
#selamat membaca kembali..
sinar mentari menerpa wajah tampan itu dari celah jendela gorden kamar mewahnya. Ia mengerjapkan matanya berkali kali untuk membiasakan diri dengan sinar matahari pagi di negara yang lebih dari dua tahun lamanya ia tinggalkan.
Justin bangun dari tidurnya dan duduk termangu di atas ranjang berukuran king size itu. rasa sepi kembali menggelayuti hatinya. rindu pada istri yang di cintainya.
"Namira". desisnya lirih.
Justin menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. rasa sesak menyeruak. kenangan akan Namira terulang di benaknya. bagaimana bayangan Namira tercipta kembali saat dari pertama ia menginjakkan kakinya ke negara ini.
Justin mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. ia menghubungi Alan agar menjemput nya satu jam lagi. setelahnya Justin bangkit dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandi.
...----------------...
di sebuah pusat perbelanjaan. Midea mengajak dua batita yang tinggal bersamanya untuk berbelanja memilih kebutuhan dapur dan kulkas mereka. Midea memang terlihat cekatan dan teliti jika menyangkut belanja dapur.
"bun. ikan yang ini aja bun". tunjuk Keyra pada sebuah lobster yang berukuran jumbo.
"hah? ". ikan? ". desis Dea mengernyitkan dahinya.
"itu udang kakak. bukan itan". protes Dean yang mengetahui jenis seafood karena sering di bawa Alma ke tambak tradisional.
"hahaha. bukan sayang. itu bukan ikan atau udang tetapi lobster. kalau udang yang seperti ini". kekeh Dea seraya menunjukkan dan menjelaskan perbedaan antara udang dan lobster.
"tapi nenek bilang itu udang bunda. udang becaaaaaaaar". protes Dean seraya membuka lebar kedua tangannya.
"iya udang yang sangat besaaaaaar sekali". ujar Dea yang mengikuti gaya Dean dengan membuka lebar kedua tangannya.
sontak kedua batita tersebut ikut tertawa karena lucu begitupun Dea yang juga ikut tertawa karena kedua batita itu.
...----------------...
Justin meletakkan dua karangan bunga di dua nisan wanita yang pernah menjadi yang teristimewa untuknya.
"Nadira, Namira". desisnya lirih.
ia terkenang kembali dimana momen momen bersama dengan dua kakak beradik itu. mengingat waktu yang pernah di habiskan bersama dengan mereka. sekarang Justin merasa hambar apa lagi jika mengingat tentang Namira, istrinya.
sementara dari kejauhan Alan masih berdiri di samping mobil mewah itu hampir satu jam lamanya. ia melihat kesedihan yang terpancar dari wajah tampan bossnya itu.
ting.
__ADS_1
sebuah pesan masuk ke ponselnya Alan. Alan membuka dan membaca sebuah pesan dari Indra yang menanyakan keberadaan Justin.
Indra
"dimana Justin Alan? "
Alan
"pak Justin saat ini lagi nyekar ke makam istrinya pak"
Indra
"oke. saya tunggu di kantor ya? ".
Alan
"baik pak. nanti saya beritahu pak Justin kalau udah siap".
Alan menutup ponselnya tatkala Justin mulai beranjak dari pemakaman itu. ia berjalan pelan seraya melihat kembali pemakaman sang istri sebelum ia masuk ke mobilnya.
Alan masuk dan memberitahu ke pada bossnya itu jika Indra, sahabatnya sudah menantinya di kantor sebelum ia menstarter mobilnya.
"kita ke kantor sekarang". titah Justin.
dalam perjalanan menuju kantor. Justin bertanya kepada Alan tentang keadaan perusahaan selama ia tak di Indonesia
Alan pun menjelaskan secara detail tentang apa yang ia lihat dan ia mata matai selama ini.
"semuanya baik baik saja pak. pak Indra mengemban tugasnya dengan baik. untuk dua perusahaan ini pak. baik yang di Jkt maupun yang di Bdg". jelas Alan jujur.
Justin tersenyum. ia senang dan bangga memiliki sahabat seperti Indra yang lebih bertanggung jawab terhadap tugas dan amanah yang di percayakan pada sahabatnya itu. tentu saja hal ini sangat bertolak belakang oleh sahabatnya yang satu lagi, Andra. yang lebih dulu menyerah jika di beri jabatan sesuatu.
Mungkin karena Andra seseorang yang tidak mau di ribetkan oleh persoalan Jabatan. buktinya ia menolak ketika di angkat Ceo untuk cabang perusahaannya yang di Sumatera. dan lebih memilih dengan terpaksa menjalankan amanah dari bapaknya karena rasa berbakti kepada orang tua.
setibanya di kantor belum juga Justin turun dari mobil. sahabatnya itu telah menunggu nya di depan gedung kantor tersebut. Justin mengernyitkan dahinya melihat tingkah sahabatnya itu.
"hei bro". sapa Indra sumringah seraya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Justin.
"gimana kabar lo Tin? ". tanya Indra.
Justin pun membalas pelukan sahabatnya itu.
__ADS_1
"I am okey friend? ". sahut Justin.
lalu mereka berdua pun melepaskan pelukan mereka. Indra mengajak Justin masuk ke kantor yang telah lama Justin tinggalkan. Justin masuk ke ruangan pribadinya bersama dengan Indra. ia memperhatikan setiap sudut ruangan yang tak pernah berubah sama sekali. semuanya masih sama seperti terakhir ia tempati. tetap bersih dan wangi dan terurus dengan rapi.
"masih sama bro. gue ga pernah ngutak ngatik ruangan lu. kecuali gue nyuruh OB buat bersihin dan rapiin aja". ujar Indra yang memperhatikan sahabatnya itu yang sedari tadi masih celingak celinguk memperhatikan ruangan pribadinya.
"makasih. tapi rencananya gue mau desain ulang ruangan gue". sahut Justin.
"ya terserah lu. ruangan ruangan lu juga. sukak ati lu bro. mau gue telpon sekarang desainer interior nya". sahut Indra.
"nanti ajalah kalau gue udah ke Mdn". ujar Justin.
"oke. kapan rencana lu berangkat? mau barengan sama gue. berangkat tiga hari lagi atau lu berangkat sendiri?". tawar Indra.
"gue berangkat besok. sendiri. gue mau ketemu sama Keyra. gue kangen sama dia". ucap Justin jujur.
"hehe.. iya deh. terserah lu. jadi lu belum mau gue pusingin soal kerjaan ni? ". tanya Indra hati hati.
"emang ada yang serius? ". bukannya tiap bulan laporan lu up to date sama seperti laporannya Andra? ". tanya Justin seraya mengernyitkan dahinya.
"iya sih. cuma setelah pesta pernikahan nya Andra. perusahaan kita udah sepakat mau buat buat even presentasi untuk jalur mahasiswa tingkat akhir lagi. itung itung cari asisten tenaga ahli yang baru". jelas Indra.
"oh ya?!". sejak kapan perusahaan kita menunda even tersebut?". tanya Justin penasaran, karena biasanya perusahaan nyalah yang selalu mendukung para mahasiswa yang memiliki bakat untuk bergabung di perusahaan nya.
"yahhh semenjak Ceo tampan dari perusahaan ini berduka". sindir Indra bernada canda.
"cih. ga lucu canda lu". ujar Justin sewot.
"ga usah di tanggapi serius bro. yuk ngopi? ". ajak Indra menenangkan hati sahabat nya itu.
"mmm. duluan aja lo. gue mau ke toilet lu". ujar Justin seraya masuk ke kamar pribadinya yang berada di ruangan itu.
Justin memasuki kamar pribadinya dan memasuki toilet. setelah nya ia keluar dari kamar mandi dan melirik ke arah ranjang. sepintas bayangan Midea terlintas begitu saja.
"Midea". desisnya seraya melirik ke arah ranjang yang di baluti seprai putih itu".
Justin pun teringat tentang momen pada sebuah event beberapa tahun lalu bersama istri gilanya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dukungannya untuk Novel ini dengan memberikan like, vote, komen, rate, fav dan share linknya ya readers.
__ADS_1
terimakasih