
# selamat membaca kembali...
Di kediaman keluarga Ardiansyah
usia kandungan Namira telah memasuki tujuh bulan. yang itu artinya keluarga Ardiansyah dan Archidean kembali memperdebatkan masalah acara siraman untuk Namira.
Dimana keinginan bunda Astrid hanya ingin Namira di buat acara siraman yang sederhana saja. hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat tanpa harus diliput oleh media.
sedangkan Mona justru sebaliknya. dengan dalih alasan tidak akan membeda bedakan antara cucu pertama dengan cucu kedua.
sementara masing masing suami memberi pengertian pada istrinya. agar saling mengalah satu sama lain. tetapi yang namanya ibu ibu pasti egonya lebih tinggi dari pada suami. yang ada berdebat dengan ibu ibu cantik tersebut hanya menghabiskan waktu. hingga akhirnya mau tak mau Justin dan Namira ikut turun tangan.
"ya sudah. ga usah di buat aja sekalian. gitu aja repot". ujar Justin yang memang sudah mendengar perdebatan dua orang tua itu.
"Jangan!!". sahut Astrid dan Mona bersamaan
"Jangan ga di buat dong. sayang babynya". sahut Mona.
"iya Tin. sayang. masa ga di kenduriin sih?? ". timpal Astrid.
"iya. habisnya bunda sama mama kayak anak kecil sih. seperti rebutan mainan apaaaaaa gitu". omel Justin.
"iya deh. ga lagi kita berdebat. iya kan bun? ". Mona mengedipkan matanya tanda berdamai.
"iya. kita ga berdebat lagi deh. " . balas Astrid yang langsung tau arti kedipan mata besannya.
"baguslah". sahut Justin
"gini kan enak kalau mama sama bunda bisa akur. jadi mengenai acara kita. mama sama bunda jangan berdebat lagi. okey mama. okey bunda". lanjut Justin memberi ultimatum.
sementara Namira hanya menggigit bibirnya. satu sisi ia merasa geli tetapi satu sisi lain ia merasa tak enak hati. lantaran melihat kedua nenek Keyra itu sedang di omeli oleh papa dari cucunya.
"iya". sahut kedua nenek yang masih terlihat cantik itu meskipun dengan wajah yang kesal.
"jadi kira kira kamu maunya di buat acaranya yang seperti apa? ". tanya Mona penasaran.
"ntar aja deh di bahas. biar aku sama Namira yang rembuk konsepnya kayak apa untuk tujuh bulanannya. ya kan sayang?". sahut Justin seraya melihat istrinya.
"iya. pokoknya mama sama bunda ga usah repot repot deh. karena aku sama kak Justin punya konsep sendiri untuk acaranya. mama sama bunda nyantai nyantai aja". timpal Namira.
"tu. dengerkan. yang punya hajat aja udah punya konsep sendiri. ngapain mama sama bunda pusing pusing". omel Justin kembali.
lalu ia melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu untuk bekerja meskipun tiga jam lagi akan memasuki jadwal isoma untuk seluruh karyawannya.
"yuk yang. antar aku ke depan ya? ". ajak Justin seraya merangkul pinggang istrinya yang mulai melebar itu.
Namira pun mengikuti ajakan Justin. meskipun hanya sekedar mengantarnya ke garasi.
__ADS_1
sementara dua nenek cantik itu di tinggal bengong oleh anak anak mereka.
"memang acaranya mau di bikin kayak apa sih. kok jadi penasaran ya? ". gumam Mona yang masih saja menatap punggung anak dan mantunya itu.
"iya sama. aku juga mbak". timpal Astrid yang mendengar gumamannya Mona.
di Garasi..
"kak". panggil Namira.
"hmm. iya yang". sahut Justin yang masih memeluk istrinya itu.
"tadi di dalam kakak kok gitu banget sih marahin mama sampe segitunya. aku kan jadinya ga enak sama beliau". ujar Namira.
Justin tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"ga papa yang. memang mama tu sesekali mesti di gitu in. suka banget berdebat sama hal yang ga penting yang". sahut Justin.
"udah kamu ga usah merasa ga enak hati gitu. biar mama tu mikir. ga semua orang suka sama pendapat nya beliau". lanjut Justin.
"biar jadi pembelajaran buat orang tua kita yang". ujar Justin seraya mencubit gemas hidung mancung istrinya itu.
"ihh kak. apaan sih. sakit tau ". rengek Namira manja.
Justin terkekeh gemas melihat tingkah istrinya.
"udah ya. papa mau berangkat kerja dulu". ucap Justin.
"papa kerja dulu ya dek". sapa Justin kepada bayi yang di dalam perut istrinya itu.
Namira mengelus pelan kepala suaminya itu dan berkata
"hati hati papa. cepat pulang ya".
Justin tersenyum lalu ia pun masuk ke mobilnya. meninggalkan sang istri seraya melambai kan tangannya.
"love you". desisnya.
sementara Namira membalas lambaian sang suami dan berucap pelan
"love you too".
...----------------...
Cindy membereskan barang barangnya yang masih tersisa di kamar kostnya ketika ia masih menyamar menjadi Ningsih.
Cindy memperhatikan setiap sudut kamar tersebut. sejak ia di bolehkan pulang dari rumah sakit. dan penyamarannya pun harus berakhir. Cindy memutuskan untuk kembali kepada keluarganya.
__ADS_1
karena bertahan di lingkungan keluarga Airlangga pun percuma. Cindy benar benar kehilangan muka karna dustanya. meskipun pada awalnya semua terjadi tanpa di sengaja.
tetapi Cindy membiarkan semua berlarut dalam kesalahpahaman yang di lakukan oleh nyonya Airlangga tersebut. Cindy menikmati perannya sebagai Ningsih dengan harapan bisa menikah dengan Andra, putra satu satunya dari keluarga Airlangga yang sedari awal memang ia sukai.
setelah meminta maaf pada ibu dan bapaknya Andra. Cindy meminta ijin pada sang papa yang selama ini menemani nya. untuk bisa mengambil barang barang miliknya yang ada di kost an nya.
"sudah siap sayang? ". tanya si papa. yang menyusul masuk ke kamar kost putrinya.
"udah pa". sahut Cindy dengan wajah sendu.
"ayok. kita pulang sekarang". ajak si papa seraya mengambil koper putrinya untuk di bawa masuk ke bagasi mobil.
Cindy mengangguk pelan dan mengikuti ajakan papanya memasuki mobil dan meninggal kan kota yang memberinya banyak pembelajaran.
...----------------...
di kediaman keluarga Airlangga
Ibunya Andra masih mengerjakan tugas dapur tanpa berbicara sedikit pun. sedangkan para Art menatap bingung pada kelakuan majikannya.
Indri yang mengetahui penyebab nya segera langsung menjumpai ibunya di dapur.
"bu". panggil Indri.
tetapi si ibu tak menyahut. dan tetap melanjutkan pekerjaan nya mencuci piring di wastafel.
"bu. udah ya bu. istirahat dulu. nanti ibu sakit". ujar Indri seraya mengambil piring yang di pegang si ibu.
tetapi si ibu masih bergeming seraya tangannya mengambil piring kotor lainnya.
"bu !".panggil Indri lebih keras.
"udah dong bu. yang terjadi ya udah terjadi. ibu ga usah pikirin lagi. nanti ibu sakit". ucap Indri lebih keras.
si ibu menghentikan aksinya sejenak. dan berkata pelan
"semua salah ibu Dri. seandainya ibu ga gegabah menjodohkan adikmu. mungkin Andra ga buru buru pergi". ucap si ibu dengann penuh penyesalan.
"ibu ga nyangka gadis sepolos Ningsih bisa membohongi ibu dan sekeluarga". lanjutnya sendu.
"bukan salah ibu. ibu ga salah kok. ibu kan coba bantuin dia". ujar Indri seraya mengelus pelan punggung sang ibu.
"udah ya bu. kita lupain masalah Ningsih. kita ambil hikmahnya buat pembelajaran kita ke depannya. ya bu? ". ujar Indri.
si ibu manggut manggut setuju.
"yok. kita ke kamar". ajak Indri.
__ADS_1
lalu anak dan ibu itu pun beranjak meninggalkan dapur menuju kamar si ibu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...