
"Ning.. Ningsih..". panggil Andra yang mulai panik seraya menepuk nepuk pelan pipi Ningsih.
"pak buruan pak nyetirnya". titah Andra yang mulai ketakutan.
"iya pak.". sahut sekuriti tersebut seraya menambah kecepatannya.
sementara tangan satunya terus menekan luka di perut Ningsih yang masih terus saja mengalirkan darah segar tersebut.
"pak cepat pak!". titah Andra semakin panik tatkala ia menyentuh telapak kaki Ningsih yang mulai dingin.
"Ning.. Ningsih.. ku mohon kamu harus bisa bertahan Ning". pinta Andra memelas.
"saya minta maaf. maafkan saya Ning yang udah banyak nyakitin hati kamu". Andra terus memanggil dan mengajak Ningsih berbicara, meskipun ia tak tau apakah Ningsih masih mendengarnya atau tidak.
tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah sakit. dengan segera sekuriti tersebut memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk IGD tersebut.
sekuriti keluar dari mobil bersamaan para perawat jaga yang keluar untuk menyambut pasien.
Dengan hati hati Andra menggendong Ningsih membawanya keluar dari mobil dan meletakkan nya di atas brankar. setelahnya Ningsih di larikan ke ruang tindakan darurat.
sementara Andra di minta ke bagian administrasi untuk melengkapi berkas riwayat medis.
...----------------...
setelah Dea menyelesaikan makan nya dan berniat kembali ke kamar untuk mengistirahat kan tubuhnya. karena Dea belum lagi mengantuk. ia pun menyenderkan punggung nya ke headboard. ia mengambil ponselnya untuk membuka artikel seputar kelahiran.
dan entah kenapa jari Dea iseng saja membuka laman sosial medianya yang masih menggunakan account fake nya. dengan jari lentiknya ia mengetikkan nama Justin dalam laman pencarian nya. ia pun melihat postingan foto terbaru milik Justin.
"nasi goreng". gumamnya pelan.
Dea tersenyum kecil sendiri. ia pun melirik ke perutnya.
" ternyata kalian berdua sama sama lapar". gumam Dea kembali seraya mengelus elus perutnya dengan memutari pusatnya.
lalu netranya berfokus pada tulisan yang berada di bawah postingan foto tersebut.
seketika itu juga ia menarik kembali senyum kecilnya dan tanpa sadar mengubahnya menjadi tekukan kecil di sudut bibirnya. Miris pastinya yang ia rasakan. karena dari semua postingan yang ia selusuri dari sosial media milik Justin, tak satu pun ia melihat foto atau status mengenai dirinya.
semua yang ia lihat adalah mengenai pribadi dan teman temannya. dan yang teristimewa adalah tentang istrinya yang di akui di mata dunia.
Dea tersenyum miris. "cih. jangan berharap Dea. sedari dulu tidak ada kamu di hatinya". bathinnya.
__ADS_1
lalu Dea pun log out dari akun nya dan meletakkan ponselnya ke atas nakas. Dea tak mau berlarut dalam kesedihannya. Dea memilih membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya kembali.
...----------------...
sudah lebih dari setengah jam lamanya Andra mondar mandir di depan ruang operasi. terkadang ia duduk seraya menselonjorkan kakinya, terkadang ia bangun dan berdiri di depan pintu mencoba mengintip dari kaca jendela ruangan koridor yang menghubungkan beberapa ruang operasi.
kosong. itu yang ia lihat di sepanjang koridor bahkan di ruang tunggu pun hanya dirinya saja yang menanti dengan gelisah sembari mengharap harap cemas akan keadaan Ningsih.
sementara di ruang IGD, Indry meminta kepastian tentang keadaan pasien yang bernama Ningsih.
"saat ini lagi di ruang operasi Dok". seorang perawat jaga yang memang mengenal Indri sebagai Dokter di salah satu rumah sakit tersebut memberinya keterangan.
"Apa!!. di operasi??!! ". pekiknya.
"iya Dok. karena luka tusukan di perutnya termasuk kategori dalam Dok. tadi sudah ada adek Dokter yang menandatangi berkas operasinya. sekarang ada di ruang tunggu operasi Dok". jelas perawat tersebut.
"jika Dokter mau menyusul. mari saya antar". tawar perawat tersebut.
"terimakasih". sahut Indri.
lalu Indri dengan segera menyusul Andra ke ruang operasi. dan benar saja Andra sedang duduk menunggu dengan wajah kusut serta kaos putih yang penuh dengan noda darah.
"Andra". panggil nya.
"mbak". panggilnya kembali.
"gimana keadaan nya ndra?". tanya Indri
"ga tau mbak". sahut Andra seraya menggeleng pelan.
Indri mendesah pelan. "ini semua salah mbak"
"seandainya mbak ga meminta Ningsih nginap di rumah mbak ga akan kejadian kayak gini". ucapnya pelan dengan rasa menyesal.
Andra melirik kakaknya. "udah naas mbak. sebaiknya kita doakan saja semoga Ningsih selamat mbak". ucap Andra menenangkan kakaknya.
sebenarnya ia pun lebih menyesal. jika tadi malam ia tidak keterlaluan membentak dan memarahi Ningsih. mungkin Ningsih dengan cepat dan langsung meminta bantuannya, bukan pada ART yang nota bene terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya sehingga mereka tidak selalu memegang ponselnya.
"ibu. ibu gimana?. apa ibu tau soal ini? "tanya Indri yang teringat ibunya.
"belum. aku melarang mereka buat ngasih tau ibu. aku takut ibu panik lalu tensinya naik lagi". sahut Andra.
__ADS_1
"tapi nanti kalau ibu taunya bukan dari kita gimana? bukannya ibu bakalan lebih marah ". tanya Indri cemas.
"setidaknya saat kita ngasih tau ibu. kondisi Ningsih udah stabil". sahut Andra.
"mbak cari alasan ke ibu. agar beliau tidak mencemaskan soal Ningsih nantinya". pinta Andra.
"Anggie sama siapa mbak? ". bukannya mas Angga lagi di luar kota? ". tanya Andra yang teringat tentang ponakannya.
"mbak titipin sebentar sama tetangga". sahut Indri.
"mbak pulang aja. Anggie lebih membutuhkan mbak. nanti dia nangis kalau kecarian bundanya". pinta Andra.
"ga pa pa ndra. mbak tunggu sampai Ningsih keluar dari ruang operasi". sahut Indri.
"ya udah terserah mbak". balas Andra.
setelah menunggu hampir satu jam lamanya. pintu ruang operasi terbuka. Andra bangun dari duduknya berniat menghampiri seseorang yang keluar dari ruang operasi.
sementara Indri yang melihat lampu ruang operasi masih menyala, dan kini seorang tenaga medis keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan bingung. ia pun langsung mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. bahwa ada keadaan darurat lainnya yang tidak bisa para tenaga medis tersebut atasi.
Indri menggigit bibir bawahnya. hatinya semakin berdebar debar takut mungkin sesuatu telah terjadi pada Ningsih.
"Anda keluarga pasien? ". tanya sorang tenaga medis pria tersebut ke pada Andra yang duluan mendekatinya.
"iya Dok". sahut Andra cemas.
"gimana keadaan nya sekarang Dok?. apa dia berhasil di selamat kan?". tanyanya kembali.
tenaga medis tersebut menarik dalam nafasnya dan membuangnya sedikit kasar.
"pasien kehilangan banyak darah. dan kami kekurangan stok darah. bahkan kami pun ga punya sama sekali stok darah langka tersebut". jelas tenaga medis tersebut.
"langka?. maksudnya? ". tanya Andra seraya mengernyitkan dahinya.
sementara Indri yang mendengar percakapan antara keduanya, mulai semakin panik dan hatinya semakin diliputi rasa bersalah mengingat keadaan Ningsih yang semakin miris saja.
"boleh tau Dok. apa golongan darahnya". tanya Indri seraya mendekati mereka.
"Rh-Null". sahut sang tenaga medis tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
selamat menunaikan ibadah puasa dan tetap semangat untuk nge like, vote, komen, rate, dan fav.