
"Justin". desis Dea dengan perasaan campur aduk.
satu sisi hatinya merindukan sosok tersebut, ia ingin sekali menyapanya dan memberitahu nya jika sekarang ia pun bisa hamil. sama seperti istri keduanya. dan memberitahu kan jika ini adalah anaknya juga.
lalu ia teringat akan mimpi mengerikannya tadi pagi. mimpi yang membuat Dea harus buru buru membalikkan tubuhnya membelakangi Justin yang sedang berjalan ke arah nya.
Dea segera menyembunyikan tubuhnya di balik tiang penyangga dari rumah sakit tersebut. ia semakin menyembunyikan wajahnya tatkala langkah kaki dari laki laki yang ia cintai semakin mendekat, dan berjarak satu meter di belakang tubuhnya.
Dea memutari tiang penyangga untuk menutupi tubuh nya, agar tidak terlihat oleh Justin yang melewati tiang dimana Dea bersembunyi dan terus melangkah pergi. ia pun bernafas lega ketika langkah kaki tersebut semakin menjauh.
Dea buru buru meninggalkan tempat itu. memasuki ruang poli. ia mengambil posisi duduk di pojokkan, seraya menunggu namanya di panggil.
...----------------...
Justin mengerutkan keningnya, ia menghentikan langkah kakinya sejenak serta membalikkan tubuhnya untuk memastikan perasaan hatinya. semenjak kakinya menginjakkan lantai rumah sakit ini ada perasaan yang mendorong Justin untuk menyusuri koridor rumah sakit tersebut.
padahal tujuan awal Justin ke rumah sakit ini adalah memenuhi janji antara dirinya dan Direktur rumah sakit yang berada di lantai tiga dengan pintu masuk menggunakan lift di sisi kiri. akan tetapi Justin malah melewati pintu lift tersebut dan menyusuri koridor dimana menghubungkan segala ruang untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien.
Justin memperhatikan keadaan sekitar. tak ada siapapun yang ia kenal atau situasi apa pun yang mencurigakan. meskipun ada beberapa perawat cewek yang senyam senyum sedari tadi memperhatikan dirinya. Justin tak bergeming.
ia berbalik dan melangkah kembali menuju anak tangga yang menghubungkannya ke lantai tiga.
...----------------...
di ruangan poli kandungan..
Dea tersenyum mendengar detak jantung bayinya. ada rasa bahagia yang melingkupi hatinya kini. Dokter menscroll kembali perut Dea untuk mencari jenis kelaminnya.
"ini dia bunda". ucap sang Dokter yang terus saja memperhatikan layar monitor.
"mau di kasih tau sekarang atau nanti bunda? ". tanya sang Dokter.
"memang bisa begitu? ". tanya Dea lugu. seraya melirik ke dokter kandungan tersebut.
Dokter itu tersenyum. ia memandangi Dea.
"kadang ada orang tua yang ga mau di kasih tau dulu. biar surprise saat lahiran bun". jelas sang Dokter.
"gimana menurut bunda. saya kasih tau sekarang atau nanti?". tanya sang Dokter untuk meminta kepastian.
__ADS_1
"sekarang". sahut Dea.
"saya ingin tau sekarang. terlepas dia lelaki atau perempuan saya akan tetap menyayangi nya Dok".lanjutnya secara gamblang yang menunjukkan ke pada Dokter tersebut jika Dea memang benar benar mencintai anaknya.
Dokter tersebut tersenyum ke Dea, lalu kembali melihat layar monitor untuk menunjukkan dan menjelaskan ke Dea tentang jenis kelamin dari bayi yang di kandungnya kini.
"baby boy bunda.. selamat ya? ". ucap sang Dokter tersebut seraya tersenyum melihat raut haru di wajah Dea.
Dea semakin melebarkan senyumnya. netranya mengkristal tatkala ia terus memandangi layar monitor dimana gambar sang bayi miliknya ada di sana.
pemeriksaan selesai di lakukan. Dea di beri resep seperti biasanya berupa multivitamin untuk masa kehamilan.
"semoga selamat sampai lahiran ya bunda. ini hasil usg hari ini". ucap sang Dokter seraya memasukkan dua lembar kertas, dimana yang satunya berisi kan resep obat dan satunya lagi adalah hasil usg ke dalam amplop berwana putih polos.
"terimakasih dokter. saya permisi". sahut Dea.
ia pun keluar dari ruang kandungan tersebut, dan memutuskan untuk bergegas pulang menggunakan taxi menuju rumahnya Jasmine.
Dea mengirim pesan ke tante Alma jika hari ini ia butuh istirahat.
hari ini setelah insiden Dea melihat Justin di rumah sakit. ia memutuskan untuk tidak kemana mana, apa lagi ke restoran. bisa saja Justin menginap atau sekedar makan disana.
"Justin. bagaimana ia sampai di kota ini. apa yang ia lakukan disini. dan mengapa harus dikota ini ia kembali melihat Justin sedekat ini" bathin bergemuruh dengan sejuta pertanyaan.
rasa takut kini menyeruak di hati Dea. Dea belum mau kehilangan rasa nyaman yang ia dapati selama ini. ia masih mau menjadi Jasmine meskipun palsu.setidaknya sampai anaknya lahir.
"aku harus menghindari keramaian untuk saat ini. agar tidak ada yang mengenaliku sebagai Midea. aku harus menghilang kan jejak Midea demi anak ku". bathinnya.
setiba di rumah Jasmine. Dea mengunci dirinya di rumah. ia akan menghabiskan waktunya hari ini di rumah saja.
...----------------...
setelah proses pertemuan dengan Direktur rumah sakit selesai. Justin memutuskan untuk
mengajak putri dan mertuanya jalan jalan sebelum mereka balik ke Mdn.
"kita mau balik jam berapa nak Justin". tanya Jason. yang masih terus menikmati cemilan di salah satu mall kota pdg.
"kita balik besok pagi yah". sahut Justin yang masih menikmati cemilan yang sama dengan Jason.
__ADS_1
bahkan Keyra pun juga tak ketinggalan untuk mencicipi cemilan yang berbahan dasar dari tepung yang di panggang tersebut.
mereka berdua menunggu Astrid yang sedang berbelanja oleh oleh khusus dari kota tersebut.
setelah di rasa kenyang. Keyra membuang roti yang di genggamnya tadi dan mulai menggeliat di atas paha Justin.
"ada apa sayang? ". tanya Justin yang merasakan jika putrinya tidak nyaman. ia melap mulut dan tangan Keyra menggunakan tissue basah yang memang selalu di bawanya.
Justin pikir setelah di rasa bersih mulut dan tangan Keyra. Keyra akan berhenti menggeliat dan menghentak hentakkan kakinya.
"mungkin dia bosan. sini jalan sama kakek yok". Jason berkomentar pelan. dan meminta Keyra dari Justin.
Justin menyerahkan Keyra ke Jason. karena ia juga ingin ke toilet.
"yah aku ke toilet bentar ya? ". pamitnya.
di jawab dengan anggukan kepala dari Jason.
Justin menuju toilet untuk menuntaskan hajatnya. setelahnya ia membersihkan dirinya dan berniat kembali ke coffe shop dimana putri dan mertua nya menunggu.
saat ia berjalan langkah nya berhenti pada sebuah toko perlengkapan bayi. ia pun teringat akan istrinya, Namira yang sedang hamil saat ini. ia berfikir untuk membeli satu accesories sebagai hadiah kehamilannya.
meskipun sebelumnya ia telah memesan satu set kalung berlian khusus untuk Namira. tapi ia pikir satu set kalung dan sepasang sepatu bayi akan menambah kesempurnaan hadiah kehamilan untuk istri yang ia cintai tersebut.
ia menyusuri setiap rak untuk mencari barang yang menarik perhatiannya. hingga netranya tertarik pada sepasang sepatu di dalam sebuah kotak yang terbuat dari bahan plastik mika bening.
ada dua warna yang tersisa yaitu putih dan navy. Justin mengambil keduanya. yang berwarna navy ia minta bungkuskan menjadi kado. ia menulis kan sesuatu di dalamnya sebagai ungkapan dan harapan cinta pada istri kecilnya tersebut.
di hati kecilnya ia berharap, semoga anak kedua nya adalah laki laki. tetapi jika perempuan lagi pun tidak masalah baginya. ia akan tetap menyayangi keduanya.
"yang putih ga sekalian pak di bungkusin jadi kado? ". tanya pelayan toko tersebut.
"di packing biasa aja dulu". sahut Justin.
"baik pak". sahut pelayan toko.
setelah membayar kedua benda tersebut. ia membawanya dengan perasaan sumringah membayangkan wajah Namira menerima bingkisan hadiah darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
selamat menunaikan ibadah puasa..
tetap di like, vote, komen, rate dan favorit in.