
Dea hanya bergeming. permintaan Alma terlalu berat bagi dirinya. menjadi seorang mahasiswi akan menyita waktunya dalam mengurus Dean.
"apa harus aku kuliah lagi tante? ". tanya Dea ragu.
"iyo nak. sebab itu adalah keinginan almarhumah mama mu Jasmine. mengenai Dean. biarlah ambo yang mengurusnyo". jelas Alma.
"nanti jika awak rindu sama Dean. tante akan membawa Dean ke tempatmu". bujuk Alma.
lalu Alma memberikan sebuah amplop berwarna coklat dan menyerahkan pada Dea.
"ini adalah surat dari fakultas yang dulu tempat awak kuliah. selama ini Pak Satria memperjuangkan dan mempertahankan identitasmu sebagai mahasiswi disana agar terhindar dari Drop out. dan berkat pertolongan beliaulah awak biso melanjutkan kuliah awak yang tertunda. kata pak Satria awak hanya mengulang beberapa mata kuliah di semester akhir dan mata kuliah tambahan karena harus mengikuti kurikulum yang baru". jelas Alma.
Dea membaca beberapa lembar kertas putih tersebut. ia menghela nafas sesaat. sungguh ia benar benar buta akan dunia perkuliahan. ia tidak mengerti sama sekali.
"Jasmine". panggil Alma pelan.
"dua bulan lagi awak sudah harus ke Mdn yo?". nanti tante yang akan mengantarmu. kita berangkat bersamo. disano ada Retha dan pak Satria yang akan memberimu tempat tinggal untuk sementara sampai kito mendapatkan rumah sewa". jelasnya.
Dea masih saja bergeming. hatinya masih meragu. jika ia menyetujui permintaan Alma berarti dia harus berpisah dengan Dean untuk sementara waktu. jika ia menolak untuk kuliah dengan atas nama Jasmine, sungguh ia juga tak tega mengecewakan orang yang telah menolongnya dan sekaligus menjadi teman hidupnya selama ini.
"tante. boleh aku pikirkan dulu?. aku butuh waktu". sahut Dea dengan hati hati.
"baiklah. kasih tau ambo yo jika awak sudah putuskan". sahut Alma.
Dea tersenyum seraya mengangguk pelan.
...----------------...
Satria mengemudikan mobilnya menuju perkebunan sayur milik Didit. kali ini ia di temani oleh dua orang pemilik saham KBC cabang sumatra, Alex dan Andra.
Setibanya di sana Satria dan Alex menghubungi istrinya masing masing. hanya Andra yang tampak sibuk dengan ponselnya tanpa ada seorangpun yang bisa ia ajak ngobrol.
"hmm. nasib nasib kalau perginya sama bapak bapak. akuuuuu juga yang di congekin". bathinnya.
tak lama kemudian Retha muncul dan melambaikan tangannya. Satria mengajak para bos tersebut untuk turun dan mengikuti Retha yang berada di depannya menyusuri jalan setapak menuju areal perkebunan yang terletak di belakang rumah Didit.
setibanya di sana Didit menyambut mereka sembari menyuguhkan cemilan dan minuman buatan istrinya.
"gimana Dit? ". perkebunan nya lancar ga? ". tanya Satria basa basi.
__ADS_1
"Alhamdulilah pak". sahut Didit sumringah.
cukup lama mereka mengobrol obrol santai di sore itu hingga mendekati maghrib barulah mereka pamit pulang. begitupun Cindy yang sedari tadi tidak merasa nyaman dan malu hati karena ia tak menyangka jika hari itu ia akan bertemu kembali dengan Andra.
sementara Andra hanya sesekali melirik Cindy yang tampak asyik mengobrol dengan dua istri koleganya itu.
"bareng aja yuk Cin? ". tawar Retha.
"ga usah Tha. aku bawa motor kok". tolak Cindy.
lalu mereka memasuki mobil dengan pasangannya masing masing. sementara Satria menawarkan Andra untuk masuk ke mobilnya lantaran karena Andra masih berdiri dan memainkan ponselnya.
"bang. sekalian yuk ku antar pulang ke apartemen abang". tawar Satria.
"ga usah Sat. abang udah nyuruh orang kantor jemput abang di sini. lagian kan kita ga searah. udah kalian duluan aja. ga papa". tolak Andra.
...----------------...
Dea terus memandangi kertas kertas yang di berikan oleh Alma padanya. ia membacanya hingga lembar terakhir. Dea menghela nafasnya sejenak. dari luar hujan mulai turun dengan derasnya.
Dea bangun dari duduknya dan menutup rapat tirai jendela serta mengecilkan udara Ac di kamar tidurnya di mana sang batita tidur bersamanya jika malam tiba.
Dea naik ke ranjang seraya memandangi wajah batita tampannya yang tertidur di samping nya. ia tersenyum lalu mencium pipi gembul itu.
Dea tidur tepat di samping Dean seraya merasakan nafas lembut tersebut. Dea memejamkan matanya untuk menikmati kisah hujannya yang terasa hangat bersama Dean si buah hatinya.
...----------------...
duarrrrrrr
sontak hal ini membuat Cindy khawatir. ia menghentikan motor maticnya dan memeriksa ban belakang motor maticnya.
"isss jijik kali lah ku liat ini motor. mana mau ujan. udah malam. pake bocor pulak lagi". omelnya.
Cindy celingak celinguk memperhatikan keadaan sekitar yang tampak lengang karena tak satu pun manusia yang melintas di jalanan itu. mungkin di karenakan kondisi cuaca yang mulai dingin ditambah rintik rintik hujan sudah mulai membasahi kota yang selalu lembab itu. sehingga penghuni kota lebih nyaman mendekam di rumah dalam kehangatan keluarga mereka masing masing.
akhirnya Cindy terpaksa mendorong motornya menuju bengkel yang ada di persimpangan depan. tetapi naasnya hujan mulai tak bersahabat mengguyur deras dan membasahi apa saja yang berada di bawahnya termasuk Cindy yang melangkah kan kakinya dengan cepat.
bahkan jaket kulitnya pun tak mampu melindungi tunik Cindy yang selutut itu. nafasnya pun mulai tersengal sengal karena mendorong motor yang termasuk hitungan berat bagi perempuan seperti Cindy yang memang tak pernah melakukan pekerjaan berat.
__ADS_1
"hmmm kejadian lagi. semoga aja ga ada apa nantinya". bathinnya.
seraya terus melangkah. ia pun mengingat kejadian hampir setahun yang lalu yang menyebabkan penyamarannya sebagai Ningsih terbuka.
sementara dari kejauhan dari dalam mobilnya. Andra melihat seorang perempuan yang sedang mendorong sebuah motor matic di jalanan sepi di karena kan hujan turun dengan derasnya.
Andra teringat akan Cindy yang tadinya pulang dengan motor maticnya.
"Jang. minggir Jang coba tanyakan pada perempuan itu kenapa?". titah Andra kepada supirnya, ketika mobilnya mendekati perempuan tersebut.
"baik pak". sahut Ujang.
"dek. kenapa motornya?". tanya Ujang melalui kaca jendela kirinya.
Cindy melirik ke kanan di mana seorang supir menanyakan keadaannya.
" bannya bocor bang". sahut Cindy. lalu pamit pada sang supir.
Andra yang mengetahui jika itu adalah Cindy. langsung menyuruh supirnya untuk menggantikan posisi Cindy yang masih mendorong motornya mendekati persimpangan.
bukan apa apa karena ia takut kejadian tahun lalu terulang lagi ketika Cindy menyamar menjadi Ningsih. mengingat darah Cindy sangat sulit untuk di temukan pendonornya.
sang supir pun menjalankan titah bosnya. ia segera mendekatkan mobilnya ke arah Cindy dan memanggil Cindy untuk masuk ke mobil.
sedangkan Ujang yang akan mendorong motor Cindy ke bengkel yang masih buka yang tak jauh dari hadapannya. tetapi Cindy menolaknya.
"ga usah bang. itu bengkelnya udah dekat kok. biar saya aja bang. abang ga usah repot repot". tolak Cindy dan mendorong motornya kembali.
Andra yang mendengar penolakan Cindy langsung membuka jendela belakang.
"Cindy". panggil Andra.
Cindy menoleh ke jok belakang dan terlihat lah pujaan hatinya di sana.
"pak Andra?". tanya Cindy heran.
"masuk! ". titah Andra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
mohon dukungannya untuk novel ini dengan memberikan like, vote, komen, rate, fav dan poin.
terimakasih