Romansa SMA

Romansa SMA
6. Memberi peringatan.


__ADS_3

Setelah pintu toilet berhasil di dobrak, Mata Keenan, Rino dan Sam terbelalak melihat kondisi Laura yang mengenaskan sedang terduduk di lantai toilet, kepalanya menengadah ke atas bersandar pada tembok sudut ruangan.


Terdengar rintihan keluar dari mulut Laura, tangan kanannya terlihat sedang meremas dada sebelah kirinya, matanya terpejam tapi air mata terus mengalir membanjiri pipinya seolah menahan sakit yang amat dalam. Keenan sungguh sangat panik melihat wajah Laura begitu pucat seolah tak di aliri darah.


Keenan seketika langsung berlari ke arah Laura, diikuti oleh Rino dan Sam. Keenan berjongkok di samping Laura dengan satu lutut di tekuk dan satu lutut lainya menopang di lantai.


"Laura, Lo kenapa! siapa yang ngelakuin ini?" Tanya Keenan penuh kekhawatiran bercampur emosi seolah tak terima dengan apa yang sedang terjadi kepada Laura.


"Iya, Ra! siapa yang tega ngelakuin ini ke elo?" Timpal Rino dengan nada yang sama khawatirnya dengan Keenan. Sam yang biasanya suka nyerocos asal kali ini hanya diam seribu bahasa tak tega melihat Laura seperti itu.


Mendengar itu Laura hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah, dengan nafas berat dan terputus-putus tangan Laura tiba-tiba menggenggam erat lengan Keenan.


Mata sendu Laura perlahan terbuka dengan berat menatap lemah manik mata Keenan dengan air mata yang terus membanjir. Dengan suara lirih, sangat lirih bahkan hampir tak tersengar dia berkata.


"Tolong, sakit sekali." Ucap Laura dengan masih meremas kuat dada sebelah kirinya.


Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba tubuh Laura terkulai, dia seketika pingsan tak sadarkan diri dalam dekapan Keenan.


Wajah Keenan pun berubah semakin panik. "Laura, Laura!... bangun Laura!" Berkali-kali Keenan berteriak memanggil Laura dan menepuk-nepuk pipi Laura agar dia bisa tersadar tapi tetap saja Laura tidak membuka matanya.


Keenan langsung buru-buru mengangkat tubuh mungil Laura dan segera membawanya ke ruang UKS dan membaringkan tubuh lemas Laura dengan hati-hati.


Lalu dengan sigap Keenan meraih ponsel yang ada di saku celana segera menelpon dokter Frans yang merupakan dokter pribadi keluarga Keenan untuk datang menemuinya di sekolah.


Lalu setelah mengakhiri sambungan dengan dokter Frans, Keenan pun terdiam beberapa detik lalu berbalik ke arah Sam dan Rino yang sedari tadi terus memantau pergerakanya.


"Sebaiknya lo berdua balik ke kelas gih, jam pelajaran udah di mulai dari tadi. Biar gw disini nemenin Laura." Perintah Keenan dengan nada dingin dan serius membuat dua temanya itu hanya bisa menurut dan berlalu meninggalkan ruang UKS dengan segera.

__ADS_1


Sam dan Rino tahu betul, klo saat ini Keenan dalam suasana hati yang kurang bagus, dan tidak bisa di ajak bercanda, sedikit saja merasa tidak senang, dia bisa membuat babak belur orang tanpa ampun.


Pernah suatu ketika saat Keenan sedang ada masalah dengan Ayahnya, Sam melontarkan candangan-candaan bermaksud untuk mencairkan suasana malah berakhir dengan bogem mentah di wajahnya.


Tak lama setelah Sam dan Rino pergi, dokter Frans pun datang dan langsung memeriksa keadaan Laura. Keenan pun menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Laura.


Dan dokter Frans pun menjelaskan Kepada Keenan secara mendetail bahwa Laura mengidap syndrom Claustrophobia, dan Keenan pun akhirnya mengerti kondisi yang di alami Laura saat ini.


"Jangan khawatir dia hanya syok saja, setelah sadar dia akan lebih baik, sebisa mungkin menghindari tempat-tempat sempit atau tertutup seorang diri, karena akan mamicu syndrom nya datang lagi." Ucap sang dokter memberi nasehat, Keenan pun mengangguk-anggukan kepala nya tanda bahwa dia mengerti.


Setelah selesai dengan urusanya, dokter Frans pun akhirnya pamit untuk pulang, Keenan pun mengiyakannya dan segera mengantarkan dokter Frans sampai keluar ruangan UKS.


Selepas kepergian sang dokter Keenan pun berbalik mendekati Laura yang masih belum sadar, dia menarik kursi untuk duduk dan mendekatkan tubuhnya ke samping ranjang tempat Laura terbaring.


Dengan perlahan dia meraih tangan Laura yang masih terkulai lemas dan menggenggam tangan mungil itu dengan kedua tangan Keenan yang besar, mencoba mengalirkan energi kepada Laura melalui tangannya. Dengan lembut Keenan menatap wajah Laura yang pucat walaupun begitu tidak memudarkan pancaran kecantikannya yang alami.


Semakin Keenan memikirkanya, Keenan merasa kepalanya semakin pusing, akhirnya diapun berusaha untuk masa bodoh dengan perubahan sikap nya terhadap Laura saat ini, dia hanya merasa jika di dekat Laura Keenan merasa nyaman dan tidak ingin jauh darinya.


Berita bahwa Keenan menyelamatkan Laura yang terkunci di toilet sudah menyebar dengan cepat ke semua murid tak terkecuali dengan Eva dan gengnya.


"APA! mana mungkin Keenan perduli sama cewe kampungan itu!" Sungut Eva dengan setengah berteriak, emosinya hampir meledak mendengar kabar yang sudah beredar.


Eva pun bergegas menemui Keenan menuju ruang UKS untuk memastikan semuanya. Saat sampai di depan ruang UKS tanpa mengetuk pintu atau permisi Eva langsung membuka pintu dengan kasar, Eva kaget matanya terbelalak mendapati Keenan sedang menggenggam erat tangan Laura.


Mendengar pintu yang tiba-tiba terbuka Keenan pun menoleh ke arah pintu dan menemukan Eva sedang berdiri di sana dingan raut muka yang sangat tidak enak di lihat.


Keenan pun berdecak dengan kesal. "Mengganggu saja." Gumam Keenan dalam hati. Dia pun melepas genggaman tangannya kepada Laura dengan hati-hati lalu bergegas keluar ruangan UKS dan Eva pun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Setelah sampai di sudut lorong sekolah yang tidak terlalu jauh dari ruangan UKS Keenan pun mengehentikan langkahnya, kedua tanganya di masukan ke dalam kantong celananya tapi dia tetap diam mematung tanpa mengatakan apa-apa.


Eva yang sedari tadi sudah tersulut emosinya tidak tahan lagi dengan sikap Keenan yang seolah tidak memperdulikanya.


"Keenan! apa-apaan ini! kenapa lo nolongin cewek kampungan itu?" Ucap Eva merasa tidak tenang dan penasaran dengan emosi yang sedikit di tahan, dia juga ada rasa sedikit takut melihat ekspresi Keenan yang sekarang.


Keenan pun berbalik menatap Eva dengan dingin dan berucap dengan datar.


"Bukan urusan lo." selesai mengucapkan itu Keenan pun berjalan ke arah Eva dan melewatinya begitu saja tanpa melihat Eva sama sekali.


merasa di acuhkan hati eva pun sangat kesal, keberanian Eva seketika bertambah, saat Keenan berjalan melewatinya dengan refleks Eva menarik satu lengan Keenan dengan kasar.


"Keenan! sebenarnya ada hubungan apa lo sama cewek murahan itu, hah!"


Keenan yang tanganya di tarik langkahnya terhenti sejenak, kepalanya menoleh menatap Eva dengan tatapan menusuk seolah dengan tatapan itu dia bisa membunuh orang dengan seketika.


"Lepasin tangan gw, gw paling benci sama orang asing yang nyentuh gw sembarangan."


Mendengar itu tangan Eva refleks melepaskan lengan Keenan.


Setelah mengucapkan kalimat peringatan, Keenan berbalik dan hendak kembali ke ruang UKS, baru maju dua langkah tiba-tiba Keenan menghentikan langkahnya lagi seolah lupa sesuatu dan membalikan badan lagi.


"Dan satu lagi, jangan berani macem-macem sama Laura, seujung rambut ajah lo nyentuh dia lagi, gw pastiin lo bakalan hancur."


Selain tatapan dingin, kata-kata Keenan pun tak ubahnya pisau yang bisa mengoyak jantung seseorang. Mendengar ucapan Keenan mata Eva berkedip-kedip dan tubuhnya bergetar hebat, kakinya lemas seketika sampai mundur beberapa langkah, sama sekali tak percaya Keenan bisa mengeluarkan Kata-kata seperti itu.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2