
#selamat membaca kembali ya readers..
"Midea". desisnya.
bayangan Midea terlintas sepintas lalu di atas ranjang yang di balut seprai putih itu. Justin segera menggeleng kan kepalanya untuk menepis kenangan itu. karena menurutnya ia tak perlu lagi mengingat kenangan itu.
meskipun malam itu ia menikmati percintaan nya dengan Midea tetapi malam itu juga ia merasa telah mengkhianati Namira dan awal mula ia menyakiti Namira karena Midea.
Justin segera keluar dari kamar itu dan ia mendapati Indra masih menunggunya seraya memainkan ponselnya. ia pun mendekati Indra dan mengajaknya keluar untuk ngopi seperti yang di katakan Indra sebelum nya.
"yuk bro". ajak Justin melewati Indra dan segera melangkah keluar dari ruang pribadi nya.
"oke". sahut Indra dan mengikuti Justin.
...----------------...
di kediaman Satria..
Cindy bolak balik mengetuk pintu rumah pasangan romantis itu. sebelumnya Cindy telah menghubungi Retha untuk bisa hadir ke acara pernikahannya nanti. tetapi karena ponselnya Retha yang tak aktif sedari kemarin membuat Cindy mendatangi kediaman Retha secara langsung.
"Assallmualaikum Tha". sapa Cindy seraya mengetukkan pintu beberapa kali.
tetapi rumah minimalis itu memang terlihat sepi sejak ia menginjakkan kaki di halaman Rumah yang asri itu.
"dia kemana ya? ". apa ke hutan lagi sama pak Satria. sampai sampai ponselnya tidak aktif". bathinnya.
samar ia mendengar suara anak anak kecil tertawa dari arah sebelah rumah Retha. Cindy pun segera mencari tau arah suara tersebut. Cindy melihat dari kejauhan dua anak batita sedang bermain bersama. ia pun mendekati mereka dan menyapanya.
"hai cantik. hai ganteng". sapa Cindy ramah.
sementara dua batita itu saling bersitatap satu sama lain dan kembali menatap Cindy yang menunggu jawaban mereka.
"tante siapa?. dan cari siapa kesini? terus perlu apa? ". tanya Keyra curiga lalu mengkodekan pada Dean agar memanggil bundanya segera.
sementara Dean yang mengerti akan maksud dari Keyra tersebut mengangguk kan kepalanya dan segera berlari ke dalam rumah memanggil bundanya.
"bundaaaaaa". panggil Dean keras seraya berlari ke dalam rumah.
"eeemmm. tante datang kesini mau tanya aja kok. tante Retha sama om Satria kemana ya?". tanya Cindy yang masih ramah dan berusaha mengajak Keyra untuk bersahabat dengannya.
"ga ada. lagi pergi. nanti pulangnya. nanti aja tante balik lagi". cetus Keyra datar.
"Keyra". panggil Dea yang mendengar jawaban Keyra yang bernada ketus terhadap wanita cantik yang ada di hadapannya.
"kok gitu jawabannya sama orang tua. tante ini cuma nanya oom sama tantenya Keyra kok. mungkin tante ini memang lagi ada perlu". jelas Dea.
sementara Cindy yang sedari tadi telah mendapatkan shock terapi atas penglihatan nya hari ini, sontak membuat dirinya hanya bergeming menatap wanita yang selalu membuat dirinya bertanya tanya selama ini. sehingga tanpa sadar Cindy menjatuhkan beberapa undangan yang di pegangnya sedari tadi.
"Jasmine? ". gumamnya pelan.
__ADS_1
sedangkan Midea setelah memberi nasehat pada gadis kecil itu pun segera mengalihkan pandangannya ke arah Cindy dan meminta maaf atas perlakuan Keyra.
"maaf ya mbak atas sikap putri saya". ucap Midea tulus seraya memungut kartu undangan yang berserakan di lantai teras paviliun itu.
sementara Cindy masih menatap tak percaya atas apa yang di lihatnya.
"mbak". panggil Dea seraya melambaikan tangannya di hadapan wajah Cindy.
"ehh.. iya.. ". sahut Cindy gelagapan dan menatap Dea dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
"ada yang bisa saya bantu mbak? ". tanya Midea.
karena saat memungut kartu undangan tadi. ia sempat melihat atas nama Satria dan Retha tertera di salah satu undangan yang wanita itu bawa. Midea berfikir pastilah wanita ini seorang kurir pengantar undangan.
"ehhh... i.. ni saya cuma mau mengantar undangan untuk pak Satria dan Retha". jawab Cindy gugup seraya menyerahkan undangan yang ditulis atas nama Satria dan Retha.
"iya mbak. nanti akan saya sampaikan pada Retha". ujar Dea tersenyum ramah dan mengambil undangan tersebut dari tangan Cindy.
lalu Cindy pun pamit dan segera melangkah pergi dari situ. ia menghela nafasnya sesaat. kalimat demi kalimat pertanyaan terus bermunculan di fikirannya.
"siapakah dia yang sebenarnya?".
"Jasmine atau Midea kah? "
"jika memang itu Jasmine. kenapa ia tidak mengenali aku sama sekali?".
"kenapa ada dua anak di rumah itu?"
"apakah Anaknya?".
"bagaimana bisa dia memiliki anak?".
"apakah selama ia menghilang dia telah menikah dan tinggal dengan keluarga suaminya ? lalu siapakah suaminya?"
"tetapi jika dia adalah Midea Hasxander ?".
"bagaimana mereka ada dirumah nya Satria dan Retha?".
"apa hubungannya dengan Satria dan Retha?".
"apakah Midea sekarang menjadi istri simpanan?". sehingga ia tak exist lagi di dunia modelling? ".
kriiiing....
dering telpon menyadarkannya dari lamunannya akan wanita yang ia temui tadi.
Cindy tersenyum tatkala melihat sang pujaan hati menelponnya.
"ya mas". sahut Cindy.
__ADS_1
"kamu dimana?". tanya Andra.
"baru pulang dari rumahnya Retha mas ngantatarin undangan". sahut Cindy.
"lho Ngapain kesana Cin.. mas kan udah kirim pesan ke kamu. kalau mereka lagi ga di rumah. mereka lagi survey ke perkebunan petani yang di luar kota. mungkin agak pedalaman makanya sinyalnya agak susah". jelas Andra.
"maaf mas. mungkin aku ga buka pesannya". sahut Cindy.
"ya udah kamu sekarang langsung pulang ke rumah mama atau singgah ke apartemen mas?". tanya Andra.
"mama lagi ga ada di rumah. lagi pergi ke rumah saudaranya di luar kota Mdn". ujar Cindy.
"mmm. aku boleh main ke apartemen mas ga? ". tanya Cindy ragu.
"ya udah boleh. tunggu mas di situ. kamu masih ingatkan kodenya? ". tanya Andra.
"masih mas". sahut Cindy.
lalu keduanya menutup telpon. Cindy memasuki mobilnya dan meminta pada supir untuk mengantarnya ke apartemennya Andra.
...----------------...
Justin kembali ke kantornya di temani Alan.
"Alan". panggil nya ke asistennya itu.
"iya pak". sahut Alan.
"sudah ada kabar tentang Midea? ". tanya Justin tiba tiba karena teringat akan Midea tadi pagi.
"maaf pak belum. nyonya Midea seperti menghilang di telan bumi. saya dan anak buah saya pun telah melakukan pencarian di seluruh tempat. tetapi tak ada tanda tanda tentang nyonya Midea". jelas Alan.
"ya sudah. berharap saja ia tidak melakukan hal hal gila seperti sebelum nya. kamu tetap meningkatkan kewaspadaan akan kemunculan wanita gila itu". titah Justin.
"baik pak". sahut Alan.
"oh ya barang yang kamu maksud kan tempo hari di mana kamu simpan? ". tanya Justin yang teringat foto gelang yang dikirimkan padanya.
"di laci no dua di sebelah kanan bapak". tunjuk Alan.
Justin membuka lacinya dan terihatlah sebuah kotak transparan yang terdapat gelang silver di dalamnya.
"kamu boleh pergi. terimakasih Alan". ujarnya kepada Alan.
"baik pak". pamit Alan dan meninggalkan Justin seorang diri yang kini terpaku menatap kotak transparan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dukungannya untuk novel ini dengan memberikan like, vote, komen, rate, favoritnya dan share linknya ya readers.
__ADS_1
terimakasih