
# selamat membaca
"Honey. let's go home".
Cindy terpaku di tempatnya tatkala ia mendengar suara yang empat tahun yang lalu terdengar akrab di telinganya. ia menatap Merry yang tersenyum hambar padanya. Cindy berfirasat akan ada situasi yang canggung setelah ini. begitupun Merry ia sendiri berfirasat akan ada badai persahabatan dan bisa jadi badai rumah tangga.
"honey. kok bengong. ayo! ". suara itu kini berada tepat di hadapannya dan Cindy melihat adegan mesra yang berada tepat dalam pandangan matanya.
"Alex?! ". desis Cindy seraya menatap Alex tak percaya.
sedangkan Alex yang mendengar desisan yang menyebut namanya segera menoleh ke pemilik suara.
"Cindy?!". Alex pun balas menatap Cindy tak percaya.
sementara Merry menatap mereka berdua dengan tatapan yang nanar. sedangkan Alex melirik istrinya yang mulai terlihat sendu.
"apa kabar Cindy? ". tanya Alex tenang
"bb..baik". sahut Cindy gugup.
Alex tersenyum lalu bertanya kembali
"kapan kamu pulang? ".
"hampir sebulan aku disini". sahut Cindy yang mulai tenang seraya menatap Merry yang menunduk.
"aku pikir semua teman teman ku tidak lagi di kota ini. karena yang terakhir aku dengar dari papa. semua pada balik ke kampung nya masing masing". ujar Cindy seraya mencoba tersenyum meskipun suasana saat ini memanglah amat canggung.
"dia istriku sekarang. sekarang kami lagi menantikan buah hati kami". ujar Alex tenang seraya memeluk pundak sang istri.
"selamat kalau begitu. semoga kalian menjadi ayah dan ibu yang baik buat anak kalian". ucap Cindy tulus.
sementara Merry semakin menundukkan wajahnya. Alex yang tau jika keadaan saat ini tidak lagi membuat istrinya nyaman. dengan segera ia mengajak sang istri untuk pulang.
"maaf Cindy. kami harus segera pulang. Merry harus menjaga kesehatan nya demi kelancaran persalinan nya nanti". pamit Alex tanpa menunggu komentar dari Cindy dan langsung menarik lengan istrinya menuju parkiran, meninggalkan Cindy yang terdiam menatap kepergian dua orang yang pernah dekat di hidupnya.
sepeninggalnya Alex dan Merry. Cindy menarik dalam nafasnya yang ia tahan sedari tadi. situasi canggung bener bener merubah moodnya yang tadinya ia pikir berjumpa dengan Merry akan berakhir dengan bergosip ria seperti dulu kala. ternyata Cindy salah.
Merry yang dulu bukan lagi temannya. ia istri Alex yang otomatis seseorang yang amat penting bagi hidup Alex.
Cindy membalikkan badannya untuk mengambil obat resep yang ia serahkan tadi di apotik. setelah selesai Cindy berniat kembali ke parkiran.
setibanya di parkiran tanpa sengaja Cindy kembali di pertemukan dengan Andra yang baru saja keluar dari mobilnya. Cindy kembali terpaku menatap pujaan hatinya.
sementara Andra yang memang sudah tau keberadaan Cindy yang tak jauh dari tempat ia baru saja memarkirkan mobilnya. hatinya sempat ingin menyapa gadis itu. tetapi fikirannya teringat akan perbuatan egoisnya terhadap orang orang terdekatnya. terlebih pada gadis manisnya.
__ADS_1
hingga kini tanpa sepengetahuan pihak kepolisian ia masih menyewa seorang detektif untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa Jasmine.
Andra melewati Cindy begitu saja tanpa memberikan sapaan atau pun membalas senyuman Cindy yang ia lihat baru saja mengembang.
sementara Cindy terpaksa menarik kembali senyumnya yang belum sempat mengembang itu tatkala Andra melewati dirinya.
sakit. itu yang ia rasakan di hatinya. setelah sebulan lebih ia tak melihat Andra. dan sekalinya berjumpa situasi seperti ini yang ia terima.
Cindy masih terpaku mendengarkan suara langkah Andra yang mulai menjauh dari tempatnya berdiri.
"non. ayok kita pulang". ajak sang supir yang telah membukakan pintu untuknya sedari tadi.
Cindy pun menuruti apa kata supir. ia pulang kerumah dengan hati yang masygul.
...----------------...
Di kediaman Darmawan Nasution.
Cindy menatap lurus di balkon kamarnya. ia masih memikirkan tentang pertemuan dengan sahabat lamanya Merry. ia tak menyangka jika mantan tunangannya menikahi teman baiknya sendiri. sementara dulunya mereka tak pernah bertemu secara intens.
"bagaimana bisa? " pertanyaan itu yang kini bersarang di kepalanya.
lalu ia teringat tentang Retha.
...----------------...
hari ketetapan lahir bagi Namira tinggal menghitung hari. itu berarti dua keluarga keluarga bersiap siap dalam menyambut kelahiran cucu kedua yang masih di rahasiakan identitas nya. terlebih Justin yang mulai mengendurkan jadwal kerjanya untuk beberapa hari ke depan.
kali ini ia bertekad tidak akan kecolongan lagi seperti anak pertama. dimana sebelumnya Justin datang terlambat mendampingi istrinya karena pekerjaannya dan juga saat itu terhalangi oleh seorang Midea.
begitu pun Astrid dan Jason yang sudah jauh jauh hari kembali ke Jkt dan menginap di keluarga Ardiansyah, besannya.
di sebuah kamar mewah milik Justin.
Namira masih bermalas malasan untuk bangun. karena akhir akhir ini ia merasa kelelahan. belum lagi hasratnya semakin menggebu untuk menghabiskan malam yang penuh gairah dengan suaminya.
Justin yang baru saja keluar dari kamar mandi menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli melihat istrinya yang masih asyik dengan selimut lembutnya.
lalu Justin duduk di pinggiran ranjang dan menyentuh bahu sang istri.
"yang. bangun dong. mandi dulu biar seger". titah Justin lembut seraya menarik selimut istrinya.
"hmmm. nanti aku masih ngantuk". sahut Namira malas dan semakin merapatkan kembali selimutnya.
"papa mau kerja ni ma". ujar Justin. lalu menuju wardrobenya untuk berpakaian di sana.
__ADS_1
sementara Namira dengan malas membangunkan tubuhnya dan menyenderkan tubuh polos yang masih berselimut ke headboard ranjang.
tak lama kemudian Justin telah rapi dengan setelan kerjanya. dia tersenyum dan menghampiri sang istri yang masih betah dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"hmm. yang tumben pagi ini males malesan. masih capek ya? ". ujar Justin.
Namira menganggukkan kepalanya.
"ya udah. bobo aja lagi. tapi jangan lama lama ya. kan baby sama mamanya juga butuh makan. ntar sakit loh". ujar Justin.
"iya nanti kalau aku udah bangun aku turun dan makan sebanyak banyaknya". sahut Namira.
"ya udah papa turun ya". ucap Justin lalu ia mengecup kening istrinya lalu turun ke perut buncit istrinya.
"kamu sama mama baik baik ya sayang. ga lama lagi kita bakalan ketemu dan main bersama papa dan kak Keyra". ucapnya penuh haru.
lalu ia menatap sang istri. dan membelai pipinya.
"hati hati ya di rumah. jangan maksa gendong Keyra kalau Udah kecapekan. kan udah ada bunda". ujar Justin.
"iya". sahut Namira.
lalu Justin pun turun sendiri menyusul anggota keluarga lainnya ke ruang makan.
"bi. bawain sarapannya Namira ke kamar ya?". titah Justin pada bi Muna.
"iya den". sahutnya.
sementara para kedua orang tua mengernyitkan dahinya dseraya menatap Justin. mereka semua berfirasat kalau Namira sakit. lalu Mona bertanya.
"apa Namira sakit Tin? ". tanya Mona khawatir.
"ga. cuma kecapekan aja". sahut Justin.
"ya udah bi nanti habis ini bawain susu sama sarapannya ke kamar ya bi". titah Mona.
"ya bu". sahut Bibi
lalu mereka pun melanjutkan sarapannya. sementara perasaan dan firasat Astrid berbeda dari mereka. tetapi ia mencoba menepis fikiran buruknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel ini berupa like, vote, komen, rate, fav, poin.
terimakasih
__ADS_1