
# selamat menikmati episode ini
Jason kebingungan dengan apa yang terjadi. setelah gagal menyusul Justin. ia kembali untuk mencari tau apa yang terjadi.
Jason mendapati istrinya yang mematung menatap darah yang berceceran di lantai. jantungnya berdegup kencang melihat dan menyusuri darah yang berceceran di lantai. dan semakin terkejutnya ia melihat darah yang begitu banyak di satu lantai dapur yang telah bercampur dengan air galon yang tumpah. dan satunya lagi dekat meja racik.
ia melihat bi Muna dan satu ART lainnnya gemetaran di sudut dapur. mereka juga sama syoknya dengan Astrid. Jason menghampiri istrinya.
"bunda". panggilnya.
Astrid masih saja bergeming. hingga Jason menyentuh pundaknya dan memanggilnya kembali. barulah Astrid menyadari jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada Namira ketika Justin memanggil semua orang dengan panik tadinya.
"Namira yah. Namira!!". ia menyebut putrinya dengan cemas dan panik.
"iya bunda. sabar. kita ke rumah sakit sekarang". sahut Jason yang berusaha menenangkan hatinya dan juga istrinya.
lalu kedua orang tua itu pun menyusul putri satu satunya yang tinggal ke rumah sakit. dalam perjalanan ke rumah sakit pun Astrid dan Jason tak henti hentinya merapalkan doa untuk meminta keselamatan pada putri dan bayinya.
hingga beberapa menit kemudian. mereka tiba di rumah sakit dan langsung mencari putri dan menantunya. seorang perawat memberitahukan jika putri mereka harus dioperasi di karenakan sudah mengalami kritis ketika di bawa kemari.
secepat mungkin keduanya berjalan menyusul putrinya ke ruang operasi. setibanya di sana mereka mendapati menantu dan besannya tertunduk pilu di depan ruang operasi.
"Justin". Jason memanggilnya.
Justin mendongak dan memanggil mertuanya itu.
"Yah". sahut Justin terisak.
Jason merangkul Justin yang terlihat kacau dengan darah yang menodai kaosnya. begitu pun ia melihat Mona yang sama kacaunya dengan darah yang lebih banyak menodai long dress rumahannya. sementara Mona dan Astrid berpelukan dalam tangisnya.
lebih dari setengah jam mereka menunggu tanpa ada kabar kepastian keadaan Namira dan bayinya.
__ADS_1
sementara di ruang operasi seluruh dokter dan tenaga medis sedang berjuang menyelamatkan ibu dan bayinya yang sama sama kritis efek dari benturan keras yang menimpa mereka.
Namira yang sedari awal memang sudah di kondisikan banyak kehilangan darah akibat benturan di kepalanya dan juga mengalami pendarahan hebat pada kehamilannya. sehingga pihak medis harus mengoperasikan Namira untuk menyelamatkan bayinya yang juga diduga terkena benturan benda berat mengenai tepat di kepala sang bayi.
entah berapa liter kantong darah yang ikut membantu proses operasinya Namira. hingga bayi perempuan itu telah di keluarkan dari rahim ibunya pun tak ada tanda tanda jika bayi itu akan menangis.
para tenaga medis berusaha menyelamatkan sang bayi. sedangkan tenaga medis yang lain berusaha menyelamatkan sang ibu. detak jantung yang semakin melemah dan akhirnya berhenti dari keduanya membuat para medis semakin di rundung rasa cemas. bagaimana pun pasien kembali hidup dan sehat adalah prioritas utama dari tim medis tersebut.
"bangun bunda.. bangun. sayang dedeknya di tinggal". seorang dokter bedah memberi dorongan kepada Namira agar sadar seraya mencoba memompa jantung Namira agar kembali berdetak.
sementara dokter bedah kandungan lainnya terus menjahit rahim Namira yang menganga akibat sayatan pisau bedah dari proses pengambilan si bayi. ia pun juga di liput rasa cemas akan kondisi pasien tetapnya.
hingga segala cara di lakukan pun tak bisa mengembalikan detak Jantung Namira yang telah berhenti. selesai sudah. Namira di tetap kan meninggal dunia oleh tim dokter.
begitupun pada bayinya yang tidak bisa di tolong lagi. semua tim medis di ruangan tersebut tertunduk lesu. karena mereka gagal
menyelamatkan salah satu nyawa dari dua yang kritis.
di ruang tunggu
ke empat orang yang menyayangi Namira masih harap harap cemas menunggu kabar dari kondisi Namira yang sebenarnya.
hingga akhirnya pintu ruangan operasi di buka dan seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang lesu.
Astrid yang melihat arti tatapan Dokter kepada Justin, Jason, Mona dan dirinya seketika itu juga berderai air mata. firasatnya sama seperti Nadira ketika akan pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.
Dokter dengan berat hati menyampaikan kabar duka tersebut. Mona yang sebelumnya sudah syok di tambah semakin syok dan jatuh pingsan seketika itu juga.
Justin menangkap tubuh mamanya dengan perasaan yang hancur remuk. dalam isaknya ia memanggil nama istrinya seraya memeluk mamanya yang tidak kuat menahan berita menyakitkan ini.
sementara Jason dalam tangisnya memeluk sang istri yang mulai histeris memanggil nama putri satu satunya yang tertinggal. Jason dan Astrid benar benar tak menyangka akan di tinggal lagi oleh putri mereka.
__ADS_1
Dokter itu pun meninggalkan mereka dalam perasaan yang masygul.
selepas Dokter itu pergi. bersamaan dengan jenazah Namira dan bayinya di bawa keluar dari ruang steril tersebut.
Astrid dan Jason memeluk mayat putrinya dan bayinya. setelah perawat membawa Mona bawa pergi dari ruang tunggu tersebut. Justin pun langsung memeluk tubuh istrinya.
...----------------...
Jenazah Namira dan bayinya di bawa pulang untuk di makamkan hari itu juga. seluruh keluarga dan kerabat dekat yang mendengar kabar duka itu pun turut hadir memberikan dukungan sabar dan tabah serta turut berbelasungkawa.
tidak hanya keluarga bahkan kalangan pengusaha dan konglomerat lainnya yang mengenal dua keluarga itu pun turut hadir ke pemakaman yang mulai di barengi dengan gerimis yang mendekati senja.
Andra dan Indra mendampingi Justin yang hanya mematung menatap jenazah istri dan bayinya yang telah di bungkus kafan tersebut. yang akan segera di masukkan ke liang lahatnya masing masing.
Namira dan bayinya di makamkan dalam pemakaman keluarga Archidean di samping makam Nadira. maka ketiga makam tersebut kini telah berjejer rapi dengan nama masing masing yang terselip nama Archidean.
Justin menabur bunga untuk kedua kuburan baru tersebut. lalu diikuti yang lainnya. Justin berusaha tegar meskipun sebenarnya ia rapuh. di balik kacamata hitamnya ia tak henti hentinya mengeluarkan air bening yang sebenarnya pantang bagi lelaki yang memiliki prinsip hidup seperti dirinya untuk menangis meskipun dalam sesedih apapun.
...----------------...
Dari layar kaca flat di kamar hotel bayinya. Dea melihat sisi yang rapuh pada Justin. sisi rasa cinta yang terdalam dan kehilangan orang yang ia cintai. sayangnya hal itu bukan untuk nya dan memang tak pernah ada untuknya. melainkan untuk Namira.
tak ada kata yang bisa Dea ucapkan ketika menyaksikan pemakaman yang di liput berita tv nasional itu. jika kemarin kemarin ia begitu mendengki pada Namira tetapi saat ini ia mulai di liputi rasa bersalah karena hampir mencelakakan Namira.
"maafkan aku Namira". desisnya seraya memandang layar kaca tersebut.
Dea tak pernah menyangka jika madunya secepat itu meninggalkan dunia. Dea melirik ke arah jendela kamar hotel. gerimis mulai turun di senja ini seakan mengiringi kepergian ibu dan bayi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk Novel ini dengan memberikan like, vote, komen, rate, fav, dan poin
__ADS_1
terimakasih