
## wellcome back readers. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
Di sebuah ruangan Dokter yang berlicensi terbaik yang memiliki jam terbang tinggi dalam menangani pasiennya.
"kalian keluarganya?". Tanya dokter laki laki itu.
"ya". Sahut mereka bertiga serentak.
"sebelumnya sudah pernah di periksa?". Tanya sang Dokter yang masih asyik menatap hasil laporan medis milik Dea.
"sudah Dok". sahut ketiganya serentak juga.
Sontak membuat Dokter tersebut melihat ke arah mereka dan tersenyum tipis.
"sudah di obati?"tanya Dokter tersebut yang kini beralih dan memperhatikan hasil scan milik Dea.
"sudah Dok. Dan pernah di terapi juga". Sahut Retha.
Lalu sang Dokter menatap Retha dan berkata
"sekarang terpaksa di berhentikan kan?".terka dokter tersebut lalu melirik ke arah kepala lapas tersebut.
Sementara kepala lapas tersebut hanya diam membisu tanpa menunjukkan ke khawatiran nya sedikitpun.
"iya Dok". Sahut Retha mengangguk pelan.
"hmmm..tarikan nafasnya terdengar satu ruangan praktek dari dokter yang memiliki gelar master spesialis syaraf tersebut.
"masih ada si Gita di ruangan sebelah ga?". Tanya Dokter tersebut ke salah satu suster yang menjadi asistennya.
"sebentar pak saya check dulu". Sahut suster tersebut.
"kalau masih ada panggil Sagita ke sini ya". Titah sang Dokter.
"baik pak". Sahut sang suster yang segera berlalu di balik pintu.
Retha, Arjun, dan Rendy saling menatap heran. Masing masing terselip tanya di fikiran mereka. Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Seorang suster mempersilahkan masuk seorang wanita cantik yang berumur tak jauh beda dengan mereka bertiga.
"Dokter manggil saya ya?". Tanya Gita untuk memastikan kembali.
"iya. Sini kamu. Klien kamu gimana git?". Tanya Dokter tersebut kepada wanita cantik itu.
"yah lumayan membaik Dok. Terima kasih ya atas pelayanannya selama ini". Ucap Gita tulus.
"Gita. Bisa kamu jelasin kembali pada mereka semua tentang itu tu. Hak dari para napi. Mumpung ada kalapas di sini". Pinta sang Dokter.
Sagita memperhatikan empat wajah itu dengan seksama. Dan menatap sang Dokter kembali dengan heran.
Sementara kepala lapas mulai menundukkan wajahnya yang tadinya terlihat garang dan sok menantang.
"udah bacain aja. Biar mereka semua pada tau. Manusia ya tetap manusia biar sekalipun dalam penjara". dumel sang Dokter yang nada bicaranya terdengar kesal meskipun netranya masih bertumpu pada berkas medis milik Midea.
"baik Dok". Sahut Gita.
Lalu ia pun berdiri seperti hendak berpidato dan ia pun mulai lantang membacakan undang undang hukum mengenai Hak Hak azasi manusia termasuk Hak nara pidana.
__ADS_1
" Perlindungan hukum atas hak-hak Narapidana di Indonesia sebenarnya telah diatur dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Inti perlindungan HAM Narapidana UU Pemasyarakatan ialah".
Gita menghela nafasnya sesaat lalu mulai membacakan kembali hafalan undang undang hukum di luar kepalanya.
"Hak Warga Binaan Pemasyarakatan"
Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya;
Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani;
Mendapatkan pendidikan dan pengajaran;
Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;
Menyampaikan keluhan;
Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang;
Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan;
Menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya;
Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);
Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga;
Mendapatkan pembebasan bersyarat;
Mendapatkan cuti menjelang bebas; dan
Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku."
"udah selesai Ta?". Tanya Dokter tersebut.
"sudah Dok". Sahut Gita mantap.
"nah kalian dengar tadi yang pengacara ini bilang kan?!". Tanya nya tegas dan berusaha memastikan.
"iya Dok". Sahut ketiganya serentak kembali.
"bu". Tegur sang Dokter untuk meminta jawaban dari kepala lapas tersebut.
"i..iya Dok". Sahut kepala lapas tersebut.
"ibu tau kan undang undang tersebut?!". Tanya sang Dokter bernada tegas.
"tau pak". Sahut kepala lapas tersebut seraya menundukkan wajahnya kembali.
"kalau tau kenapa napi nya di biarin aja bu. cuma di obatin di klinik doang. Udah lebih dari enam jam pingsan ga bangun bangun . Udah setengah hari loh bu". Ucap sang Dokter bernada ketus.
"saya ga tau pak. Karena yang menangani napi yang pingsan tadi itu sama dokter yang berjaga tadi malam". Sahut kepala lapas berniat mengelak dari tanggung jawab.
"cih. Ya kan tetap aja seharusnya ibu yang harus kasih wewenang memberikan ijin kepada Dokternya untuk di bawa ke rumah sakit secepat mungkin. Ini malah di biarin aja". cetus sang Dokter bernada kesal.
"kalian bertiga. Habis ini jumpai pengacara yang nangani kasus saudara kalian itu. minta di buatin surat untuk menguatkan hukum saudara kalian agar mendapatkan hak perawatan intensif di sini". Titah sang Dokter.
__ADS_1
"iya pak". Sahut ketiganya.
"terus pasiennya gimana pak?". Tanya Retha penasaran mengenai tindakan medis selanjutnya di rumah sakit ini.
"aishhh...ya di rawat dulu lah. Jadinya mau di apain?". sahut sang Dokter.
"iya Dok. Maksud saya. Kita bertiga butuh penjelasan mengenai keadaan pasien Dok". Sahut Retha kembali.
"mmm...Dokter sebelumnya sudah pernah di jelasin mengenai sakitnya saudara kalian belum?".tanya sang Dokter.
"sudah Dok". Sahut Retha.
"jadi buat apa kalian mendengarkan teori penjelasan yang berulang ulang sementara kalian sendiri ga rutin mempraktekkannya. Jadi percuma juga. si pasien makin sakit. Saya juga capek". Cetus sang Dokter.
"nih saya tambahin lagi penjelasannya. Liat sini". Tunjuk sang Dokter saat hasil city scan Dea di tampilkan pada sebuah proyektor kecil di ruangan praktek tersebut.
"penggumpalan darah di otak yang pertama kali terjadinya benturan bukannya semakin membaik. Malah semakin memburuk. Merambah hingga ke sini ni gara gara keseringan terjadinya benturan pasca benturan pertama. Ini kalau di biarin lama lama pasiennya bisa....". Jelas sang Dokter yang tak mau melanjutkan kata katanya lagi.
"kalian mengerti kan maksud saya?"!. Tanyanya tegas ke tiga sekawan itu.
"iya Dok". Sahut ketiganya.
"bu". tegur sang Dokter ke kepala lapas tersebut.
"iya Dok. Saya mengerti". Sahut kepala lapas tersebut.
"jadi kalau mau saudara kalian itu sembuh. Lakukan yang seperti saya minta. paham kan?". Tanya sang Dokter untuk memastikan.
"iya Dok. Kita Paham". Sahut ketiganya.
"ya sudah itu saja penjelasan saya. Ga ada resep untuk hari ini. pengobatan via infus saja. kalian boleh keluar".ucap sang Dokter mengakhiri ceramahnya terhadap ke empat orang yang bersangkutan dengan pasien yang di rawat ruang intensif.
ke empat oranh itu pun permisi. Di susul Gita yang juga ikutan permisi ke dokter yang di segani tersebut.
"makasih ya gita". Ucap sang Dokter tulus.
"sama sama Dok". Sahut Gita seraya menganggukkan kepalanya.
Lalu ia pun bergegas keluar ruangan menyusul ke tiga sekawan yang telah di perhatikannya sedari tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo readers khususnya yang baru singgah ni. aku mohon di baca ya hingga tuntas. Jangan di boom like. Karena bisa menurunkan performa karyaku. Jadi aku mohon readers yang baik. Di baca hingga akhir. Bukan di like tanpa di baca . Oke readers. Terima kasih ya buat dukungannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel keduaku ini dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya.
Dan jangan lupa ya buat mem Follow akun ku ya readers
Di ig Hazhilka
Di NT Hazhilka279
#Hazhilka
__ADS_1
ig Zhil olshop
Terima kasih.