She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
Sebuah Nama


__ADS_3

# selamat membaca...


hampir seminggu Ningsih beristirahat di rumahnya ibu Andra, yang berarti juga ia di tempatkan di kamar nya Indri dulu ketika masih gadis. yang mana letaknya bersebelahan dengan kamarnya Andra.


jadwal pernikahan akan di adakan tiga hari lagi yang hanya di hadiri oleh keluarga. atas permintaan Andra.


selama berada di rumah keluarga Andra. Ningsih di perlakukan istimewa. ia tak boleh melakukan pekerjaan rumah sedikit pun. ibu Andra ingin membuat Ningsih tampil cantik. saat menikah nanti.


seperti hari ini. ibunya Andra sengaja menyuruh Andra mengantarkan Ningsih ke klinik kecantikan agar mendapatkan perawatan. awalnya Andra menolak secara halus. hingga akhirnya Andra harus menolak secara kasar karena sang ibu memaksanya.


"untuk apa sih bu? bikin repot aja lah. kalau memang dasar nya jelek ya jelek ajalah. pake ke salon segala. emang tu anak Cinderella bisa berubah cantik kalau di bedak in sama di pakein lipstick". cibir Andra dan beranjak pergi meninggal kan sang ibu yang mengurut dada.


dan tanpa ia tau jika Ningsih mendengar cibiran dari Andra untuk dirinya. Ningsih menarik dalam nafasnya. ia hanya butuh sedikit kesabaran agar pernikahan nya terlaksanakan. ia percaya jika suatu saat pak Andra akan menerima nya sebagai istri.


...----------------...


Andra duduk menyendiri seraya mengisap dalam batang rokok kesukaan nya di sudut salah satu coffe shop kota Jgj. jenuh. itu yang ia rasakan sekarang. ingin sekali rasanya ia kembali ke Sumatra sekarang juga. setidaknya ia bisa sejauh mungkin menghindari Ningsih dan ibunya.


Ting. sebuah pesan masuk ke ponsel Andra. ia membacanya dengan seksama.


"dua hari lagi? ". gumamnya. ia tersenyum menyeringai.


"ok. aku usahain ada di sana besok lusa". balas Andra mantap.


"pucuk di cinta ulam pun tiba. gue butuh rencana ilham pun ada". kekehnya pelan.


Andra pun menyesap kopinya dengan nikmat. sebab ia kini memiliki sejuta rencana untuk menghindari pernikahannya.


malamnya..


di sebuah ruang keluarga.


"saya harus ke jepang ada presentasi penting dan meeting yang harus saya hadiri bu. pak". Andra membuka suara.


ibu dan Ayah Andra bergeming. mereka tetap melanjutkan aktifitasnya menonton tv, tanpa merespon perkataan anak bungsunya. sedangkan Ningsih yang baru tiba untuk menyuguhkan kan kopi dan cemilan ikut mendengarkan perkataan calon suaminya.


"saya berangkat besok pagi". lanjutnya.

__ADS_1


seketika itu juga tiga orang yang mendengar kan perkataan Andra menghentikan aktifitasnya mereka langsung memandang Andra heran.


"besok pagi?. ke jepang? ".tanya sang ibu membuka suara untuk meminta keyakinan pada anaknya.


"iya bu. ini sangat penting karena menentukan masa depan perusahaan kami". sahut Andra santai.


"besok lusa kamu sama Ningsih di jadwalkan menikah. bagaimana bisa kamu pergi besok pagi Andra??? ". protes si ibu.


"yah tinggal ibu undurkan saja jadwalnya". sahut Andra santai.


"lagian saya sama Ningsih masih butuh waktu untuk saling mengenal. ya kan Ning? ". sahut Andra seraya menatap tajam ke Ningsih dan memberi kode agar mendukung rencananya.


Ningsih yang di pelototi Andra dengan sorot mata yang menusuk jantung akhirnya tertunduk mengiyakan perkataan Andra.


"i.. i... iya bu.. mas Andra benar. kita masih butuh waktu untuk saling mengenal dulu bu.. " sahut Ningsih terbata bata.


"lho kamu ini. kenapa bisa berubah gitu sih Ning.. bukannya kemarin kemarin kamu juga bersemangat buat nikah sama Andra". protes si ibu keras seraya menatap Ningsih yang terus menunduk.


Ningsih hanya diam menunduk. ia pun tak tau harus menjawab apa lagi.


"sudah bu sudah. tahan emosinya. nanti ibu sakit. mungkin mereka benar. mereka juga butuh waktu untuk saling mengenal dulu". Ucap si Bapak menenangkan sang istri.


"kalian berdua sama saja. bikin kecewa orang tua". ucap si ibu murka melihat dua anak muda itu. lalu si ibu pergi meninggalkan keduanya di susul si bapak.


Sementara Andra menarik sudut bibirnya. ia tersenyum puas. ia menatap Ningsih dan mendekatinya.


"terima kasih atas kerja samanya sekretarisku". ucap Andra, lalu ia pun beranjak dari situ menuju kamarnya untuk berbenah.


Ningsih yang tadinya tertunduk dalam mengangkat wajahnya menatap punggung Andra.


beberapa menit kemudian...


Andra mencari cari sesuatu di lemarinya. ia bolak balik antara ruang strikaan dan ruang jemuran. Ningsih yang melihat Andra bolak balik seperti mencari sesuatu. ia menghampiri nya.


"mas cari apa? ". tanya Ningsih.


Andra tak menggubris nya. ia masih saja terus mengacak ngacak sebuah keranjang yang berisi pakaian yang belum di setrika.

__ADS_1


"mas cari apa? ". mungkin bisa saya bantu? ". tawar Ningsih.


Andra menghentikan aktifitasnya, ia melirik Ningsih. sesaat dengan tangan yang masih mengacak acak keranjang pakaian tersebut.


seperti mengerti apa yang di cari oleh Andra. akhirnya Ningsih menuju ruang jemuran dan mengambil satu kemeja berwarna putih dan celana hitam. ia kembali ke ruang setrika.


"mas cari ini ya? ". tanya Ningsih seraya menunjukkan satu stel pakaian tersebut.


Andra yang melihat Ningsih memegang satu stel pakaian nya. segera menghentikan aktifitasnya dan mencoba mengambil pakaian tersebut dari tangan Ningsih. Ningsih menahannya.


"bajunya masih kusut mas. biar saya yang setrikain. mas tunggu saja. nanti saya antar ke kamar". Tawar Ningsih.


"ya sudah". sahut Andra cuek.


Ningsih melirik Andra sejenak. dan ia pun mengerjakan apa yang ia tawarkan ke Andra. tak perlu menunggu lama ia pun segera menyelesaikan pekerjaan nya. ia membawa satu stel pakaian tersebut ke dalam kamar Andra.


"permisi mas. maaf saya tiba tiba masuk. cuma mau mengantarkan ini mas" ujar Ningsih yang masih memegang pakaian tersebut.


"letakkan saja di situ". titah Andra yang menunjukkan tempat tidurnya. lalu masuk ke kamar mandi.


Ningsih melakukan apa yang di perintah Andra. ia meletakkan pakaian tersebut di samping tas travel kecil yang berada di atas ranjang.


seketika ia melirik sebuah dompet hitam yang terbuka. entah dorongan darimana ia memberanikan diri untuk mengambil dompet tersebut dengan tangan gemetar. ia menarik secarik kertas putih yang tadinya ia pikir sebuah kartu. ternyata hanyalah secarik kertas yang telah di laminating. Ningsih membalik kan kertas putih tersebut. di situ ia membaca sebuah nama tertulis dengan tulisan tangan yang rapi.


"Jasminka". gumam Ningsih pelan seraya mengerutkan keningnya.


sementara Andra yang beberapa detik lalu telah keluar dari kamar mandi. sontak hatinya memanas melihat pemandangan di depannya.


"apa yang kamu lakukan!! ". tanya Andra dingin dengan sorot mata yang penuh mengintimidasi.


Ningsih yang masih terpaku pada sebuah nama. seketika itu juga melebarkan kelopak matanya mendengar suara bernada intimidasi yang berasal dari arah samping kirinya. hatinya berdebar debar takut. ia bergeming tak berani menatap Andra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


selamat menunaikan ibadah puasa ya readers.


tetap di like, vote, komen rate dan favorit.

__ADS_1


__ADS_2