She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
kebahagiaan yang berakhir kesedihan


__ADS_3

# selamat menikmati episode ini


Justin masih asyik menikmati sarapannya sementara Namira dengan telaten melayani suaminya.


"mau nambah Yang? ". tanya Namira ketika makanan di piring Justin tinggal sedikit.


"mmm.. boleh ga? ". tanya Justin bercanda.


"ga boleh". Namira pura pura jutek. lalu tersenyum.


"ya bolehlah sayang. justru aku seneeeeeng banget suami aku mau nambah dan makannya lahap karena masakan aku". sahut Namira antusias.


"ya tentu dong. kan suami paling semangat makan kalau istrinya yang masak". puji Justin.


"beneran ni?? ". tanya Namira kurang yakin.


"beneran sayang". sahut Justin meyakinkan sang istri.


lalu Namira pun mencentongkan lagi nasi di piring Justin. beserta ikan dan juga sambal. baru juga ia mengambil sayur di mangkok kuah. Namira hanya melihat sayur di mangkok tersebut bersisa sedikit. ia teringat jika di atas kompor masih ada sisa sayur yang di masaknya.


"kak. aku ambil sayur asemnya di dapur dulu ya?". ujar Namira.


"memang masih ada. segini aja udah cukup kok Yang". ujar Justin yang tak mau merepotkan istrinya.


"kebanyakan kuah kak. mana enak kalo ga ada sayurnya. kan sayurnya buat cocolan di sambal terasinya". terang Namira


"udah kakak tenang aja. di panci dapur masih ada kak. bentar ya? ". lanjutnya.


"mau aku temenin ga? ". tanya Justin.


"ga usah". sahut Namira.


"kali aja ada cicak lewat". ujar Justin menakuti sang istri yang geli dengan binatang yang suka menempel di dinding itu.


"ihh.. apaan deh. jangan usil ya? "


"ga usil yang. kan buat jagain kamu dari rasa takut dan geli". balas Justin serius.


ihh... apaan deh. jangan over ya?! ". jawab Namira yang mulai merona.


"apanya yang over? ". tanya Justin.


"bucinnya". kekeh Namira

__ADS_1


sontak Justin memanyunkan bibirnya. sementara Namira tersenyum menang karena berhasil membuat Sang suami KO. lalu Namira pun beranjak menuju dapur dengan mangkok sayur di tangan. sementara Justin hanya mengekori Namira dengan matanya lalu tersenyum lucu.


Di dalam dapur Namira mengambil sayur dari panci yang berada di atas kompor.


"mmm.. untung masih hangat". gumamnya.


Namira kembali dengan kedua tangan yang memegang mangkok sayur yang hangat. meskipun Namira berjalan pelan karena permukaan lantai yang masih licin karena baru saja di pel oleh Art. tetapi Namira salah perkiraan karena hanya berfokus pada mangkok yang di pegangnya.


Namira akhirnya terpeleset jatuh terpelanting ke belakang dengan kepala menghantam meja racik yang terbuat dari marmer. saat hendak jatuh Namira refleks meraih galon air yang berada di atas tabung dispenser yang menyebabkan Galon yang berisi air sembilan belas liter itu pun turut Jatuh tepat di atas perutnya.


Namira sempat berteriak sebelum pingsan. suara pecahan mangkok dan jatuhnya Tabung dispenser membuat kegaduhan di dapur.


Justin yang berada paling dekat dengan dapur secepatnya berlari ke arah dapur dan


"Ochi !!! ". teriaknya..


rasa takut menyelimutinya. Justin dengan segera memeluk tubuh itu dan mengangkat nya dengan darah yang mengucur dari kepala


"mama.. mama..siapa pun telpon ambulan sekarang". teriak Namira.


teriakan Justin yang menggema seisi rumah yang menyebabkan anggota keluarga yang lain pun secepatnya berlari ke dapur. begitupum Astrid yang memiliki firasat tak enak sedari kemarin.


Astrid bergegas menyusul Justin yang telah menggendong Namira ke arah garasi.


tidak Astrid saja yang syok. Mona dan Jason pun ikut terkejut dan berlari menyusul Justin yang telah memasukkan Namira ke dalam mobil.


"Justin. apa yang terjadi nak. kenapa dengan Namira". pekik Mona yang duluan mencapai garasi.


Mona melihat Namira terbaring tak berdaya di jok belakang mobil. sementara Justin baru saja masuk duduk di bagian kemudi. ia menurunkan kaca mobil dan berkata kepada Mona.


"mama telpon dokter kandungan sekarang. katakan kalau sekarang kita butuh bantuannya. Namira pendarahan". pekik Justin.


"tunggu. mama ikut". teriak Mona.


dengan segera Mona membuka pintu belakang berniat mengambil posisi duduk untuk memangku kepala Namira. tetapi ia melihat darah di baju Namira sontak ia berteriak


"Justin. ini kenapa bisa berdarah!".


"ma aku ga ada waktu buat ngejelasinnya. masuk sekarang atau ga usah ikut sama sekali". pekik Justin dan langsung menstarter mobilnya.


Mona pun meloncat masuk dan reflek memangku kepala Namira yang terus mengeluarkan darah.


"ya Allah. Namira. kenapa bisa begini sayang". isaknya selama dalam perjalanan.

__ADS_1


"kenapa bisa begini Justin". Mona terus meracau dalam ketakutan.


peristiwa beberapa tahun silam terlintas lagi di ingatannya. dimana ia melihat tubuh dingin Nadira terbujur kaku di kamar mayat.


"ya Allah ya tuhanku. tolong selamatkan Namira dan bayinya". Mona terus berdoa di dalam hatinya. bahkan mulutnya pun ikut merapalkan doa untuk keselamatan menantu dan calon cucunya.


Mona pun semakin panik ketika darah terus mengalir deras dari sela paha Namira dan menetes kencang hingga ke lantai mobil.


"ya Allah ya Tuhanku. tolong selamatkan mereka berdua". isaknya semakin kencang.


sementara Justin semakin gemetar dalam mengemudikan mobilnya. ia berusaha berkonsentrasi pada jalanan. meskipun peristiwa beberapa tahun yang lalu sesekali melintas di ingatannya.


sungguh Justin sangat takut kejadian serupa bakalan terjadi lagi. di mana orang yang terdekat dan ia sayangi meregang nyawa di tangannya.


di sepanjang perjalanan Justin pun tak henti hentinya berdoa. dengan kecepatan maksimal di jalanan yang tidak terlalu padat akan lalu lintas, akhirnya Justin tiba dengan selamat di rumah sakit terdekat dan langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan ruang IGD.


ia berteriak memanggil perawat. perawat dan sekuriti yang selalu siaga dengan segera membawa brankar ke mobil Justin.


Justin semakin panik dan takut tatkala ia melihat lantai dan jok kursi belakang yang kini di penuhi darahnya Namira. termasuk Mona yang sudah syok duluan melihat pemandangan mengerikan di depan mata di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


setelah Namira di pindahkan ke brankar dan di dorong masuk ke ruang IGD. sepintas bayangan Midea terlintas di mata Justin. bak mengalami dejavu ia seperti melihat Midea di diri Namira yang kini bersimbah darah.


Justin teringat kembali peristiwa peristiwa dimana tiga perempuan yang pernah memiliki hubungan dengan Justin. mengalami peristiwa naas yang hampir mirip satu sama lain.


hingga peristiwa Midea yang terlintas jelas di depan matanya. terkapar lemah tak berdaya dengan tubuh yang bersimbah darah di atap mobilnya.


Justin terduduk lemas di samping mobilnya yang masih ia parkir dengan asal di depan gerbang IGD. pikirannya semakin gamang dan kalut. hingga seorang satpam memanggilnya untuk menyadarkannya dari fikirannya yang berkecamuk.


"pak. pak". panggilnya lebih keras.


Justin pun tersadar dari lamunannya.


"di tunggu ibu di ruangan IGD". ujarnya.


Justin pun bangkit dari duduknya berjalan linglung menyusul Mona yang telah di papah oleh perawat di ruang IGD karena mengalami syok.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hai readers yang caem...


mohon dukungannya untuk novel ini dengan memberikan like, vote, komen, rate, fav dan poin.


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2