
# selamat membaca episode ini.
di sebuah kafe favoritnya Andra.
Dan sekarang pun telah menjadi kafe favoritnya Cindy juga. calon pengantin itu sedang menikmati kopi kesukaannya di senja hari. Cindy sengaja menunggu Andra pulang ngantor di kafe favoritnya untuk membahas tentang hari bahagia mereka nantinya. karena sebelumnya Andra sudah janji akan menemui Cindy di sini. Cindy mengetik kan sebuah pesan ke Andra.
Cindy
"mas aku udah di kafe nih"
Andra
"ok. mas ke situnya dua puluh menit lagi ya. kamu pesan aja dulu".
Cindy
"iya mas".
setelah memesan latte kesukaan nya, Cindy kembali beralih ke ponselnya dan berselancar di dunia maya dan hiburan.
Cindy berniat mengetikkan sebuah nama Merry dengan niat mencari kegiatan Merry selama berada di Italy. sekaligus ia akan meminta Merry pulang ke Indonesia untuk menemani nya di acara ijab kabul nya nanti.
seraya menyeruput Lattenya, Cindy mengetikkan sebuah huruf yang berawal dengan M. baru juga ia mengetikkan satu huruf tersebut, terteralah sebuah nama yang pernah terdengar namanya oleh Cindy karena sebuah skandal dengan seorang Ceo KBC dimana calon suaminya menjadi wakil dari cabang perusahaan itu.
"Midea Hasxander". desisnya seraya menatap layar ponselnya.
nama yang tertera paling atas di daftar laman sosialnya itu menarik perhatian Cindy . bukan karena skandal nya. karena Cindy sendiri pun tak mengenal wajah Midea dengan jelas selama ini.
tetapi setelah Cindy menscroll foto foto syur midea yang kesemuanya dengan tubuh yang menggunakan lingerie serta Underwear saja membuat Cindy mengernyitkan dahinya tatkala melihat wajah Midea dengan seksama.
Cindy begitu penasaran akan wajah Midea yang begitu mirip dengan seseorang yang ia kenal selama ini. Cindy mencoba menscreenshoot satu foto Midea yang terlihat natural meskipun rambut keriting dan kulitnya yang coklat terlihat kontras di kamera ponselnya.
Cindy memasukkan hasil screenshoot foto Midea ke dalam sebuah aplikasi yang biasa di mainkan oleh anak anak milenial sekarang. Cindy hanya mengubah warna kulit dan rambut dari seorang Midea ke bentuk seseorang yang ia kenal. yang saat ini ada dalam pikirannya.
tak butuh waktu lama untuk menjalankan aplikasi tersebut. hanya beberapa detik muncullah notifikasi dari hasil ubahannya.
"Jasmine?? ". Cindy terpekik pelan.
seperti itulah pandangan seorang Midea sekarang dalam ponselnya jika berpenampilan seperti temannya yang menghilang itu. ia menatap intens pada foto Midea yang telah di editnya.
__ADS_1
"ya tuhan. benar benar seperti Jasmine". bathin Cindy.
kriing...
sebuah panggilan masuk dari Andra menghentikan lamunannya. Cindy tersenyum. ia pun segera mengangkat telponnya.
"hallo mas. gimana? ". sapa Cindy penuh semangat.
"mas udah selesai ni. sekarang lagi on the way ya? ". sahut Andra dari seberang telponnya Cindy.
"iya mas. hati hati ya? ". sahut Cindy sumringah.
Cindy baru saja menutup telponnya. lalu netranya melihat sekilas ke arah sebrang jalan. dimana halte kenangan bagi seluruh alumni fakultas yang dekat dengan kafe ini masih berdiri tegak di sana.
Cindy memalingkan wajahnya kembali ke arah Halte yang berada tepat di hadapannya. netranya terpaku menatap seorang wanita berhijab yang terlihat muda bahkan seperti mahasiswa dalam busana casualnya.
"Jasmine". desisnya kaget.
antara percaya dan tidak pada apa yang di lihatnya. ia mengucek ngucek kedua ujung matanya untuk menjernihkan penglihatan nya. tetapi sosok makhluk itu tetap saja bertengger anggun seraya melihat ke arah satu jalan di mana biasanya sebuah bus mengarah dan berhenti di sana.
Cindy lalu berdiri dan berniat mendekati perempuan tersebut yang masih menunggu
Cindy hanya ingin memastikan penglihatan dan dugaannya. kali ini Cindy memang bertekad untuk menguak Misteri yang selama ini ia temui secara kebetulan. sudah cukup lama ia ingin memecahkan rasa penasaran
yang slama ini ia simpan diam diam.
tiba di ujung parkiran kafe. langkahnya semakin di percepat seiring bus kota yang semakin mendekat. ia segera melangkah untuk menyeberang ke jalan besar di mana lalu lintas semakin padat di jam segini, jam jam di mana masyarakat kota ingin cepat cepat kembali ke rumah untuk beristirahat.
tanpa Cindy sadari jika perbuatannya yang tergesa gesa dan terkesan sembrono itu akan membuat dirinya dan orang lain bisa celaka.
tiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn
suara klakson mobil dan kendaraan lain dari kejauhan mencoba mengingatkan Cindy agar jangan dulu menyebrang karena ini bukanlah waktu bagi pejalan kaki untuk menyebrang.
tetapi karena Cindy tidak mengindahkan peraturan lalu lintas. beberapa mobil melaju dalam kecepatan normal mengarah tepat ke tubuh Cindy dengan klakson yang berbunyi nyaring memekakkan telinga bagi yang mendengarnya.
Cindy yang mendengar klakson klakson yang berbunyi nyaring itu pun mengarahkan netranya ke arah mobil mobil yang masih melaju tersebut.
Cindy terhenyak kaget dan menyadari jika ia telah berbuat sembrono. tetapi ia hanya bisa bergeming pasrah saat sebuah mobil melaju ke arah dirinya. ia pun menutup matanya seperti sudah rela jika ia di hantam oleh mobil tersebut saat itu juga. akan tetapi...
__ADS_1
ciiiiiiiiiiiiiit...............
suara decitan ban yang beradu pada aspal seakan menandakan jika sang empunya mobil menekan lebih dalam dan lama rem mobil tersebut.
"woi. cari mati ya kau. dasar ga ngotak kau. sukak sukak ati kau nyebrang. dasar cewek gilak". maki seorang supir dari mobil tersebut.
"maaf kan kami ya bang. maaf kan kami ya".
"maaf ya buat semuanya. maaf.. maaf..maaf".
Cindy masih menutup rapat matanya. ia masih takut untuk membukanya. ia merasakan tubuhnya di peluk seseorang yang bertubuh kekar. telinganya mendengar jelas suara seorang pria meminta maaf kepada semua pengguna jalan yang melewati jalan itu.
tiiiiinnnn..tiinnnnnnn.. tinnnn
suara klakson masih terdengar riuh
"minggir woi. pasangan edan. pacaran di tengah jalan. ga malu kau ya". nyinyir seorang pengendara motor.
"iya bang maaf ya... maaf".
Cindy membuka matanya perlahan suara itu terdengar familiar di telinganya.
"mas Andra". pekik Cindy pelan.
Andra menatap Cindy dingin. lalu ia membawa Cindy ke pinggir jalan dimana mobil Andra terpakir di depan cafe yang di singgahi Cindy. Andra membuka pintu mobil dan menuntun Cindy untuk masuk ke mobilnya.
"tas aku mas". ujar Cindy pelan dan terselip rasa shock.
Andra kembali ke kafe untuk mengambil tas Cindy lalu segera berlalu dari situ. mengendarai mobilnya menuju apartemennya yang tak jauh dari kafe tersebut.
selama dalam perjalanan mereka saling diam. masing masing calon pengantin itu bergelut dengan pemikiran nya sendiri.
takut. itulah yang mereka rasakan saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dukungannya untuk novel ini. dengan memberikan like, vote, komen. dan share link nya ya readers..
terimakasih
__ADS_1