
# Selamat menikmati episode ini kembali ya readers.
seminggu kemudian...
Justin membaca laporan hasil tes DNA yang di kirim melalui ponselnya. ia tersenyum puas saat mengetahui hasilnya sama dengan dugaan nya selama ini. 99,9 % akurat tertulis dengan nama lengkap seorang wanita yang bernama Midea Hasxander.
"Midea". desisnya seraya tersenyum smirk.
"sudah aku duga jika itu adalah kamu. perempuan mana yang berani mengambil identitas orang lain selain kamu Midea". gumam Justin mengingat perangai buruk dari istri gilanya itu.
Justin tersenyum sinis sembari menatap ke depan memikirkan cara untuk mengungkap kan identitas Midea asli ke seluruh yang ia tipu selama ini termasuk adik sepupunya itu.
ting.
ponsel nya Justin kembali berbunyi. ia membaca pesan dari Satria yang memberitahukan jika dirinya akan keluar kota dengan Retha untuk beberapa hari. Justin tersenyum menyeringai, mungkin ini lah saatnya untuk bermain main dengan istri gilanya itu.
"lihat saja Dea sampai kapan kamu menutupi kebohongan mu pada mereka". gumamnya lagi.
beberapa jam kemudian...
Justin mengemudikan mobilnya menuju pabrik KBC siang ini. ia ingin melihat reaksi Midea saat dirinya menunjukkan bukti tes DNA tersebut.
sesampainya di sana Justin menghampiri sekretarisnya Satria.
"Rita tolong panggil mahasiswi yang bernama Jasmine untuk menghadap saya sekarang. tapi jangan bilang saya yang menyuruh kamu. bilang saja Satria yang membutuhkan nya saat ini". titah Justin.
"iya pak". sahut Rita.
"emm. maaf pak Justin. tetapi pak Satria telah memberitahu kan anak mahasiswinya itu untuk sementara dosen mereka tidak ada di tempat" sahut Rita yang tiba tiba teringat akan pesan Satria padanya beberapa jam yang lalu.
"aishh.. Satria". desis Justin pelan sedikit kesal.
"ya udah tak apa. bilang saja Pak Satria kembali sebentar karena ada perlu sesuatu kepada mahasiswi itu". titah Justin menyuruh sekretarisnya Satria untuk berbohong.
"baik pak. akan saya laksanakan". sahut Retha seraya mengernyitkan dahinya karena merasa heran akan tingkah Ceo nya itu.
__ADS_1
"memang ada masalah apa ya sama si Jasmine sampai sampai pak Justin nya yang bersikeras ingin bertemu dengan mahasiswi itu". gumam sang sekretarisnya Satria pelan seraya berjalan keluar dari ruangannya Satria.
lalu ia pun memberitahu kepada kepala bagian lab. untuk menyuruh mahasiswi yang di maksud Justin ke ruangan nya Satria. dan tanpa banyak bertanya kepala bagian lab tersebut menyuruh Dea untuk ke ruangan nya Satria sekarang.
Dea yang memang tidak pernah mencurigai apapun pada Satria tanpa membantah mengikuti titah kepala bagian lab tersebut. Dea melepaskan atribut labnya dan berjalan ke ruangannya Satria.
ia melemparkan senyum pada sekretarisnya Satria sebelum permisi masuk ke ruangan nya Satria. di dalam ruamgan tersebut Dea melihat kursi kebesarannya Satria menghadap pada rak dinding.
"permisi pak. bapak panggil saya? ". tanya Dea.
justin tersenyum kala mendengar suara dari istri gilanya itu. ia memutar kursi kebesaran milik Satria dan tersenyum menyeringai ke hadapan Dea yang kini berdiri dengan kagetnya. Justin semakin menyeringai puas melihat kekagetan di wajah Midea.
"silahkan duduk". sahut Justin dengan senyum yang di buat ramah tetapi menusuk ke jantung Dea yang merasa di tipu oleh kepala bagian lab karena memang di pikirannya pak Satria lah yang memanggil dirinya.
tetapi ternyata semua hanyalah tipuan Justin belaka yang memang ingin bertemu dengan Dea serta memang ingin menginterogasi nya hingga Dea mengakui kesalahan nya.
tetapi bukan Dea namanya jika ia tidak bisa bersikap setenang mungkin. Dea langsung bisa membaca situasi jika Justin ingin menginterogasi nya lagi sama di saat ia Meminta data perusahaan tempo lalu untuk skripsi nya.
"terimakasih". sahut Dea datar dan memilih duduk di sofa yang berada di sudut ruangan tersebut.
"apa kabar istri yang terpaksa ku nikahi". ucap Justin bernada mengejek dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke wajah Dea.
Dea sontak menatap Justin dengan kedua ujung matanya tat kala mendengar kata kata Justin barusan. mungkin dengan penyebutan kata Midea saja lantaran dirinya ketahuan menggunakan identitas palsu ia tidak begitu terkejut.
akan tetapi ini, penyebutan kata istri untuk dirinya lah yang membuat ia terkejut meskipun ada kata terpaksa di ujung kalimat Justin. karena bagaimana pun selama menikah dengan Justin. Justin tak pernah menyebut kata kata istriku untuk dirinya, semua kata kata romantis itu untuk almarhumah madunya.
lalu Dea tersenyum dengan senyum di buat semanis mungkin.
"bapak kenapa? ". lagi kangen sama istri bapak ya? "tanya Dea pura pura lugu.
tentu saja hal ini membuat Justin terhenyak. ia langsung berdiri tegak dan menatap Dea seraya memicingkan kedua matanya. ia pikir Dea akan salah tingkah karena dirinya berhasil menunjukkan hasil tes DNA milik wanita yang ada di hadapannya ini. sama saat sikap Dea yang ketakutan saat ketahuan menipu dirinya dengan hasil usg nya beberapa tahun lalu.
kenyataannya di luar expectasi Justin. Dea semakin terasah bakat menipu nya. ia tidak terlihat gentar sedikit pun. dan semakin tidak tau malu menggunakan identitas dari seorang gadis yang tak tau apa apa.
"hah. bakatmu semakin terasah saja ya Midea. tetapi bagaimana jika aku membawa kertas ini kehadapan orang orang yang selama ini kau tipu termasuk dosen dan istrinya yang selama ini mempercayai mu sayang". cibir Justin dengan nada mengintimidasi.
__ADS_1
"apa kamu akan tetap keukeh menjalankan peranmu sebagai gadis polos". lanjutnya.
Dea terdiam sesaat yang di katakan Justin adalah sebuah ancaman untuk dirinya sekarang. tetapi ia tidak boleh pasrah dan menyerah dengan suami yang tak pernah menganggap dirinya.
"maaf pak. saya rasa bapak lagi kurang sehat. sebaiknya bapak beristirahat saja". elak Dea seraya bangkit dari duduknya dan berniat pergi dari sana.
Justin tidak melepaskan Dea begitu saja. ia langsung menarik lengan Dea dengan kasar sehingga tubuh Dea berhadapan dengan tubuh Justin. lalu Justin menghempaskan nya ke sofa yang tadi.
Justin langsung mengurung tubuh Dea yang kini bersandar di punggung sofa dengan kedua tangannya. Justin menatap tajam ke wanita yang telah memporak poranda kan hidupnya dulu.
sementara Dea yang berada dalam kungkungan Justin juga menatap tajam ke dalam mata yang memiliki warna yang sama dengan putranya. entah kenapa ia tidak takut sedikitpun saat seperti ini. ia sudah bertekad akan melawan Justin hingga akhir.
"kamu pikir kamu bisa lolos dengan begitu mudah Midea. tidak akan semudah itu. kamu sudah masuk ke dalam keluarga ku terlalu dalam. berani beraninya kamu menipu semua orang yang ada di sini Midea". ucap Justin kesal seraya mengatup rapat giginya.
"oh ya??. kalau yang bapak maksud kan begitu saya tidak merasa bersalah pak. karena mereka yang merekrut saya". sahut Dea dengan tenang pada hal jantungnya memacu kencang.
"cih. benar benar perempuan tidak tau malu". cibir Justin ketus.
"aku peringatkan Midea. aku beri kamu tiga hari lagi setelah Satria pulang dari survey nya. kamu harus mengakui siapa diri kamu yang sebenarnya. jika tidak. maka aku sendiri yang akan membuat kamu kembali ke asalmu". ancam Justin.
"sekarang pergilah aku beri kamu waktu hanya tiga hari Midea". ucap Justin dan melepaskan Midea dari kungkungan tangannya.
Midea dengan segera bangun dan pergi dari hadapannya. ia tersenyum sembari menatap sinis ke Justin.
"kamu pikir aku akan takut dengan ancaman kamu Justin. lihat saja yang akan aku lakukan pada keluargamu jika kamu berani macam macam denganku Justin". bathinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel keduaku ya readers dengan memberikan like, vote, komen dan favoritnya. dan share linknya ya readers yang caem
terimakasih
Follow my ig
Hazhilka279
__ADS_1
#Hazhilka