
# selamat menikmati episode ini
"lu jangan juga jangan ikut ikutan gilak kayak Justin Ndra". omel Indra.
"kalian berdua buat gue pusing kepala aja?". lanjutnya.
"gue mana sanggup ngurusin tiga kantor sekaligus. mending kalian mikir mikir dulu deh. kalian lupa bagaimana perjuangan kita dulu membangun dua cabang ini". Indra mengulang kembali kenangan mereka.
"ga ada satu pun dari kita yang mengundur kan diri. semua tetap di posisinya masing masing. masalah siapa punya masalah. kita coba usahain bantu". ujarnya tegas.
Andra dan Justin hanya bisa terdiam mendengar omelan Indra yang di anggapnya seperti bapak atau pun papa mereka.
"kalian dengar gue ga?! ". tanya Indra tegas.
"cih. cem bapak aku aja kau ini". sahut Andra.
"biarin. kalau bukan gue yang nasehatin lu semua. siapa lagi? ".ucap Indra sedikit kesal.
"memberikan kekuasaan dan kepercayaan kepada orang lain itu susah Tin, Ndra. gue juga bukan semudah itu mempercayakan orang lain mengganti posisi lu Ndra. ngerti lu kan? ". lanjutnya kembali.
Justin dan Andra saling menghela nafasnya masing masing.
"jalani aja dulu prosesnya. kita akan rekrut karyawan yang memiliki potensi bagus dan jujur". saran Indra.
"oke?? ". lanjutnya.
"oke". sahut keduanya.
akhirnya perdebatan itu berakhir dengan rencananya Indra yang terlihat dewasa dan bijaksana sebagai pemimpin.
seminggu setelahnya
akhirnya Justin lega karna bisa membereskan semua pekerjaannya yang menumpuk. karena setelah ini Indralah yang akan menjalani perannya sebagai Ceo sementara di kantor pusat.
begitupun dengan Andra yang masih bertahan di KBC atas permintaan kedua temannya. dan Andra pun berusaha menjalankan amanah dari bapaknya sebagai Ceo dari perusahaan perkebunan Airlangga tersebut.
...----------------...
setahun kemudian....
di sebuah taman bermain di perumahan elit di kota Melbourne. seorang ayah dan putri kecilnya sedang bermain dan menikmati udara pagi minggu di kota tersebut.
"Keyra. wait for me dear". Justin mengejar putrinya yang kini berusia dua tahun tersebut.
"come on Daddy. catch me catch me". ucap Keyra yang masih cadel seraya melambai lambaikan tangannya.
"I am coming dear". Justin pun setengah berlari mengejar putrinya yang sengaja menghindari Justin.
"hah. I catch you. hahahaha". Justin pun berhasil menangkap putrinya dan menggendongnya lalu menggelitik perutnya dengan dagunya.
"hahahaha. Daddy stop it. stop it. I can't hold out". kekeh Keyra.
__ADS_1
"hahaha. I'll stop it. but you must promise to me right now". sahut Justin dengan kekehannya dan menghentikan kegiatannya di perut Keyra.
"what is that Daddy? ". sahut Keyra.
"you don't go anywhere". titah Justin.
"oh my GOD. I'll be bore". keluh Keyra dengan bibir manyun lima centi ke depan.
Justin tersenyum geli melihat tingkah putrinya yang seperti Namira jika sudah ngambek.
"jelek sayang kalau kayak gitu". ucap Justin.
Justin memang sengaja menggunakan dua bahasa kepada Keyra. hal ini ia lakukan agar Keyra juga mengerti bahasa dari ibu kandungnya. mengingat juga saudara dan sepupu Justin yang berasal dan tinggal di indonesia. bukannya tidak mungkin jika suatu hari Keyra kembali ke Indonesia, di tanah kelahirannya.
"Daddy ga asyik. masa Keyra ga boleh kemana mana. aku kan bocen". sahutnya yang masih manyun.
"boleh kok sayang. asal perginya sama Daddy". sahut Justin seraya menurunkan anaknya.
"ayok kita pulang. tadi oma telpon Daddy suruh pulang sekarang. karena oma udah masakin bistik sama nasi goreng kesukaan kamu.". ajak Justin.
"oya. really Daddy? ". tanya Keyra antusias.
"off course. kapan Daddy pernah boong sama kamu sayang? ". ujar Justin meyakinkan putrinya itu.
"asyik. lets go home Daddy. I am hungry". ajak Keyra di akhiri tampang memelas.
"same as me Dear". sahut Justin dengan tampang memelas juga.
lalu keduanya terkekeh senang seraya berjalan ke arah parkiran sepeda. Justin mengiringi Keyra yang sedang menaiki sepeda barunya yang masih terpasang dua roda di ban belakang dari sepeda tersebut. sementara Justin mengayuh pelan sepeda gunungnya.
...----------------...
suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi dari batita yang di panggil Dee atau Dean tersebut. Dean langsung turun dari kursi yang di buat khusus untuknya ketika makan.
" nek nek nda". ucapnya senang dengan pengucapannya yang masih di ujung kata kata.
"jangan buru buru Dean nanti jatuh". Dea mengingatkan putranya.
Dean tidak menggubris peringatan bundanya. ia segera berjalan dan menunggu pintu depan di buka. tak lama pintu di buka dan muncullah Alma dengan kresekannya.
"nek". panggil Dean antusias seraya menubruk Alma.
"aduh cucu nenek ini. senang nyo ambo pulang". ujar Alma senang.
"nah ini ada mainan baru buat cucu ambo yang ganteng sedunia". ucapnya seraya memberikan mainan yang berbentuk mobil tersebut.
"yeeee.... bil.. bil ..nda..bil nda.. ". serunya senang dan berjalan ke dapur untuk memperlihatkan pada sang bunda.
Dea menyelesaikan masakannya hari ini dan mematikan kompornya. lalu ia melihat ke arah putranya yang memegang satu kotak mainan yang bergambar mobil lengkap dengan remote kontrol nya.
"hmmm.. sayang. udah bilang makasih belum sama nenek. kok main pergi pergi aja". Dea mengingat kan putranya.
__ADS_1
"hehee... ". keke Dean seraya menampilkan sederet giginya yang mungil nan putih tersebut.
"udah tak apo Jasmine. namanyo jugo anak anak". sahut Alma yang menyusul Dean ke dapur.
"nek". ucap Dean yang langsung menyambangi Alma dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Alma.
"iyo sayang. anak pinter. nah ayok kita buka. biar bisa di mainkan mobilnya yo". Alma menyambut telapak tangan Dean dan meletakkan tangannya ke kening batita lucu itu.
lalu kedua nya membuka kotak mainan tersebut. dan mengambil sebuah mobil mainan yang berstiker polisi. Alma pun menghidupkan sirine dari polisi tersebut di sertai dengan lampu yang berkelap kelip.
"wahhh... ". sahut Dean kagum.
"Dean suka mainannyo?". tanya Alma.
"kak.. kak.. ". sahut Dean senang.
"nah mainkanlah". titah Alma lembut.
lalu Dean pun memainkan mobil remote tersebut dengan rasa senang meskipun ia masih terlihat bingung.
sementara Alma melihat cetakan kue beserta adonan tepung yang berantakan.
"ini pasti ulah nya cucu ambo". gumam Alma.
Dea tersenyum dan berkata
"tadi katanya mau bantuin aku buat pretzels tante. cuma dia ga mau bentuk yang aku buat seperti biasanya. makanya dia minta yang seperti itu tu".
Alma memperhatikan setiap cetakan dari berbentuk hewan tersebut.
"anakmu itu Jasmine memang sudah mulai terlihat kritis dan kreatif". puji Alma seraya melihat Dean yang sedang asyik dengan mobil mainannya.
Dea tersenyum sumringah dan ikut memperhatikan putranya yang berimajinasi sendiri dengan mainannya.
"Jasmine". panggil Alma pelan.
Dea memalingkan wajahnya ke Alma dan memperhatikan sesuatu di balik wajah Alma yang mulai berhati hati menyampaikan niatnya.
"ya tante ada apa? ". tanya Dea was was.
"ini sudah lima tahun sejak awak meninggal kan kampus". Alma menjeda kalimatnya.
"Dee sudah mulai besar. ambo ingin awak mewujudkan impian almarhum mamamu Jasmine". lanjutnya.
"apa itu tante? ". tanya Dea penasaran.
"kuliahlah kembali Jasmine". titah Alma
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hai readers...
__ADS_1
mohon dukungan nya untuk novel ini. dengan memberikan like, vote, komen, rate, fav dan poin.
terimakasih