She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
Materialistis is realistis


__ADS_3

# selamat menikmati episode ini


seraya memainkan ponselnya Justin duduk di sebuah kursi kebesarannya sebelum keberangkatannya ke Sumatera menggunakan Heli. ia masih menunggu Alan untuk membawa berkas yang harus di tanda tangani sebelum kepergiannya.


Indra datang menghampiri Justin di ruangannya seraya membawa beberapa berkas.


"hai bro.ngapain lu. jadi berangkat siang ini? " tanya Indra seraya meletakkan sebuah berkas di meja kerja Justin.


Justin pun melirik ke arah berkas tersebut.


"Loh bukannya harusnya Alan yang bawa. kok elu?". tanya Justin heran seraya menatap sahabat nya itu.


"hahaha... liat dulu dong bro berkasnya apa. makanya jangan kelamaan nge jomblo atau terlalu larut pada masa lalu". cibir Indra dengan kekehan.


tak lama berselang suara ketukan pintu terdengar di telinga mereka. Alan masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


"tuh. berkas yang lu tunggu udah datang". tunjuk Indra dengan dagunya pada berkas yang masih di pegang Alan.


"permisi pak. ini berkas yang bapak minta dari satu desainer tentang interior nya". ujar Alan dan menyerahkan berkas tersebut pada Justin.


"terimakasih Alan". ucap Justin.


Indra pun mengintip berkas yang di bawa Alan saat Justin membukanya. dan terlihat lah contoh contoh gambar interior ruangan kantor.


"kapan rencananya mau lu ubah ruangan kantor lu Tin? ". tanya Indra.


"habis gue pulang dari Mdn mungkin". sahut Justin seraya melihat lihat desain gambar ruangan kantor.


setelah di rasa cukup ia pun kembali dengan berkas yang Indra bawa. ia membaca satu persatu dan menandatangi nya.


"ini punya kantor cabang yang di Bdg kan? ". tanya Justin.


"ya". sahut Indra.


"untuk yang di Bdg presentasinya harus di buka serentak juga Dra? ". tanya Justin penasaran.


"hasil rapat maunya gitu Tin". sahut Indra.


"ga bisa. ini harus di undur tanggalnya. kita mulai untuk yang di Sumatera dulu. lalu Jkt dan yang terakhir di Bdg". tolak Justin.


"terus gimana kita mau liat mana yang berkualitas dan yang tidak. bisa bisa akan ada kecurangan yang terjadi jika perwakilan cabang yang kita tunjukkan bakalan ada main sama juri". protes Justin.


"sementara kita berdua bakalan lama di sumatera karena pernikahan Andra". lanjutnya.


"gue udah nugasin asisten gue buat ngawasin selama acara berlangsung. termasuk ngawasin para juri. oiya satu hal yang mesti lu tau. kita bakalan seleksi lagi mahasiswa yang terpilih dari cabangnya untuk presentasi di sini". jelas Indra.


"sama seperti lima atau enam tahun lalu lah". lanjutnya.


Justin bergeming. pikiran nya menerawang jauh saat badai melanda selatan Jkt. dimana kejadian buruk menimpa dirinya dan berimbas pada seorang gadis yang ia gagahi pada malam itu. ia sangat menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf atas ke khilaf annya pada gadis itu. namun keberadaan gadis tersebut hingga kini belum di ketahui oleh Justin.

__ADS_1


"Tin". panggil Indra saat melihat sahabat nya itu termenung.


"Tin". Indra memanggilnya untuk kedua kalinya seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Justin.


"ohh.. ya.. ada apa Ndra ?". tanya Justin gelagapan.


"kenapa lu termenung gitu ?. ingat masa lalu? " tanya Indra penasaran.


Justin tak menjawab. ia memilih diam dan mengalihkan pembicaraan nya mengenai keberangkatannya dan mengajak Indra untuk bareng dengannya.


"kapan lu berangkat. barengan ama gue aja yuk". tawar Justin.


"ga dulu lah bro. entar tiga hari lagi gue susul. soalnya gue dan sekeluarga udah di bookingin tiket dari kerabatnya bini gue yang di Mdn". tolak Indra.


"oh ya??". pekik Justin heran.


"tumben baik bener. biasanya mereka rada jutek sama elu". lanjutnya.


"ga tau lah. mungkin karena gue udah di angkat ceo sama lu kali". kekeh Indra.


"mmm.. ternyata semua manusia emang materialistis". Justin berkomentar.


"masih realistis sih menurut gue". sahut Indra santai.


"maksud lo? ". tanya Justin heran menatap sahabatnya itu yang di nilainya salah satu manusia yang memiliki kepribadian yang sabar.


"gue setuju pendapat lu". ujar Justin mendukung sahabatnya itu.


"yah.. jadi jika ada orang yang materialistis. I think is realistis. apa lagi itu cewek. mengingat pemikiran mereka pada kebutuhan rumah tangga dan anak anaknya.


Justin terdiam. seketika ia teringat akan Namira yang terakhir kalinya bersikap materialistis. tetapi semua itu kembali untuk kebutuhan rumah tangganya. dan itu memang realistis sih.


berbeda sikap pada Midea yang memang materialistis. ia di kenal sebagai seorang perempuan yang memoroti uang dan harta para pria yang mengencaninya. profesinya yang menjadi model. menurut Justin hanyalah tameng semata.


...----------------...


Cindy terjaga dari tidurnya. waktu menunjuk kan pukul sembilan pagi. ia tidak melihat Andra lagi di samping nya.


"mungkin dia udah ngantor". fikirnya.


Cindy bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. setelahnya ia keluar kamar mencari tas dan ponselnya. ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja sofa. Cindy membuka ponselnya. matanya melebar tatkala melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari papa dan mamanya. lalu ia membuka sebuah aplikasi untuk membaca pesan pesan yang masuk disana. termasuk pesan Andra yang menyuruhnya untuk menghubungi papanya segera.


Cindy pun segera menghubungi papanya. dan menjelaskan kepada papanya jika ia ketiduran di apartemen Andra. sama persis seperti yang di jelaskan Andra sebelumnya pada papanya.


"iya papa sudah tau. semalam Andra sudah menjelaskan pada papa". sahut Darmawan dari seberang telpon.


"siang ini mama kamu udah buat janji temu sama temannya yang memiliki butik untuk fitting baju pengantin yang sudah di pesan tempo lalu". ujar Darmawan.


"iya pa". sahut Cindy.

__ADS_1


"ajak Andra sekalian. papa udah ngasih tau dia". ujar Darmawan.


"iya pa. nanti aku perginya sama mas Andra". ucap Cindy.


akhirnya pembicaraan melalui telpon itu pun berhenti. Cindy berjalan menuju meja makan untuk menyantap sarapan yang di buat Andra untuknya.


...----------------...


Di sebuah butik ternama di kota itu


Cindy memperhatikan tubuhnya pada sebuah cermin besar yang memantulkan tubuh indahnya di situ. ia menatap kagum pada gaun rancangan yang di buat khusus untuknya. dengan taburan batu kecil yang terbuat dari berlian menambah kecantikan pada lekuk tubuhnya yang indah itu.


sreeeeet......


suara kaitan gorden terdengar di telinganya. seorang pelayan butik tersenyum menatap dirinya.


"sudah siap mbak Cindy. silahkan menghadap ke belakang. biar bisa di lihat sama ibu dan calon suaminya". titah sang pelayan.


Cindy pun mengikuti arahan pelayan toko butik tersebut. sementara Andra yang masih berbalut tuxedo untuk hari pernikahannya menatap kagum tanpa mengedipkan matanya ke arah Cindy.


"cantik". hanya satu kata yang mampu di ucapkan oleh Andra pada calon istrinya itu.


"you are so beautiful my daughter". puji Cassandra pada putri bungsunya itu.


Cindy tersenyum. begitupun Andra. Andra melirik pada bebatuan kecil yang terbuat dari berlian pada gaun putih Cindy. cantik memang tetapi terkesan glamour dan materialistis baginya. hanya saja Andra menepis kesan itu pada Cindy. baginya para perempuan ingin terlihat istimewa di hari pernikahan nya sih itu realistis. begitu pun Cindy. jadi Andra hanya perlu menyikapi dengan sederhana saja untuk momen pernikahan mereka. Materialistis is realistis itulah yang ada di pikirannya sekarang.


"gimana pak. ibu.. apa sudah cocok? ". tanya sang desainer.


"kamu gimana Cin? ". nyaman tidak dengan bajunya? "tanya Cassandra.


"nyaman ma". sahut Cindy.


"udah oke mbak". ujar Cassandra pada desainer tersebut.


"oke. kita keep hingga harinya nanti". ujar sang desainer.


Cindy pun di minta untuk melepaskan gaun tersebut. begitupun Andra.


sementara di kantor nya Darmawan terhenyak begitu melihat nominal yang tertera di ponselnya saat notifikasi dari M banking nya masuk.


"harga yang fantastis untuk sebuah gaun". gumamnya.


tapi bagi Darmawan tak jadi soal asalkan demi kebahagiaan istri dan putrinya yang terkadang bersifat materialistis. tetapi baginya itu realistis sih selama ia mampu memenuhi nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon dukungannya untuk novel ini dengan memberikan like, vote, komen and share linknya ya readers. please....


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2