Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXCVII : Ia Tetap Di Sini...


__ADS_3

Nina memandang punggung Prima yang mulai menjauh dari meja makan. Hatinya terasa terbakar saat Prima lagi-lagi menyebut nama Wida di setiap ia menerima teleponnya. Rasa kesal dan cemburu bercampur menjadi satu di hatinya. Dan sepertinya, rasa benci pada Wida pun semakin bertambah. Bagaimana tidak... bukannya semakin renggang hubungan mereka karena jarak yang memisahkan, ini malah terlihat semakin... mesra!


Hhhh... desahnya tanpa sadar dengan mata yang menatap kesal pada Prima yang semakin menjauh. Dan ia pun tidak menyadari, bahwa ada dua pasang mata yang melihat kekesalannya yang terpancar jelas di wajahnya itu.


"Kenapa, Nina?" tanya tante Ana, istri om Januar dengan lembut. "Apa masakan tante tidak enak?"


Nina yang terkejut karena teguran tante Ana, segera mengalihkan pandangannya dari Prima. Dengan gugup di pandangnya pasangan suami istri itu bergantian. Ia baru menyadari bahwa ada orang lain selain dia, di meja makan itu.


"Ah...ti..tidak. Masakan tante enak, kok.." jawab Nina terbata dan segera melanjutkan makannya.


Om Januar yang melihat kegugupan Nina, hanya saling pandang saja dengan istrinya sambil mengangkat bahunya. Sepertinya ia hanya menganggap hal itu hanya biasa saja. Dan tanpa berbicara apa-apa lagi mereka juga melanjutkan sarapannya.


Prima yang sudah menjauh dari ruang makan, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajahnya yang tadi ceria saat menerima telepon, mendadak berubah tegang. Senyumnya yang lebar pun menghilang. Kini terlihat ada kecemasan di wajahnya.


"Wida... Apa yang barusan Ibumu katakan?" tanyanya tegas. "Apa aku tidak salah dengar? Tadi sepertinya Ibumu menyebut nama Soni.."


Lama suara Wida tidak terdengar di ponsel Prima. Dan Prima hanya diam menunggu Wida untuk menjawab pertanyaannya.


"Iya...." jawab Wida akhirnya setelah lama terdiam. "Soni mengajakku untuk melihat-lihat kampus hari ini.."


Rahang Prima tampak mengeras. Hatinya yang tadi berbunga kini terasa berduri. Ia tidak menyangka kalau Soni akan bertindak secepat itu dalam mendekati Wida. Baru juga sehari kepergiannya dari sisi Wida, ia sudah siap untuk menikungnya.


Wida yang terduduk di pinggir tempat tidurnya, tampak menegang. Ia menunggu Prima untuk mengomentari perkataannya. Hatinya yang resah menduga-duga, apakah Prima marah padanya. Matanya menatap ke arah pintu dengan kesal.Huh! Batinnya kesal. Kenapa sih ibu pakai acara nongol segala dan ngoceh-ngoceh tentang Soni? Bikin kesal saja!

__ADS_1


"Prima?" katanya memanggil Prima, karena kekasihnya itu tak kunjung bersuara. "Apakah kau marah?"


Wida menunggu jawaban Prima.


"Tidak.." akhirnya Prima pun menjawab. Entah mengapa Wida merasa ada nada kesal dari suara Prima.


"Kalau kau tidak mengijinkan aku jalan dengan Soni...aku tidak akan pergi.." Wida berusaha menenangkan hati Prima, yang di duganya sedang kesal.


Prima yang masih berdiri diruang tamu, tampak tertunduk. Pikirannya sedang menimbang-nimbang apakah ia akan mengijinkannya atau tidak. Tapi sepertinya tidak etis kalau ia tidak mengijinkannya, pikirnya. Terlihat benar cemburu dan egoisnya dia, jika ia melakukannya. Toh, ia sendiri disini juga bersama Nina, dan Wida dapat menerimanya dan percaya padanya. Jadi, sepertinya ia juga harus mempercayai Wida.


"Pergilah. Aku tidak apa.. Itukan untuk kebaikanmu juga. Masa aku kuliah kau tidak..." katanya mengijinkan, walau terasa berat di hatinya. "Jangan ketempat lain. Kalau bisa langsung pulang... kau bukannya ingin berkencan dengan Soni, kan?"


"Tentu saja tidak! Masa aku berkencan dengannya?" terdengar nada panik dari suara Wida saat Prima menduganya.


Prima tersenyum mendengarnya.


Nina yang menyusul Prima keruang tamu setelah sarapan, sepertinya mendengar percakapan sepasang kekasih itu. Ia mendengar Prima yang menyebut nama Soni dipercakapan itu. Bibirnya tersenyum kecil. Sepertinya Soni kembali menyusup diantara mereka berdua, pikirnya. Bagus... Ia harus memanfaatkan situasi ini..


Prima yang masih galau, membalikkan tubuhnya untuk kembali kekamarnya. Ia agak sedikit terkejut saat mendapati Nina yang sedang berdiri di belakangnya.


"Kau sedang apa?" tanyanya sedikit ketus. "Apa kau sedang menguping pembicaraan kami?"


Nina tersenyum. Sepertinya ia tidak peduli dengan sikap Prima yang jutek itu. Ia yang sudah lama mengenal Prima, sudah terbiasa dengan sikap dan temperamen Prima yang mudah emosi bila ada sesuatu yang tidak berkenan dihatinya. Dan biasanya bila Prima sedang seperti itu, mudah sekali untuk di pengaruhi.

__ADS_1


"Mengapa aku harus menguping?" jawabnya santai. "Aku rasa Om dan Tantemu juga bisa mendengar jika ia masih berada di meja makan.."


Prima melirik sekilas ke arah meja makan yang sekarang sudah kosong, seakan takut bila perkataan Nina benar.


"Tenang... mereka sudah pergi sejak tadi," kata Nina seakan bisa membaca pikiran Prima. "Kau tidak perlu ketus begitu padaku. Kau tahu? Aku sedih dengan sikapmu padaku sejak kau berpacaran dengan Wida. Dulu kau baik padaku, memanjakanku dan menyayangiku. Tapi sekarang... kau seperti jijik padaku. Apakah kau kini benar-benar sudah membenciku?"


Prima terdiam. Ia menyadari kalau sikapnya pada Nina selama ini benar-benar telah berubah. Yah... dulu Nina selalu ada disisinya. Dari TK sampai SMP, ia selalu mengikuti langkahnya. Menggelayutinya sesuka hatinya. Ia tidak pernah mempermasalahkan bila Nina mengatakan pada siapa saja bila ia adalah pacarnya, apalagi bila Nina mengatakannya di depan cewek-cewek yang mengejarnya. Ia tahu alasannya mengatakan itu adalah untuk mengusir mereka.


Tapi setelah ia mengenal Wida, menyukainya, bahkan jatuh cinta padanya, perlahan ia mulai menghindari Nina. Mulai menjaga jarak dengannya, menolak bila Nina menyentuhnya, apalagi bila Wida sedang ada di dekatnya. Bahkan ia juga bisa marah bila Nina menyakiti Wida walau hanya dengan kata-kata. Kini dunianya hanyalah Wida, ia tidak ingin bila ada orang lain saat ia bersama Wida. Tidak siapapun... bahkan Nina yang sudah bagaikan bayang-bayangnya.


"Maafkan aku..." kata Prima pelan, setelah menenangkan hatinya yang sempat emosi. "Maafkan perubahan sikapku... aku hanya tidak ingin Wida salah paham. Aku hanya tidak ingin menyakiti hati Wida..."


"Kenapa Wida harus salah paham?" Nina mulai menghasut. "Mengapa juga ia harus sakit hati? Toh, seharusnya ia tahu, aku kan memang selalu ada disisimu sebelum ada dia. Aku kan teman dekatmu... bahkan lebih dari sahabat!"


"Iya... itu sebelum hatimu berubah padaku," dalih Prima. "Siapapun bisa melihat kalau kau mulai menyukaiku lebih dari itu. Bahkan kau berselisih dengan Wida. Bukan itu saja, kau bahkan melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku dan membuat aku marah.." kata Prima seakan melampiaskan emosinya.


"Itu sebabnya kau mulai membenciku?"


"Aku tidak membencimu... hanya saja.. aku tidak menyukai apa yang telah kau lakukan selama ini terhadap Wida..." Prima mengelak. "Sudahlah, kita sudah membahas masalah ini berulang kali. Pokoknya aku hanya tidak ingin Wida terluka, aku ingin menjaga perasaannya."


Prima beranjak meninggalkan ruang tamu. Namun saat ia melewati Nina, dengan cepat Nina menarik lengannya.


"Tapi Wida tidak ada disini.." kata Nina setelah Prima tertahan. "Setidaknya, kau bisa bersikap lunak padaku. Biar bagaimana pun, pertemanan kita terjalin bukan dalam waktu yang singkat..."

__ADS_1


Prima yang kini berdiri di samping Nina, terdengar menghela napas. Pandangan matanya yang datar saat menatap Nina, seolah memberi kesan tak peduli.


"Baiklah. Aku akan coba menerimamu lagi. Tapi ingat... tetap ada batasannya. Walau Wida tidak ada di sini... tapi ia selalu ada di 'sini'..." kata Prima tegas sambil menepuk dadanya, dimana hatinya terletak...


__ADS_2