She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
sepenggal memory


__ADS_3

Setibanya di kediaman Satria.


kedatangan Alma, Dea dan Dean disambut hangat oleh pasutri muda tersebut.


"Hallo jagoan umi...akhirnya nyampek juga ke Mdn ya?". sapa Retha kepada Dean yang di gendong Arjun.


Retha berniat mengambil Dean dari gendongan Arjun. tetapi baru juga Retha mengulurkan kedua tangannya Dean langsung memalingkan wajahnya dan melingkarkan kedua tangannya memeluk leher Arjun.


"eh anak bunda.. jangan gitu sama umi. ga sopan sayang". tegur Dea lembut.


tetapi Dean tak perduli dan menggelengkan kepalanya.


"salam dulu ya sama uminya". Arjun berbisik lembut.


"auk". ucap Dean polos.


"auk? ". tanya Dea seraya mengernyitkan dahinya.


"bau ya nak? ". tanya Dea penasaran.


Dean mengangguk anggukkan kepalanya. sontak seluruh manusia dewasa yang mendengar ucapan Dean tertawa. sedangkan Retha mengendus bajunya yang memang berpeluh keringat dan bercampur asap dapur.


sementara Satria meraih lengan istrinya untuk mendekatinya dan mengendus ceruk leher istrinya itu.


"adek memang bau asem sayang". bisik Satria.


"iya tau. adek mandi dulu ya". sahut Retha merona.


"minuman dan cemilannya tolong abang suguhin dulu ya buat mereka". pesannya ke Satria.


"iya sayang". sahut Satria pelan.


lalu Retha pamit untuk masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya dan mandi. sementara Satria melayani tamu yang sudah di anggapnya keluarga. bahkan setelahnya Dean berada dalam Pangkuannya sesaat sebelum mereka di persilahkan beristirahat di paviliun.


...----------------...


Retha dan Satria menunjukkan paviliun yang berada di sisi kiri rumah mereka.


"kamu bisa tinggal disini Jasmine. memang tempatnya kecil. tapi ada ruang dapur kalau kamu pingin masak sendiri". Retha menjelaskan detail paviliun rumah mereka.


"untuk sementara tak apo tinggal disini dulu yo. nanti kalau awak sudah aktif kuliah. tante akan carikan rumah sewa yang lebih dekat ke kampus". ujar Alma.


"tempatnya cukup nyaman. aku coba dulu tinggal disini. makasih Tha". sahut Dea sembari tersenyum.

__ADS_1


"syukurlah kalau kamu suka". balas Retha yang juga ikut tersenyum.


"semoga kamu betah ya. nanti kalau kamu ke kampus. Deannya bisa titip sama aku". tawar Retha.


"makasih Tha. jadi ngerepotin kamu". sahut Dea.


"ahh enggak kok. aku kan memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dari pada di lab. maklum masih jadi asistennya ". sahut Retha seraya melirik sang suami.


sementara Satria melirik Retha seraya menaikkan satu alisnya. tetapi sang istri pura pura tak melihat jika ia di lirik sedemikian rupa oleh sang suami.


"ya semoga ke depannya bisa jadi penanggung jawab lab". doa Alma.


"Aamiin. makasih tante". balas Retha.


...----------------...


setelah mengajak Dea menjumpai Dekan fakultas di mana dulunya Jasmine berkuliah. Satria pun mengajak Dea memasuki ruang lab tempat dia mengajar Jasmine dan teman temannya.


"ini ruang lab di fakultas kita. jadi nanti kamu sama teman teman yang lain melakukan penelitian disini untuk mata kuliah praktikum". jelas Satria.


bunyi ponsel Satria menghentikan aktifitas nya mereka. Satria menerima telpon dari istrinya.


"bentar ya saya terima telpon dulu". pamitnya pada Dea.


Dea mengangguk seraya tersenyum simpul.


Midea memperhatikan setiap sudut ruangan lab tersebut. bahkan ia juga memperhatikan dengan seksama rak rak yang terdapat bahan kimia. tiba tiba sekilas ingatannya tergambar pada mini labnya di apartemen rahasianya, namun bercampur dengan ingatannya yang sekarang lalu berganti pada memori yang masih samar.


Midea menutup kelopak matanya lalu membukanya lagi. tiba tiba rak rak bahan kimia dari ruang lab ini bergerak cepat dan berputar putar di kepala Dea. ia merasa pusing bahkan mulai berdenyut nyeri. bahkan lintasan memori kembali muncul di kepalanya dan masih terlihat samar.


Midea begitu penasaran akan sepenggal memori tersebut. yang akhirnya Midea mencoba memaksakan untuk berfikir keras memunculkan kembali memori samar tersebut.


tetapi sesuatu yang di paksakan memang tak pernah berakhir dengan baik bukan. Dea di serang rasa nyeri yang luar biasa. seperti ada palu yang menghantam keras kepalanya berkali kali. Dea memeluk kepalanya dan menekan dengan kedua tangannya.


rasa nyeri menyerangnya dengan kuat, sehingga Dea tak mampu menahan rasa nyeri yang kini menderanya. akhirnya Midea berteriak dengan nada yang tertinggi.


"aaaaaaaaaaaaaaakhhhhh".


Satria terhenyak dan menatap Midea. dengan langkah cepat menghampiri Dea tetapi terlambat baginya. karena seketika itu juga


"baaaaaaaaam... pranggggg".


Dea menghantam kepalanya ke lemari stainless di mana sebagian tabung tabung reaksi yang terbuat dari kaca tersebut jatuh berserakan dan pecah seketika itu juga.

__ADS_1


"Jasmine". pekik Satria yang melihat kejadian mengerikan itu di depan matanya.


Dea jatuh dan pingsan dengan kening yang berlumuran darah.


"Jasmine". pekiknya lagi.


suara pecahan kaca dari tabung reaksi yang berserakan, membuat mahasiswa yang berada di sekitar ruang lab tersebut berlari untuk mencari tau apa yang terjadi.


baru juga mencapai pintu. para mahasiswa tersebut di kejutkan dengan pemandangan mengerikan dimana dosen mereka menggendong seorang perempuan dengan darah yang mengucur di kepalanya.


"minggir semua". teriak Satria seraya berjalan cepat ke arah klinik kampus.


para mahasiswa itu pun mengikuti Satria. setiba di klinik kampus Satria meminta mahasiswanya untuk menelpon ambulan rumah sakit segera.


di ruangan perawatan seorang dokter kampus memeriksa luka dan denyut nadi Dea. sementara Satria memasang selang infus dan menambatkan pada salah satu air infusan RL untuk mencegah dehidrasi.


Sementara para perawat kampus membersih kan luka Dea. setelahnya Dokter menjahit luka di kening Dea.


"pak ambulancenya datang". seorang mahasiswa memberitahu Satria.


tak lama kemudian para petugas dari rumah sakit masuk ke ruangan itu dan membawa Midea ke rumah sakit terdekat.


sementara Retha mencoba menelpon suaminya kembali. ia masih cemas memikirkan keadaan Dea.


...----------------...


Retha dan Alma tiba di rumah sakit. sementara Satria masih menunggu hasil pemeriksaan Dokter ahli yang menangani Dea.


"bang". panggil Retha saat melihat suaminya terduduk lesu di depan ruangan CT scan


Satria tersenyum kecil saat melihat kedatangan istri dan Tante Alma.


"bang. kenapa Jasmine? ". tanya Retha yang melihat kemeja suaminya yang bersimbah darah.


sementara Alma menangis seraya memeluk Dean yang teetidur. ia sudah tahu keadaan Jasminenya yang sebenarnya.


"ya Allah terjadi lagi". pekiknya pelan seraya terduduk lemas di bangku ruang tunggu tersebut.


Retha dan Satria menatap bingung ke Alma.


"terjadi apa tante? ". apa yang sebenarnya terjadi tante? ". tanya Retha seraya berjongkok di depan tante Alma.


"Jasmine. mencoba memaksakan dirinya mengingat sesuatu dari sepenggal memorynya yang terlintas". ucap Alma terisak.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


mohon dukungannya untuk novel ini dengan mberikan like, vote, komen, rate, fav dan poin


__ADS_2