
# happy reading
Dean terjaga dari tidurnya. dengan kedua tangannya batita itu mengucek ucek netranya.
"nda.. nda.. nda.. ". ia memanggil bundanya.
Dean turun dari ranjang lalu berusaha menggapai gagang pintu yang tertutup. tetapi karena tingginya belum sampai mencapai gagang pintu. agak lama ia berusaha hingga akhirnya ia pun frustasi dan menangis.
dari dapur, samar Retha mendengar suara tangisan bayi. ia langsung teringat akan Dean yang tidur di kamarnya. ia pun bergegas ke kamarnya. dan benar saja dari balik pintu ia mendengar suara tangisan Dean. ia pun langsung membuka pintu kamarnya.
"ya Allah anak umi... sayang kali lah dia". pekik Retha melihat Dean yang berselonjor di lantai tengah terisak memanggil bunda.
Retha pun segera menggendong Dean seraya mengusap usap pelan punggung batita itu.
"cup.. cup.. sayang...diem ya.. ". bujuk Retha.
lalu ia membawa Dean keluar rumah untuk membuat batita tersebut teralihkan perhatian nya pada sepasang burung yang kebetulan hinggap pada pohon mangga yang di cangkok.
sudah tiga hari ini semenjak Dea di rawat di rumah sakit. Retha dan Alma bergantian menjaga Dean dan Dea.
sementara Satria menjumpai seorang dokter yang merawat Dea.
"besok pasiennya sudah bisa pulang. tetapi ingat pesan saya ya pak". ujar sang Dokter ahli bedah syaraf seraya menuliskan sebuah resep.
"jika pasien mulai menunjukkan gejala sakit di bagian kepalanya apa lagi ia kemungkinan ia akan berteriak. usahakan di cegah jangan sampai ia mencederai dirinya lagi. jika sudah mulai begitu cukup suntik kan dosis obat ini sesuai yang saya tulis di resep ya pak". jelas dokter tersebut.
Dokter memberikan selembar resep tersebut pada Satria. Satria mengambilnya dan membaca resep tersebut.
"untuk pereda nyeri sengaja saya resepkan berupa injeksi. agar lebih cepat di proses di tubuh pasien. sehingga pasien tidak sampai mengalami rasa nyeri yang berkepanjangan". jelas Dokter tersebut.
"terimakasih pak. saya permisi". pamit Satria.
...----------------...
setelah di pulangkan dari rumah sakit. Dea lebih memilih beristirahat dan bermain bersama putra kecilnya. sedangkan Retha dan Satria sengaja menghabiskan akhir pekannya memilih belajar pada tante Alma bagaimana mencari pembuluh darah pasien agar bisa menyuntikkan obat berupa injeksi ke tubuh Dea.
"jika sudah di raso mendapat kan titik pembuluhnyo nya di situlah awak suntik kan injeksinyo". ujar Alma yang menjelaskan sedikit ilmu keperawatan nya kepada pasutri pintar itu.
tak butuh waktu yang lama mereka belajar sehingga mereka berdua telah mengerti penjelasan Alma.
"sekarang adek suntik kan vitamin ini ke abang ya? ". pinta Satria seraya mengeluarkan satu paket vitamin berbentuk ampul tersebut.
"hah. sekarang bang? ". tanya Retha tidak yakin akan dirinya.
"iya. kalau tidak di praktek kan ilmunya terus gimana kita tau kalau kita udah ngerti apa belum". ujar Satria mantap.
Retha menelan salivanya kasar. ia masih belum percaya diri dengan ilmu barunya. jika selama ini ia membelah dan menyuntik kan sesuatu pada hewan tanpa rasa takut. tetapi kini yang menjadi bahan percobaan nya adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
Retha menggeleng kan kepalanya membayangkan sesuatu yang ngeri terjadi jika ia gagal kali ini.
"ga lah bang. ga mau adek. nanti salah suntik. ga berani ku bang". tolak Retha.
"indak apo. dosisnya yang terkecil sajo satria. jadi indak perlu lama proses suntiknyo". ujar Alma meyakinkan murid dadakannya itu.
"ayok kita coba ya? ". bujuk Alma seraya memberikan satu suntikan yang bermili terendah pada Retha.
"ayok dek. sekarang. kalau ga di coba kapan lagi". Satria memberikan semangat kepada istrinya.
"sini Tha. mendekatlah". bujuk Alma seraya memasangkan tourniqet di atas siku Satria.
dengan bujukan dan paksaan suaminya. akhirnya Retha pun memberanikan dirinya mencoba menyuntikkan vitamin pada suaminya.
"bismillah". ucap Retha.
lalu ia pun memulai pekerjaan berat itu.
dengan wajah yang sedikit tegang saat ia mulai menusukkan jarum kecil itu ke lengan suaminya. seraya menggigit bibirnya, ia pun perlahan mendorong cairan yang ada di tabung injeksi tersebut ke tubuh suaminya.
"sudah selesai Tha". Alma berujar mantap tatkala cairan di tabung injeksi telah habis masuk ke dalam tubuh Satria.
"abang ga apa apa?". tanya Retha khawatir.
"ga". sahut Satria mantap.
"iya dek. abang ga apa apa". sahut Satria meyakinkan istrinya dan tersenyum.
akhirnya secara bergantian Satria pun menyuntikkan vitamin itu ke tubuh istrinya dengan lancar tanpa ada rasa kegugupan sedikitpun. bahkan Alma pun kagum dengan cara kerja Satria yang masih terhitung pengalaman pertama dalam dunia keperawatan.
"kok lancar lancar aja bang. kayak udah ahlinya gitu? ". tanya Retha menelisik curiga ke wajah sang suami yang melipat bibirnya ke dalam.
"abang pernah nyuntikin orang ya sebelumnya?". tanya Retha semakin curiga.
"dulu waktu jaman sekolah". sahut Satria.
"hah. kok bisa? ". tanya Retha.
"siapo yang mengajarkan awak Satria? ". tanya Alma.
"guru praktek". sahut Satria.
"dulu sekolahnya perawat? ". tanya Alma penasaran.
"iya. tapi cuma tiga semester ". sahut Satria.
"loh kok bisa? ". tanya Retha.
__ADS_1
"mending ga usah tau aja ya? ". sahut Satria.
"memangnya itu masa lalu yang terburuk ya? tanya Retha kembali penasaran
Satria tersenyum.
"iss malah senyum. ga asik". dumel Retha
terpaksa di drop out dari sekolah karena terlibat membantu tawuran dengan anak SmK sebelah". sahut Satria.
"hah. kok bisa?? ". pekik Retha dan Alma bersamaan.
"bandel. sering bolos dari asrama pun. saat pulang praktek dari rumah sakit ga pernah langsung masuk asrama. pasti selalu gabung sama teman teman Smk yang lain". kenang Satria.
"nunggu tawuran gitu?". tanya Retha menghakimi dengan picingan matanya.
"ga yang. ga gitu kronologi nya". kekeh Satria.
"lalu kenapo Satria? ". tanya Alma yang juga ikut penasaran.
lalu Satria menceritakan kisah dirinya yang dulu. yang memang tidak betah pada kehidupan asrama. Satria masuk sekolah SMK keperawatan karena arahan sang kakek yang berprofesi Dokter yang dulunya bersekolah perawat.
setiap pulang dari pelajaran teori atau pun praktek. Satria selalu ngumpul bersama teman temannya yang ada di Smk. hingga suatu hari terjadi tawuran antara sekolah Umum dan SMK.
posisi Satria yang tidak tau apapun tentang permasalahan dua sekolah tersebut berusaha untuk keluar dari zona itu. tetapi malang tak dapat di tolak bahkan untung pun tak dapat di raih. Satria pun akhirnya terlibat juga dalam tawuran tersebut lantaran ia melihat teman temannya di serang dengan sadis.
"terus siapa yang menang? ". tanya Retha semakin penasaran.
"apa sih dek? ". kekeh Satria.
"engga. adek cuma penasaran aja sama suamiku, bang Satria yang sok menjadi the Satria on the road". cibir Retha.
"siapa yang menang bang? ". Retha kembali bertanya dengan memaksa.
"Lho kok gitu. jadi sewot. kan ceritanya udah lewat dek". Satria membela dirinya.
"meskipun. siapa yang menang? ".
"ga ada yang menang. semua merasa di rugikan". sahut Satria santai.
"baru tau yang namanya tawuran tetap aja ga ada yang benerkan. ? ". cibir Retha.
"iya".sahut Satria.
sementara Alma tertawa kecil menahan geli melihat sepasang suami istri yang saling bersiteru lucu hanya karena masa lalu yang bertahun berlalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
hai Reader mohon dukungan nya untuk novel ini dengan memberikan like, vote, komen