
Andra mengacak ngacak rambutnya kasar. kesal itu yang di rasakannya. pasalnya cuti tahunan yang sengaja dia ambil. selain menjenguk ibunya yang sakit, ia juga ingin menghabiskan liburan nya bersama teman temannya yang masih jomblo.
tetapi yang terjadi malah dia di paksa menikah dengan gadis yang baginya sama sekali tidak pernah membuat nya tertarik. jika ia di jodohkan oleh seorang gadis yang cantik lain ceritanya, mungkin masih bisa ia terima, tetapi ini bikin membuat dirinya bergidik ngeri.
"puff. bikin kesel aja ni si ibu". keluh Andra ketika ibunya mengomeli dirinya karena ia masih duduk merokok dengan santai di balkon kamar miliknya.
"Andra buruan. cepetan. kasian itu si Ningsih sendirian di rumah sakit". omel ibunya lagi.
"iya iya. sebentar." sahut Andra kesal seraya bangun dari duduknya.
"ihh bikin repot sekampung tu anak. pake acara masuk rumah sakit lagi". dumel Andra sambil keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
setelah ibunya keluar dari rumah sakit. gantian sekarang si Ningsih yang harus di rawat di rumah sakit karena sakit. menurut diagnosa dokter Ningsih sakit karena kecapekan akibatnya Ningsih mengalami tipus yang menyebabkan Ningsih demam tinggi.
"ibu sih pake acara si Ningsih suruh kerja di Jakarta segala. trus jagain ibu lagi d rumah sakit. jadinya kan ngerepotin". dumel Andra yang masih fokus pada setirnya.
"huss kamu itu ya kalau ngomong sembarangan. ibu itu kirim Ningsih ke Jakarta biar dia banyak belajar dan lebih dekat sama kamu". sahut ibunya.
"iya tapi akukan di sana cuma sebentar. cuma gantiin si Justin karena istrinya tahun lalu hamil bu". sahut Andra.
"lagian siapa juga yang mau nikah sama gadis sejelek itu". gumam Andra
tetapi gumamannya di dengar oleh si ibu yang langsung menjewer telinga anaknya.
"awww... sakit bu". jerit Andra.
"biarin. kamu ya bisanya menghina orang saja. mulut di jaga. awas ya kalau ibu dengar kata kata itu lagi". omel ibunya.
beberapa menit kemudian. ibu dan anak tersebut masuk ke sebuah sebuah kamar VVIP rumah sakit. ibu meletakkan paket makanan di samping nakas. sementara Ningsih masih tertidur pulas karena efek obat yang setengah jam lalu di minumnya.
Ibu meraba kening Ningsih yang masih hangat. sementara keringat mulai bercucuran di dahi Ningsih.
Indri dan beberapa perawat masuk untuk memeriksa keadaan Ningsih.
"bu kapan nyampenya?". kok ga bilang bilang mau kemari". tanya Indri si sulung.
"ibu buru buru. takut si Ningsih ga ada temennya di sini". ujar si ibu. seraya memperhatikan Indri memeriksa keadaan Ningsih yang kebetulan menjadi salah satu pasiennya.
"kan ada aku yang bisa lihat lihat sebentar". sahut Indri yang terus saja memeriksa.
"tidurnya pulas banget ya?". gumam Indri.
" iya kayak batang kayu" sambar Andra seraya terkekeh geli.
"huss kamu ini ya . masih saja suka menghina orang aja taunya". omel si ibu.
__ADS_1
"ibu mau pulang sama aku? ". bentar lagi jadwal dinasku selesai bu". tawar Indri.
"ya udah boleh juga. biar si Andra yang jagain si Ningsih malam ini". sahut si ibu.
"loh loh kok aku bu. masa aku harus nginap di sini". protes Andra ketika mendengar titah si ibu.
"bukan muhrim bu. mana boleh". protes Andra kembali untuk menghindari titah sang ibu.
"makanya di rawat biar cepat di halalin. coba seandainya tahun lalu kamu ga menghindar terus buat nikahi Ningsih. kan tahun ini bisa jadi ibu udah nimang cucu selain dari kakak kamu". omel si ibu.
"cucu lagi. cucu lagi. kayak ga ada alasan lain aja. memangnya apa ga cukup anak yang dari mbak Indri" protes Andra kembali.
"ga. ibu mau dari kalian berdua. anak anak ibu. minimal masing masing satu pun boleh". sahut si ibu mulai putus asa melihat sang putra yang suka memprotes.
"udah ah. ibu suka maik darah kalau menghadapi kamu. pokoknya malam ini kamu jagain calon istri kamu". titah si ibu.
"yuk Indri. kita pulang sekarang. jengkel ibu lama lama kalau menghadapi adik kamu". ajak si ibu kepada putrinya.
sepeninggalnya ibu dan kakaknya di ruang vvip tersebut. Andra sendirian sedang memainkan ponselnya. ia terus asyik membalas chat dari kedua sahabat nya.
Indra
"selamat menjaga calon bini lu. lu pesta jangan lupa ngundang ngundang".
Andra
Indra
"jangan takabur lu. ketelen kata kata sendiri lu ntar kayak si Justin
Justin
"kok gue?? ".
Indra
"ogah ngawinin bocil. ga tau nya bucin ma bocil 😃".
Justin
"😊"
Andra
"😂😂😂. kalo bocilnya cantik ya gue mau. ini amit amit deh gue. mana tidur kayak batang kayu ga pindah pindah dari tadi".
__ADS_1
Justin
"lu check sana. kali aja.... "
Indra
"iya An. udah periksa aja dulu. masih bernafas ga? "
Andra melihat ke arah ningsih yang masih saja tertidur. kali ini wajahnya Ningsih saling berhadapan. ia tertidur tanpa kacamata cupunya. Andra melihat Ningsih begitu berbeda tanpa kacamata tersebut. ia meninggalkan ponselnya yang masih berlangsung percakapan di antara kedua temannya begitu saja.
Andra bangun berjalan mendekati brankar di mana Ningsih masih tertidur pulas. bahkan dengan infus di tangan kanannya. ia melirik ke atas dimana botol yang terisi air infus tinggal sedikit sekali. ia menggeleng heran. lalu mematikan selang infus tersebut, agar darah tidak di sedot melalui jarum yang di hubungkan melalui pembuluh darah gadis tersebut.
"saking batangnya lu tidur. mungkin darah lu di sedot naik ke selang infus pun lu ga tau". dumelnya heran.
Ia melihat ke tangan Ningsih seraya mengernyitkan dahinya. kulit tangannya terlihat terang di bandingkan yang ia jumpai hampir beberapa hari yang lalu.
"bunglon kali ni anak. bisanya warna kulit berubah ubah". gumamnya.
"ma".
Andra mengernyitkan dahinya. ia seperti mendengar sesuatu dari mulut Ningsih
"ma"
Andra menajamkan kembali pendengarannya dan mendengar isakan dari mulut Ningsih
"maaf"
Andra memandang Ningsih yang terisak dalam tidurnya. ia menyentuh dahi Ningsih yang mulai panas kembali. ia mengambil thermometer infra red dan cukup mendekatkan pada bagian tubuh tertentu, ia memilih mendekatkan thermonya ke dahi Ningsih dan nyalakan.
sensor sinar inframerah yang membaca panas tubuh menunjukkan angka 39,1
"ya tuhan Ning. panas banget tubuh lu". gumam Andra.
lalu ia memencet tombol darurat. tak lama kemudian Dokter dan perawat jaga masuk. mereka memeriksa kondisi Ningsih serta menyuntikkan satu vial pereda panas di infus yang baru.
setelah di rasa cukup stabil dengan kondisi Ningsih mereka pamit dan meminya Andra agar menghubungi mereka kembali jika keadaan darurat.
"Dokter". panggil Andra
"tadi dia menggigau gitu. itu ga apa apa? ". tanya Andra penasaran.
"ga apa apa pak. itu kondisi normal di karenakan imun sedang bekerja extra pada kondisi sakit sehingga menyebabkan gangguan pada tidur. itu normal pak". jelas dokter yang berhijab tersebut.
"saya permisi pak". pamit sang Dokter dan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Andra melirik ke Ningsih yang mulai tenang. ia memilih duduk di samping brankar dengan terus memandang wajah Ningsih yang terlihat familiar baginya tanpa kacamata cupunya.
"who are you? " gumamnya pelan