
# selamat membaca...
Ningsih yang masih terpaku pada sebuah nama. seketika itu juga melebarkan kelopak matanya mendengar suara bernada intimidasi yang berasal dari arah samping kirinya. hatinya berdebar debar takut. ia bergeming tak berani menatap Andra.
"apa yang kau lakukan Ningsih?! " tanya Andra kembali. masih dengan tatapan yang sama ia perlahan mendekati Ningsih yang masih memegang dompet dan secarik kertas putih yang telah berubah menjadi kartu.
Ningsih masih bergeming dengan jantung yang berdegup semakin kencang. Andra mengulur kan tangannya meminta barang yang berada di tangan Ningsih.
"kembalikan". pinta Andra dingin.
Ningsih menggenggam erat apa yang di pinta Andra. tentu saja hal ini membuat Andra semakin meradang.
"kembalikan yang bukan milik kamu Ningsih??!! ". pinta Andra seraya mengatup rapat gigi giginya karena menahan geram.
Ningsih pun meletakkan dompet dan kertas kartu tersebut ke telapak tangan Andra yang terbuka sedari tadi.
"maaf". ujarnya pelan seraya menundukkan wajahnya.
lalu berniat pergi meninggalkan kamar Andra.
tetapi langkah nya berhenti ketika Andra bertanya
"apa yang kamu cari? ". kenapa kamu begitu berani memeriksa barang pribadi orang lain?". atau kamu memang sengaja datang untuk mengintai sesuatu di rumah ini".
ucapan Andra begitu menohok dirinya. ia berbalik menatap Andra.
"apakah karena nama itu bapak menghindari pernikahan ini?". tanya Ningsih pelan.
Andra membisu. bagaimana pun alasan terbesar ia menghindari pernikahan nya dengan Ningsih adalah dirinya sendiri, yang hingga detik ini tidak merasakan getaran cinta sama sekali terhadap wanita manapun. jika pun dengan Jasmine ia hanya menganggap nya sebagai rasa kagum dan rasa suka yang terdalam. ia belum berani untuk mengatakan sesuatu perasaan yang lebih terhadap Jasmine.
"mas". panggilnya dengan maksud meminta jawaban.
"bukan urusan kamu Ning. lebih baik kamu keluar sekarang". usir Andra.
"baik mas. dan sekali lagi saya minta maaf". Pamit Ningsih seraya mengangguk hormat.
begitu sampai di depan pintu. Ningsih membalikkan kembali tubuhnya menatap Andra.
"jika dia yang mas cintai selama ini kenapa tak berusaha untuk mencari lebih keras lagi".
saran Ningsih.
"setidaknya mas tidak selamanya hidup dalam penasaran akan kepastian tentang perasaan mas". lanjutnya.
__ADS_1
"mas. tolong jawab jujur tentang perasaan mas. apa mas memang benar benar mencintainya? ".Tanya Ningsih kembali.
"bukan urusan kamu Ning dan jangan paksa saya. ". sahut Andra malas dengan amarah yang masih bisa di tahannya.
"keluar". titah Andra dengan sorot mata yang tajam.
"baik. paling tidak saat ini saya mengetahui isi hati mas yang sesungguhnya. maafkan atas kelancangan saya mas". pamit Ningsih lalu keluar kamar menuju kamar Indri yang menjadi kamar nya saat ini.
Ningsih duduk di tepi ranjang sembari menatap dinding kamar dimana bersebelahan dengan kamarnya Andra. netranya mulai mengkristal tetapi segera ia tahan agar air matanya tak tumpah, tatkala ponsel Ningsih berbunyi pelan di atas nakas. ia meraihnya dan melihat nama panggilan masuk dari kakaknya Andra.
ia menarik dalam nafasnya sebelum menjawab. setelah di rasa lega barulah ia menyentuh tombol hijau di layar ponselnya.
"iya mbak. ada apa? " sahut Ningsih pelan.
"maaf ya Ning. kamu lagi repot ga? ". tanya Indri hati hati.
"enggak mbak. kenapa mbak? ". sahut Ningsih.
"gini. mbak mau minta tolong sebentar boleh? ". tanya Indri.
"boleh mbak. mbak mau minta tolong apa? ". tanya Ningsih.
"mas Angga lagi ke luar kota. baby sitternya Anggie tadi sore pulang kampung. karena ibunya sakit. kamu nginap di sini semalam bisa? ". nanti mbak yang minta ijin ke ibu. ". jelas Indri.
"sekalian nanti mampir ke market terdekat ya. belikan kebutuhan Anggie. udah pada habis. nanti mbak kirim daftar barang yang mau di beli". sahut Indri.
"kamu punya uang kan. pakai dulu ya. nanti sampai di rumah mbak. mbak ganti semuanya". lanjut Indri.
"iya mbak". aku siap siap dulu ya?". sahut Indri.
"Assallmualaikum".Indri menutup telponnya.
"Waalaikum salam". sahut Ningsih.
akhirnya Ningsih pun bergegas membereskan barang barang pribadi miliknya untuk menginap semalam di rumah mbak Indri. paling tidak ia ingin menghindari Andra untuk malam ini.
Ningsih memutuskan untuk tidak lagi berharap akan menikah dengan anak majikannya itu. cukup sudah selama ini ia memendam perasaan sabar dan harapan yang terdalam akan balasan perasaannya dari Andra.
Ningsih keluar dari kamar menuju garasi untuk mengambil salah satu motor matic yang terparkir di situ. ia berpamitan pada ART di rumah dan juga supir dari bapaknya Andra yang yang tinggal di sebelah rumah induk.
sementara Andra yang mendengar bunyi mesin motor yang di nyalakan di halaman rumah, mengintip dari jendela kamarnya dan melihat Ningsih yang keluar dari rumah dengan menggunakan tas jinjing sedang.
Andra keluar kamar mencari ART ke dapur untuk bertanya perihal kepergian Ningsih.
__ADS_1
"bi". panggil Andra pelan.
"iya den". sahut ART tersebut.
"si Ningsih keluar malam malam mau kemana? ". tanya Andra.
"itu den. katanya non Indri minta di temeni di rumahnya. jadi di suruh nginap sama non Indri den". sahut si bibi.
Andra pun berlalu dari situ begitu mendapat jawaban dari bibi. ia pun tak ambil peduli dan kembali ke kamarnya.
...----------------...
di salah satu Super Market yang tak jauh dari rumahnya Indri. Ningsih membaca pesan dari ponselnya mengenai daftar belanjaan dari kebutuhan bayinya mbak Indri.
Ningsih memilih dan meneliti barang barang yang akan di masukkan ke troli belanjaannya. setelah di rasa memenuhi semua kebutuhan dari cucu majikannya itu. Ningsih pun menuju kasir untuk membayar.
tak lama kemudian ia menuju parkiran dan memberitahu ke Indri jika ia sekarang sudah selesai belanja dan mau menuju ke rumah Indri.
"mbak ada pesanam yang lain ga? ". biar sekalian di belikan". tanya Indri seraya menyimpan belanjaannya di bagasi.
"untuk sementara itu dulu Ning. makasih. ya udah kamu buruan ke sini. ini udah mau larut malam". pesan Indri.
"iya mbak ". sahut Ningsih.
Ningsih pun menstarter kan motornya menuju rumah Indri. waktu menunjukkan melewati jam sebelas malam. ia bergegas mengendarai motornya membelah jalan raya yang mulai tampak sepi. satu per satu kendaraan melewati dirinya yang berkendara dengan kecepatan rata rata.
Ningsih berbelok di jalan yang hanya bisa di lalui satu kendaraan roda empat saja. tiba tiba ia merasakan oleng pada ban belakangnya.
Ningsih terpaksa memberhentikan motornya. ia memeriksa ban belakangnya. dan benar saja ban belakangnya pun kempes parah.
Ningsih melihat ke kanan dan kiri untuk meminta pertolongan. tetapi tak satu pun manusia yang lewat. suasana tampak lengang. Ningsih mencoba menelpon Andra untuk meminta pertolongan tetapi dia urungkan karena kejadian tadi.
akhirnya Ningsih mendorong motornya menuju rumah Indri seraya melihat lihat ke sekeliling nya. mungkin saja ada bengkel yang buka di malam yang semakin larut.
baru beberapa meter ia melangkah. dari kejauhan terdengar deru mesin mesin motor yang sengaja di gaungkan untuk menunjukkan kehebatan motornya.
sekelompok motor tersebut semakin mendekat datang ke arahnya. mereka ber jumlah enam orang dengan lima motor dengan satu orang dibonceng oleh temannya.
mereka menghentikan motornya. dan bertanya ke Ningsih yang masih mendorong motornya. Ningsih tak menggubris nya. sebab memilih diam dan terus melangkah adalah hal yang tepat ia lakukan saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
selamat menunaikan ibadah puasa ya readers.
__ADS_1
jangan lupa buat like, vote, komem, rate, favoritnya