She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
pendonor


__ADS_3

# selamat membaca..


"Rh-null?? ". gumam Andra seraya mengernyitkan dahinya.


"ya".sahut tenaga medis tersebut.


"pasien membutuhkan darah itu sekarang. sebaiknya bapak menghubungi keluarga yang lain agar dapat di ambil tindakan sesegera mungkin". jelas tenaga medis tersebut seraya mengundurkan diri dan masuk kembali ke ruang operasi.


"mbak?? ". panggil Andra yang meminta penjelasan kepada Indri yang sedang berdiri mematung.


pikiran Indri saat ini berkecamuk. ia merasa takut jika Ningsih tak terselamatkan.


"mbak". panggil Andra kembali.


"ya". sahut Indri terhenyak.


"tentang Rh null. memangnya itu golongan darah jenis apa ?". tanya Andra penasaran.


"Setauku, bukannya golongan darah manusia itu cuma ada empat? ". tanya Andra untuk meyakinkan dirinya.


Indri menghela nafasnya.


"kamu itu dulunya ke sekolah belajar apa sih?. masa itu aja ga tau.! " ucap Indri sedikit kesal.


"ya mana aku tau mbak". protes Andra.


"yang sekolah di kesehatan kan mbak. terus yang jadi dokternya kan mbak juga. ya mbak lah yang lebih ngerti. makanya aku nanya ke mbak yang lebih tau dari pada aku mbak?? ". dumel Andra.


Indri menarik dalam nafasnya, lalu menatap sang adik dan berkata


"di dunia cuma ada lima puluh orang saja yang memiliki golongan darah tersebut. dan Ningsih salah satu di antaranya. jadi??? yang harus kita lakukan sekarang adalah menghubungi yayasan yang memiliki data orang orang yang memiliki golongan darah yang sama seperti Ningsih. udah ngerti dek??? ". jelas Indri.


"ya". sahut Andra datar.


" oiya. kalau mau tau lebih lanjut banyak banyak membaca ya adekku yang ganteng.


minimal buka google cari tau biar nambah ilmu. makanya itu ponsel jangan di pake buat selvi selvi an mulu kerjanya". cibir Indri.


"aku ga pernah selvian kok mbak". bantah Andra.


"ahh terserah lah". sahut Indri tak percaya.


"beneran mbak". jawab Andra meyakinkan mbaknya.


tetapi tetap Indri menggeleng tak percaya dan ia terus mencari satu nama di ponselnya, tanpa perduli perkataan adik satu satunya.


ketika mereka masih berdebat di depan ruang operasi. tiba tiba pintu ruang operasi terbuka kembali.


"gimana pak? bu?". kalian udah ketemu pendonornya? ". tanya seorang tenaga medis yang tadi.


"ya pak. ini lagi coba di hubungi". sahut Indri kikuk.

__ADS_1


"segera ya!". jika ingin kondisi pasien stabil".titahnya dan kembali menutup ruang operasi tersebut.


"kamu sih!. lagi keadaan genting begini masih juga ngajak ribut". bentak Indri pelan.


"loh siapa yang mau ngajak ribut sih mbak". bantah Andra setengah berbisik.


Indri melakukan panggilan ke salah satu pasien yang pernah di tolongnya. yang pasti memiliki riwayat golongan darah yang sama dengan Ningsih.


cukup lama ia berbincang dengan keluarga pasien. akhirnya ia menutup telpon nya. wajahnya murung seketika menatap Andra.


"ga bisa ya mbak? ". tanya Andra meyakinkan dirinya karena melihat wajah kakaknya yang murung tiba tiba.


Indri menggeleng pelan lalu berkata


" keluarga pasien mbak yang memiliki golongan darah yang sama dengan Ningsih. orangnya baru saja meninggal seminggu yang lalu di luar negeri karena gagal jantung".


Andra terduduk lemas. lalu ia meraup kasar wajahnya. ia bingung dengan keadaan Ningsih saat ini. sementara Indri mencoba cara lain dengan menghubungi pihak dari yayasan yang memiliki data data pendonor darah langka tersebut.


...----------------...


prank...


pecahan piring berhamburan di lantai. seorang wanita paruh baya mengelus dadanya melihat pecahan piring yang jatuh di sebabkan karena dirinya.


"ya tuhan. apa yang terjadi". gumamnya pelan.


sedangkan ART yang melihat majikannya termangu melihat pecahan piring yang berserakan di lantai tersebut segera menghampiri majikannya untuk duduk dan memberinya air putih hangat karena syok nya.


"di minum dulu bu". tawarnya seraya menyuapi ke mulut majikannya.


"udah bu. ga apa apa bu. biar nanti saya yang beresin". sahut si bibi.


"ibu istirahat saja dulu". saran si bibi.


lalu ia membawa nyonya rumah itu untuk beristirahat di dalam kamar.


semenjak insiden pengusiran anak terakhirnya, oleh suaminya sendiri dengan dalih alasan hukuman. semenjak itu majikannya sering kepikiran sehingga berdampak pada kesehatannya sekarang ini.


hal yang membuat nyonya rumahnya ikut merasa bersalah adalah bahwa nyonyanya juga turut andil dalam hukuman tersebut. bahkan si bibi yang mendengar perkataan langsung dari majikannya pun juga ikut terkejut.


"mulai sekarang kamu bukan lagi dari bagian keluarga ini. dan ubah penampilan kamu agar tidak terlihat sebagai dari keluarga ini!!".


kata kata itulah masih terngiang di telinga si bibi hingga sekarang. mungkin hal itulah yang membuat nyonya rumahnya di rundung perasaan bersalah terhadap anak gadisnya.


...----------------...


sepeninggalnya Indri mencari bantuan melalui koleganya. Andra bergeming menatap pintu ruang operasi. lalu ia teringat kata kata terakhir Ningsih.


"laci kedua di kamar kostnya". gumamnya pelan.


Andra bangun dari duduknya untuk pergi menuju ke kost an nya Ningsih. baru juga ia mau beranjak dari sana. tiba tiba sebuah brankar yang terdapat seorang pasien pria di atasnya. ia mengikuti arah brankar tersebut menuju ruang operasi yang sama dengan Ningsih.

__ADS_1


ia mencari tau dengan bertanya pada perawat yang mengantar pasien tadi.


"mbak sus. itu tadi siapa? ". kok ke kamar operasinya Ningsih.


"itu tadi pendonor darah untuk pasien Ningsih mas? ". jelas perawat tersebut. dan ia pun segera berlalu.


Andra pun tak bertanya kembali. sebab dia yakin jika itu adalah hasil kerja kakaknya yang mencoba menghubungi pihak yayasan.


satu jam berlalu..


lampu operasi mati, yang menandakan jika operasi telah selesai di lakukan. tak lama kemudian sebuah brankar pasien pendonor di keluarkan dan di bawa ke ruang peristirahatan.


lalu di susul brankar dimana Ningsih masih tertidur di atasnya dengan berbagai peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Andra mengikuti para perawat yang membawa brankar tersebut menyusuri koridor rumah sakit hingga brankar Ningsih di masukkan ke dalam ruangan khusus pasca operasi.


tak lama kemudian Indri datang. ia memanggil adiknya.


"Andra".


"mbak cariin kamu di ruang operasi. rupanya udah di sini. udah ada yang donor ya? ". tanya Indri.


"loh bukannya itu hasil dari usaha mbak. yang sedari tadi menghubungi yayasan orang orang langka". pleset Andra.


Indri mendelikkan matanya mendengar plesetan kata kata dari adiknya.


"engga. mbak belum bisa menghubungi orang orang yang Bersedia buat donor. karena mereka tinggalnya jauh jauh. jadi butuh waktu untuk kemari". jelas Indri.


"loh tadi itu pasien pendonor dari mana mbak?. yang masuk ke ruang operasi tadi bersama Ningsih". tanya Andra penasaran.


lalu Andra pergi meninggal kan Indri sendirian di ruangan itu untuk mencari tau tentang pendonor tersebut ke ruang peristirahatan.


tiba di ruang peristirahatan khusus pendonor. ia masuk ke dalamnya. tetapi yang ia lihat ruang tersebut telah kosong. tak satupun pasien yang berada di dalamnya.


Andra keluar dan bertanya pada perawat jaga yang lewat. mereka pun tidak mengetahui nya.


"bagaimana bisa kalian tidak tau, seharusnya kalian mengawasinya bukan? ". ujar Andra


"saya boleh lihat data dari pendonor tadi ?. saya mau mengucapkan terimakasih". Andra meminta dengan sopan.


"maaf pak. data pasien pendonor mutlak milik rumah sakit dan di larang keras untuk membocorkannya". tegas perawat tersebut.


Andra menghela nafasnya. lalu menyisir kasar rambutnya ke belakang dengan tangannya..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


berikan cinta kalian kepada penulis berupa


like


vote


komen

__ADS_1


rate


favoritnya.


__ADS_2