
# Selamat menikmati episode ini kembali ya readers.
Midea menghampiri ruang sekretarisnya Andra dan mengatakan tujuannya. sang sekretaris yang memang sedang menunggu kedatangan mahasiswi yang bernama Jasmine itu langsung menyambut nya.
"dek Jasmine ya. mari ikut saya. sudah di tunggu bapak di dalam". ujar sang sekretaris tersebut.
"di tunggu? ". gumamnya pelan seraya mengernyitkan dahinya.
Midea berfikir untuk apa Justin menunggu dirinya jika hanya untuk memberikan berkas yang sebenarnya masih bisa di titipkan pada wakilnya atau pun sekretarisnya.
"ayo silahkan masuk". Sekretaris itu pun mempersilahkan Midea untuk masuk
Dea menarik dalam nafasnya sesaat sebelum melangkah masuk ke ruangan yang di tuju. Dea melihat Justin dengan tatapan yang sulit di artikan. ia menelan kasar salivanya mencoba merilekskan fikirannya yang mulai menimbulkan banyak pertanyaan.
sementara masih di kursi kebesarannya Justin memandang Midea dengan tatapan dingin dan mempersilahkan Midea untuk duduk. Midea pun duduk di sofa yang ada di hadapan meja kerjanya Justin.
Justin bangun dari duduknya seraya membawa berkas dari sekretarisnya Andra untuk di tanda tangani oleh Midea dan memilih duduk tepat di hadapan istri gilanya itu.
sekretarisnya Andra datang membawakan minuman untuk mereka berdua. dan mempersilahkan tamu dan bosnya untuk menikmati secangkir teh hangat.
masih menatap dingin Justin mempersilah kan Midea untuk minum setelah kepergian sang sekretaris. Midea pun meminum minuman tersebut.
Justin menatap dingin Midea dengan pandangan yang mulai menjijikkan baginya di balik hijab dan kacamata kemunafikan nya. di mata Justin saat ini Midea tak ubahnya seorang wanita licik yang berlindung di balik identitas gadis yang suci.
Justin meletakkan berkas tersebut di atas meja dan mendorong berkas tersebut ke hadapan Midea.
"silahkan". ucapnya datar.
Midea pun membuka map berwarna coklat tersebut. membacanya sesaat lalu menandatangi berkas yang di maksud. lalu menyerahkan kembali ke hadapan Justin.
Justin memperhatikan tanda tangan lengkap milik Jasmine yang di tiru oleh Midea. dia menarik sudut bibirnya dengan sinis.
Midea menunggu sesuatu dari Justin yakni berupa data perusahaan untuk kelengkapan skripsi nya. tetapi hingga kini Justin belum juga menunjukkan tanda tanda akan memberikan sesuatu yang telah di sepakati.
"maaf pak. apa boleh saya pergi sekarang? ". Dea mencoba bertanya dengan hati yang di buat setenang mungkin.
"silahkan". jawab Justin datar.
"tapi pak. datanya?". tanya Dea bernada meminta
Justin tersenyum.
"saya sendiri yang akan menyerahkan pada Jasmine". ucap Justin datar seraya mempermainkan sebuah amplop sedang di tangannya.
Midea mengernyitkan dahinya seraya menatap amplop yang ada di tangan Justin.
"saya sudah menandatangi seperti yang bapak minta. berarti saya sudah boleh membawa pulang datanya kan? ". ucap Dea.
"saya sendiri yang akan menyerahkan data ini pada Jasmine!". sahut Justin datar dan tegas.
"maksud bapak apa? ". tanya Midea tak mengerti.
__ADS_1
Justin tersenyum sinis. dan menatap Midea tajam.
"saya sendiri yang akan menyerahkan pada Jasmine yang asli. Mi.... De.... A". ucap Justin sarkas dengan tatapan penuh intimidasi.
Midea terhenyak saat namanya di ucapkan oleh Justin. jantungnya memacu cepat ia berusaha tenang seraya mengepalkan tangannya.
Midea tersenyum dengan sikap di buat setenang mungkin.
"saya rasa bapak mungkin salah paham. dan saya tidak mengerti yang bapak katakan. saya di sini karena pak Satria yang meminta data perusahaan secara langsung. tapi jika bapak keberatan kalau saya yang membawanya ya sudah tidak apa apa. saya tinggal melaporkan saja pada pak Satria". ucap Midea tenang seraya tersenyum mengejek.
karena kali ini ia bertekad melawan Justin. mengingat ia begitu yakin jika pak Satria akan membelanya.
Justin terdiam menatap Midea yang tidak terlihat gentar sedikit pun. kali ini ia membiarkan istri gilanya itu lolos dengan meletakkan amplop tersebut di atas meja. ia ingin melihat pergerakan Midea sejauh apa.
Midea tanpa ragu mengambil amplop tersebut.
"terimakasih pak. saya permisi". ucapnya tenang dengan jantung berdegup kencang.
lalu ia pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Justin di ruang yang mulai terlihat menginterogasi dirinya. tetapi untung nya Midea bisa menggunakan nama Satria sebagai penolong dirinya. karena jika hari ini ia tidak mendapatkan data tersebut dari Justin. maka sudah pasti ia akan meminta tolong pada Satria.
"untungnya aku bisa lolos kali ini". bathinnya.
sepeninggalnya Midea Justin mengambil mug gelas bekas yang di minum Dea.
"kali ini aku akan membuktikan siapa kamu yang sebenarnya Midea". gumam Justin.
ia mengirim pesan ke Alan agar segera ke kantor jika sudah sampai di Mdn.
...----------------...
"ini pak". ucap Midea seraya menyerah kan amplop coklat yang berisi data perusahaan kepada Satria.
Satria tersenyum dan mengambil amplop tersebut dari tangan Midea.
"iya". ucap Satria lalu ia pun mengambil amplop tersebut dari tangan Midea dan membuka nya.
ia memeriksa kembali dengan seksama.
"fine. nanti tinggal kamu tambah dan kalkulasi saja dengan yang sudah kamu teliti slama ini ya Jasmine. nanti bisa terlihat hasil baiknya berapa persen untuk bisa di gunakan dan berapa persen efek samping nya". jelas Satria memberikan kertas kertas tersebut kepada Dea.
"iya pak" sahut Midea seraya mengambil kertas kertas tersebut.
akhirnya Midea pun melaksanakan apa yang di jelaskan oleh Satria tadinya. ia memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan.
...----------------...
beberapa jam kemudian....
Alan memasuki ruang kantor Justin. dan mendapati bosnya itu sedang memikirkan sesuatu.
"pak". panggilnya pelan.
__ADS_1
Justin menatap Alan dan mengeluarkan mug gelas dari lacinya yang sudah ia baluti tisu putih dan plastik.
"periksa sidik jari di gelas ini. jika perlu tes DNA nya sekalian dengan barang barang milik Midea di dalam apartemen saya yang dulunya Dea tinggali". ucap Justin.
Alan mengerutkan keningnya. di kepalanya mulai bermunculan sejuta pertanyaan tentang maksud dari bossnya itu. tetapi ia pun tidak akan menanyakan langsung pada bossnya. ia akan menemukan jawabannya sendiri nantinya.
"baik pak". sahutnya.
Alan mengambil mug gelas tersebut dan membawanya keluar dari ruangan Justin menuju rooftop. menaiki Heli untuk kembali ke Jkt saat itu juga.
sesampainya di Jkt Alan pun langsung menuju ke apartemennya Justin yang dulunya sempat di tinggali Midea. dengan menggunakan keycard cadangan dari kantor pusat. Alan pun segera mencari sesuatu barang pribadi milik istri gila bossnya itu.
Setelah mendapatkan barang pribadi milk Dea maka Alan akan membawanya ke laboratorium untuk di proses pemeriksaan sidik jari dan DNA dari seseorang yang di maksud bossnya itu.
tetapi baru juga melangkah keluar dari apartemen bossnya itu. Alan melihat kunci mobil milik Justin yang tergeletak di lantai begitu saja.
Alan baru menyadari jika ada satu mobil pribadi milik Justin yang belum ia check rekaman Dash camnya.
maka ia pun mengambil kunci mobil tersebut berjalan ke arah parkir di mana mobil mewah milik Justin berada. ia pun segera mengambil rekaman dash cam tersebut untuk di periksa d kantornya.
next chap
Alan menemukan sesuatu yang berhubungan dengan menghilang nya midea selama ini
apakah itu??
stay terus ya di sini...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel keduaku ya readers dengan memberikan like, vote, komen dan favoritnya. dan share linknya ya readers yang caem
terimakasih
Follow my ig
Hazhilka279
#Hazhilka
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel keduaku ya readers dengan memberikan like, vote, komen dan favoritnya. dan share linknya ya readers yang caem
terimakasih
Follow my ig
Hazhilka279
#Hazhilka
__ADS_1