She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
Sumatera


__ADS_3

Tibalah keberangkatan keluarga Archidean ke Sumatra. Jason dan Astrid membawa cucu pertama mereka, Keyra. bahkan Justin menantunya juga ikut bersama mereka meskipun sesampai di Mdn mereka punya urusan masing masing.


Mona terus saja menggendong baby Keyra hingga sampai di Bandara. ia seperti enggan melepas cucu cantiknya tersebut.


"sini mbak. kita udah mau boarding tu". pinta Astrid yang telah menyiapkan gendongan khusus milik Namira ketika masih seusia Keyra.


"sebentar dulu bunda. ga sabaran amat sih". tolak Mona seraya membelakangi Astrid.


Namira dan Justin saling bersitatap melihat tingkah oma dari anak pertamanya itu.


"ma.. udahan dong. mereka itu udah mau berangkat ma. entar kan bisa gendong, peluk dan cium ciuman lagi Keyra nya". Arfan menegur sang Istri.


"iya ma. udah sini Keyranya". pinta Justin seraya mengangkat kedua tangannya untuk mengambil Keyra.


tetapi langsung di tepis oleh Mona dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan satunya menggendong Keyra dalam pangkuannya. melihat tingkah istrinya akhirnya Arfan pun ikut turun tangan agar mau melepaskan Keyra.


"ma, udah dulu main main nya. mereka udah proses boarding tu." Ujar Arfan lalu mengambil Keyra dari tangan sang istri.


"ihh si papa ini. sabar dulu. ini lagi di benerin jaketnya.". ujar Mona sambil memelototkan matanya dan tangannya terus membenahi jaket Keyra, meskipun Keyra tidak lagi berada dalam pangkuannya nya melainkan telah berpindah paksa ke gendongan suaminya.


"udah bereskan. ni cium dulu cucunya". Arfan memberikan pipi Keyra untuk di cium sang istri. lalu ia pun menyerah kan ke Astrid sang nenek.


"hati hati ya sayang. bunda jagain yang bener jangan sampai lecet keyranya". ujar Mona me wanti wanti ke Astrid.


"ya Allah ma.. mama ini bawel amat sih. Bunda Astrid kan udah ngerti banget urusan begituan". dumel Justin.


"iya iya mama percaya. mama kan cuma bilang hati hati. itu aja". sahut Mona.


setelah melewati perdebatan dan drama yang cukup memakan durasi tersebut, akhirnya mereka yang berencana ke Sumatra pun berpamitan untuk menaiki pesawatnya.


"hati hati ya kak. kabari segera kalau udah sampai disana". pesan Namira ke suaminya


"iya yang. kamu juga hati hati disini. ingat ya makan yang banyak. ingat pesan dokter. kalau kamu makan nya sedikit entar anak kita mal nutrisi yang". pesan Justin ke Namira.


"siap pak bos". sahut Namira seraya memberi hormat ke suaminya.


Justin terkekeh geli melihat tingkah sang istri, lalu ia mengacak pucuk kepala Namira, sehingga membuat pucuk rambut nya berantakan. lalu mencium kening sang istri.


mereka yang berangkat pun akhirnya keluar dari ruang tunggu memasuki ruang yang menghubungkan dengan badan pesawat.

__ADS_1


Namira melepas kepergian keluarganya dari balik dinding kaca raksasa yang dimana terlihat jelas jejeran dari seluruh maskapai penerbangan yang juga ikut mengantri menanti untuk lepas landas dari Bandra tersebut. terbang ke daerah yang menjadi tujuan mereka.


...p----------------...


Rendy menjemput Retha di kediamannya ia pun berpamitan kepada Satria setelah Retha bersiap siap untuk naik ke mobilnya Rendi.


"mas aku berangkat ya? " pamit Retha.


"hati hati. pokoknya langsung kasih kabar begitu nyampe. titip salam buat tante Alma ya? pesaan Satria.


"hati hati ya. Ren, abang titip Retha. jagain yang bener ya?? ". titah Satria pada Rendy.


"iya bang. Retha kan tenan baik ku. Insya Allah di jaga dengan baik istrinya". sahut Rendi.


"kami berangkat ya bang. doain kami selamat sampai tujuan". ucap Rendy yang minta di doa kan.


Satria mengangguk kan kepalanya dan melambaikan tangannya ketika mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Satria yang minimalis. yang telah ia tempati ketika masih lajang. hingga mobil Rendy benar benar menghilang dari pandangannya barulah ia masuk mobil.


di perjalanan Rendy bertanya tentang Merry ke Retha.


"katanya kemarin Merry juga mau ikut. kok ga jadi" tanya Rendy yang matanya terus fokus pada jalanan.


"oh ya. dia ga bilang kalau kita perginya bertiga? ". tanya Rendy.


"udah. tapi ya gitulah namanya suami posesif. takut kali terjadi apa apa sama istrinya". sahut Retha.


"apa lagi perjalanan nya juga jauh Ren. tadinya aku juga hampir ga di kasih ijin oleh bang Satria. tetapi karena aku merengek manja ya sudah aku di kasih juga pergi sama kamu ke Pdg nya. dengan syarat dia yang jemput aku". jelas Retha panjang lebar.


Rendy tertawa kecil mrndengar alasan teman yang pernah jadi tim duetnya di acara kampus mereka dulu.


panggilan telepon berbunyi nyaring di ponsel Rendy yang di lekatkan di dashboard mobilnya. nama panggilan tertera dengan nama Arjun. Rendy meminta Retha untuk menekan tombol layar hijau dan juga tombol bertuliskan speaker


"hallo Jun". sapa Retha.


"oh Retha. mana si Rendy". tanya Arjun.


"ada apa?". lagi nyetir ini". sahut Rendy.


"udah sampe mana? "tanya Arjun.

__ADS_1


"baru keluar dari Mdn". sahut Rendy


"jemput aku sekarang di CR ya? ". pinta Arjun.


"mau ikutan juga? ". tanya Rendy.


"iya". sahut Arjun.


"kenapa baru ngomong sekarang. kan terpaksa muter balik jadinya". sahut Rendy.


"aku di CR satu lagi. kan bisa sekalian". sahut Arjun


"oh. bilang dong. ok". sahut Rendy.


akhirnya mereka pun saling menutup telponnya.


"memang si Arjun ada berapa Resto sih?". tanya Retha penasaran.


"yang beneran hak milik sih dua. di Mdn satu sama yang di Brstgi. yang lainnya semacam bagi keuntungan gitu. ya karena menganggap bantu saudara lah. termasuk Restoran tante Alma yang baru di buka di hotel tantenya si Arjun". jelas Rendy.


"oh ya. hebat dong dia nya". sahut Retha sumringah.


"jadi ngomong ngomong soal tante Alma ni. kamu bilang bekerja sama dengan Arjun juga untuk buka Restoran gitu? ". tanya Retha penasaran.


"iya. yah modalnya kebanyakan dari tante Alma sih. si Arjun cuma bantuin doang gimana caranya supaya Restoran tante Alma bisa maju. sementara tempat memang udah di sediakan untuk membuka Restoran. mungkin perjanjian bagi hasil gitulah. tapi yang ga tau berapa persen. yang jelas kata si Arjun. mereka memberi hak kuasa mutlak kepada tante Alma tentang pembagian keuntungan dari Restoran tersebut. secara kan yang mengelola dan masak tante Alma sendiri yang menghandle. bahkan modal pun memang kebanyakan dari tante Almanya". jelas Rendy panjang lebar.


Retha hanya manggu mangut dan tersenyum mendengar cerita Rendy tentang sahabat almarhumah mama Inka tersebut.


"kamu sering mampir dong kalau laper". Retha menerka nerka.


"ya gitulah. sekalian bantuin mereka. apa lagi pas lagi banyak pengunjung". sahut Rendy.


"oiya Restonya masakan padang pastinya ya?". Retha menebak lagi.


"seluruh masakan khas yang ada di Sumatra ini Tha, kata tante Alma itu impian si Jasmine". sahut Rendy.


Retha terdiam begitu Rendy menyebutkan nama Jasmine.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


jangan lupa buat like, voye, komen, rate favoritin ya novelnya


__ADS_2