
#selamat membaca kembali the readers
pagi hari menjelang siang Di Restoran Sumatera.
Dee yang kelelahan karena asyik bermain meminta susu pada Alma. ia menarik rok Alma seraya berkata
"nek.. cucu.. ". ucap Dean.
Alma yang segera memalingkan wajahnya pada sebuah tangan kecil yang menarik roknya. ia pun tersenyum.
"kenapo Dee. mau susu yo?". tanya Alma.
Dee mengangguk anggukkan kepalanya.
"sebentar yo". ucap Alma.
lalu Alma pun membuatkan susu hangat dan menuangkannya ke dalam botol susu milik Dean. setelah selesai ia mengajak Dean ke kamar tidurnya yang di khusus untuk Dean jika ia ingin beristirahat di hotel ini.
"ini susunyo. nah sekarang Dee duduk santai di situ yo". titah Alma.
Dean pun menuruti perintah sang nenek. ia bersender di sofa menyusui milik Dea saat wanita itu masih menyusui dulu sekitar dua tahun lalu.
"eits.. baca apo dulu sebelum minum Deeee". Alma menahan botol susunya tatkala teringat jika Dean belum membaca basmallah.
"bismillahirahmanirrahim. mintak". ucap Dean polos dan langsung meminta botol susunya.
"hehe... tak sabaran banna ini anak. nah minumlah". kekeh Alma.
Alma menemani Dean hingga susu di dalam botolnya habis. Alma membiarkan mata Dean terpejam hingga batita tersebut benar benar tertidur. Alma merebahkannya di ranjang kamar itu.
"bobo yang nyenyak ya nak. nenek kerja dulu". bisiknya seraya mengecup lembut kening Dean.
ia memang sudah jatuh cinta kepada batita itu dalam pandangan pertamanya sama seperti anak angkatnya, Jasmine.
...----------------...
setelah puas bertandang ke rumah saudara dan sanak family lainnya. akhirnya Astrid mengajak Mona dan Keyra ke restoran yang dulu pernah di singgahi ketika bersama Suami dan Keyra yang masih bayi.
"kita makan di Hotel ini Bun". ujar Mona heran lantaran yang di bawa ke tempat penginapan bukan ke Rumah makan.
__ADS_1
"iya mbak. dulu waktu si Keyra belum setahun kami makannya di sini. kalau mbak mau kita nginap disini juga boleh". ujar Astrid.
"boleh juga idenya bun". sahut Mona.
"Restorannya mana? ". tanya Mona seraya mencari tempat seperti Restoran.
"itu dia mbak". sahut Astrid seraya menunjukkan ke sebuah tempat yang berada di sudut halaman Hotel.
"Sumatera? ". desis Mona yang melihat tulisan besar di pintu masuk Restoran tersebut.
"kok ga sama dengan nama Hotelnya? ". ujar Mona heran.
"lain pemilik mbak". sahut Astrid.
"oo. harusnya biar klop ya di samain aja namanya dengan hotelnya atau pun dengan nama Restorannya". komentar Mona.
"harusnya sih mbak. tapi ntahlah. isunya memiliki nama Restoran dengan nama Sumatera adalah impian dari anak pemilik Restoran ini". sahut Astrid.
"masuk yuk mbak. berdiri lama lama jadinya tambah laper mbak. di dalam aja kita kepo keponya. kasihan ni Keyra masa panas panasin gini". sahut Astrid yang menggenggam tangan Keyra.
"I am hungry grandma". celoteh Keyra tiba tiba.
"tuh kan mbak. baru juga di bilangin". sahut Astrid.
mereka bertiga pun masuk ke dalam restoran dan mengambil tempat duduk di teras samping Restoran yang menghadap ke sebuah taman terbuka hijau yang di sajikan samping Restoran tersebut.
"enak juga tempatnya ya bun. adem ga perlu pake Ac". komentar Mona dalam pandangan pertamanya tentang Restoran tersebut.
"iya mbak. konsepnya memang sengaja di buat seperti ini. biar pengunjung merasa ada di alam beneran. apa lagi ini di kota mbak. banyak gedung gedungnya dari pada taman tamannya". balas Astrid.
"tapi ini tempatnya yah termasuk asli bun. itu ada pemandangan perbukitan dan hutan hutannya". tunjuk Mona yang terlihat antusias melihat pemandangan yang menyegarkan mata.
"iya mbak". sahut Astrid yang seiring datanglah pramusaji yang membawakan hidangan khas daerah daerah dari pulau Sumatera.
"banyak amat bun. perasaan kalau berkunjung ke restoran padang ga segini banyak deh tumpukan piring ikannya". Mona berkomentar.
ia begitu heran melihat tatanan piring kecil yang berisi ikan dan daging yang di masak dengan segala macam bumbu. bahkan harum dari segala masakan tersebut menggugah hidung Mona untuk terus menikmati aroma yang turut mengugugah selera makannya juga.
Astrid tersenyum geli seraya menggeleng gelengkan kepalanya heran melihat tingkah besannya yang nota bene bule tersebut.
__ADS_1
seharusnya seorang Ramona Kehl menjaga imagenya di hadapan meja makan apa lagi di tempat umum seperti ini. malah sekarang yang ia lihat justru melihat besannya sedang menciumi aroma dari setiap makanan yang ada di hadapannya.
"ya udah lo mbak di makan. jangan di ciumi terus aromanya. ga bakalan kenyang mbak". tegur Astrid lembut.
"hehe iya juga ya bun. baunya harum banget jadi terhipnotis buat nyium terus". kekeh Mona dengan tersipu malu.
"hahaha.. ada ada aja mbak ini.
ya udah kita nikmati aja makanannya. anggap aja ME TIME nya kita bersama". kekeh Astrid.
Mona mengangguk setuju. lalu mereka pun menyantap makanan tersebut. begitu pun Keyra yang lebih memilih kuah ikan lemaknya yang telah dipisah tulang dari dagingnya yang terkenal lembut.
tak lama kemudian mereka pun selesai bersantap ria. dan di akhiri dengan menikmati dessert gratis berupa ice creme cup untuk anak anak dari pengunjung tersebut.
"hmm. its so delicious" komentar Keyra pada ice creamenya.
"ehmmm. giliran yang manis manis aja bilangnya delicious ni anak". cibir Mona.
"hehe.. memang begitu anak anak mbak". kekeh Astrid disertai dengan tertawa kecil.
akhirnya dua nenek cantik itu mendapatkan nikmatnya dalam peperjalanan ME TIME mereka. mereka pun bersenda gurau bersama cucunya di Restoran yang santai dan nyaman itu.
hingga akhirnya tiba tiba mereka harus menghentikan obrolan dan candaan mereka di siang itu karena mendengar suara tangisan batita yang memanggil nenek nenek..
Mereka mencari sumber suara dan terlihatlah seorang batita yang berjalan menuju taman mendekati meja mereka seraya memanggil nenek
"Masya Allah". ucap kedua nya.
mereka terhenyak melihat batita tampan yang berjalan sendirian tanpa ada pengawasan dari orang tuanya.
mereka berdua memanggil batita tersebut untuk mendekati mereka. tetapi batita tersebut terlihat bingung dan masih menangis terisak isak.
"ya Allah nak. sini sayang sama oma". panggil Mona seraya mendekat ke sang batita. Mona menggendongnya dan membawanya duduk bersama Astrid.
"Masya Allah mbak. kasihan bener anaknya. mana ganteng lagi. mana mamanya nak? ". tanya Astrid pada batita tersebut yang kini di pangkuan Mona.
batita tersebut menggeleng gelengkan kepalanya dan masih terisak. sementara Mona dan Astrid saling menatap penuh tanya. merekapun berspekulasi macam macam. tetapi mereka berdua juga terhanyut akan ketampanan sang batita yang mirip dengan wajah seseorang ketika masih kecil. setidaknya itulah dalam pandangan pertama mereka terhadap batita tampan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
hai readers mohon dukungannya untuk Novel ini ya. dengan memberikan like, komen, vote, fav dan share dong please.... 🙏😊
terimakasih