida bersama Soni.." kata Prima sambil menyerahkan ponselnya ke Eko.


Eko menerima ponsel Prima, dimana sudah ada gambar Wida dan Soni disana. Di gesernya layar ponsel untuk melihat gambar-gambar yang lain, yang hampir semuanya memperlihatkan ke akraban Wida dan Soni.


"Bagaimana Nina bisa memiliki foto-foto ini? Bukankah ia ada bersama denganmu di Jogja?" tanya Eko bingung.


Prima tersenyum sinis mendengar pertanyaan Eko.

__ADS_1


"Kau tahu kan, antek-anteknya Nina? Dan betapa mereka selalu menuruti perintah Nina?"


"Iya... tapi.. foto-foto ini.. kapan kejadiannya?" Eko masih merasa bingung.


"Sehari setelah kepergianku..." kata Prima datar, "sepertinya Nina mendengar pembicaraanku dengan Wida, saat aku meneleponnya. Dan tanpa sengaja aku mengetahui, kalau Soni mengajak Wida jalan, dengan alasan melihat-lihat kampus. Mungkin saat itu, Nina yang mendengarnya, langsung menghubungi sahabatnya untuk mengikuti Wida."


"Wow!" Eko berseru setelah mendengar cerita Prima, seakan tak percaya ada kejadian yang seperti itu.


"Hebat sekali si Nina itu! Bisa gerak cepat padahal ia ada di Jogja!"


"Makanya aku kemari... untuk mendengar langsung dari Wida, apa benar mereka semesra di foto-foto itu.."


"Tapi Asti tidak cerita apa-apa padaku. Biasanya kalau ada sesuatu mengenai Wida, ia langsung cerita.."


"Mungkin Asti tidak tahu," kata Prima pelan.


"Lalu ibumu... Apakah ibumu tahu kau kembali ke Jakarta?"


"Entahlah... kita lihat saja nanti. Bila Nina memberitahunya, ia pasti meneleponku..." kata Prima sambil menatap Eko. "Yang penting sekarang, kau coba bujuk Asti, agar ia bisa membawa Wida kemari..."


***


Dan kini Wida sudah berdiri dihadapannya. Menatap tak percaya pada dirinya yang sedang berdiri tegak menunggunya.


"Prima.." desis gadis itu tertahan karena terkejut. "Mengapa kau ada disini?"


"Hai..." sapanya pada Wida pelan. "Aku rindu padamu.."


Wida terdiam. Ia masih tidak percaya kalau kekasihnya yang berdiri disana. Ia menoleh ke arah Asti yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ada apa ini?" tanyanya pada Asti.


Asti yang akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Wida langsung menutupnya kembali, karena Eko menarik tangannya.


"Biar Prima yang menjelaskan, kita tidak usah ikut campur..." kata Eko pada Asti. Lalu ia menarik pacarnya itu untuk meninggalkan Prima dan Wida pergi ke ruangan lain di rumah itu.


Sepeninggal Eko dan Asti, Wida kembali menatap Prima. Dalam tatapannya ia meminta penjelasan dari Prima mengapa ia ada disini.


Tanpa mempedulikan tatapan Wida, Prima dengan langkah perlahan mendekati Wida. Begitu berada di hadapannya, ditatapnya kekasihnya itu dengan lembut. Lalu dengan perlahan di raihnya tubuh Wida, untuk masuk kedalam pelukkannya. Dan tubuh mungil itu pun tampak tenggelam dalam pelukkan Prima. Aroma wangi rambut Wida yang menusuk hidungnya, seakan mengikis kerinduannya yang terpendam.


Wida yang masih belum bicara, hanya terdiam dan membiarkan Prima memeluk tubuhnya. Namun di dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa Prima kembali. Dan sesaat nafasnya tertahan, saat ia menyadari kemungkinan Prima kembali ke Jakarta. Apakah karena Soni? Batinnya resah.


Cukup lama Prima memeluk tubuh Wida, sampai akhirnya ia melepaskan tubuh Wida, saat ia menyadari tidak adanya respon dari kekasihnya itu.


"Kenapa?" tanyanya pelan. "Apa kau tidak merindukan aku?"


Wida menatap Prima dalam. Kedua tangan Prima yang bertengger di bahunya terasa hangat, hingga ia tidak mampu untuk menepisnya.

__ADS_1


"Kenapa kau kembali?" tanyanya lirih. "Apa... apa karena Soni?"


Prima terdiam. Ia melipat bibirnya karena pertanyaan Wida yang tanpa basa-basi tepat sasaran. Perlahan kedua tangannya turun dari bahu Wida.


"Sepertinya kau tahu, alasanku kembali..." Prima menjawab pelan.


Wida memicingkan matanya.


"Jadi benar, karena itu?" tanyanya tak percaya. "Kau.. jauh-jauh kembali hanya karena Soni? Bukankah aku sudah bilang kalau kami hanya melihat-lihat kampus? Kau tidak mempercayai aku?"


Prima terdiam. Ia merasa bersalah karena tidak mempercayai Wida. Tapi bagaimana dengan foto-foto itu? Bagaimana ia bisa bertahan untuk percaya, jika melihat itu? Hhhh... desahnya pelan. Ia membalikkan badannya dan berjalan kembali kearah meja tamu. Diambilnya ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sambil kembali duduk di sofa ia mengacungkan ponselnya ke arah Wida.


"Tapi yang aku lihat di sini bukan hanya sekedar melihat kampus.."


Wida yang tidak mengerti maksud Prima merasa kebingungan.


"Apa maksudmu?" tanyanya sambil menghampiri Prima.


"Kau lihat sendiri..." kata Prima sambil menyerahkan ponselnya pada Wida.


Wida meraih ponsel itu. Ponsel Prima yang tidak terkunci, langsung memperlihatkan foto dirinya dan Soni begitu ia membukanya. Matanya langsung membelalak lebar saat melihat gambar dirinya dan Soni terpampang di layar ponsel. Dengan jari bergetar karena gugup, ia menggeser gambar-gambar yang ada di ponsel itu.


"Apa ini?" tanyanya gugup. "Apa... apa kau mengawasi aku?"


Prima terkejut dengan pertanyaan Wida. Ia tidak menduga kalau Wida akan berkata seperti itu.


"Bukan... Bukan begitu..." Prima ikut terbata, "bukan aku..."


"Bukan bagaimana?" tanya Wida tertahan karena emosinya yang mulai timbul.


"Mengapa ada foto-foto seperti ini di ponselmu? Kau.. kau memata-matai aku?" suara Wida mulai terisak. Sepertinya ia akan menangis.


Prima yang melihatnya mulai panik. Dengan cepat ia kembali berdiri menghampiri Wida.


"Bukan begitu... Bukan itu maksudku.." kata Prima menenangkan. "Kau duduklah dulu.. nanti aku jelaskan.."


Prima membimbing Wida untuk duduk di sofa. Dan Wida yang mulai menangis karena perasaannya yang tersinggung menurutinya. Prima kemudian duduk disebelah Wida. Diambilnya ponselnya yang masih di pegang Wida, dan di letakkannya di meja. Kemudian di genggamnya tangan Wida.


"Aku tidak mengawasimu atau memata-mataimu..." katanya meyakinkan Wida.


"Tapi foto-foto itu... kenapa bisa ada diponselmu?" kata Wida yang masih terisak sambil menyeka air matanya. "Kalau bukan mengawasi aku, apa lagi?" Dan Wida pun menangis.


"Kau... Kau tidak percaya padaku..." katanya lagi disela tangisnya.


Prima yang tidak menyangka kalau Wida akan se emosi ini, tampak bingung untuk memulai penjelasannya. Dirangkulnya bahu Wida untuk menenangkannya.


"Aku...."

__ADS_1


Belum selesai Prima berbicara tiba-tiba ponsel Prima bergetar, dan nada dering pun berbunyi. Terpampang dilayar yang menyala kata ' Mamih' yang sedang melakukan panggilan....


__ADS_2