
Justin menikmati santapan gulai ikan nya yang terakhir. bahkan ia mengisap sisa sisa nasi dan kuah yang menempel di sela sela jarinya.
"laper atau doyan sih nak Justin? ". tanya Astrid dengan senyuman yang sedari tadi memperhatikan tingkah menantunya saat makan.
"enak bun. ternyata bener kata temenku lebih enak kalau makan di daerahnya langsung". sahut Justin seraya mencelupkan tangannya di kobokan.
"memangnya selama ini kamu ga pernah makan yang beginian? ". serius??? ". tanya Astrid penasaran.
"pernah juga. cuma yang ini beda rasanya. tepatnya chemistry nya dapet ketika makan. atau karena si Namira lagi hamil ya bun? ". ujar Justin.
"mmm. ga ngerti juga bunda. tetapi bisa jadi sih. kamu yang ngidam ketika istri lagi hamil". sahut Astrid.
Justin melap tangannya dengan serbet tissue yang memang selalu di sediakan pada masing masing meja, seraya memperhatikan keadaan sekeliling Restoran. lalu netranya menangkap mini dekor di taman belakang dari Restoran hotel tersebut.
"ada acara apa bun? ". tanya Justin seraya menunjukkan mini dekor kepada mertuanya.
Astrid mengikuti pergerakan telunjuk Justin. lalu kembali menatap menantunya itu.
"ooh itu. acara tadi pagi. tujuh bulanannya anak dari ibu yang punya restoran ini". sahut Astrid.
"mmm...acaranya pasti meriah ya bun". terka Justin.
mengingat kebanyakan setiap hajatan bakalan meriah jika salah satu anak atau pemilik usaha membuat acara hajatan atau even apapun itu.
Astrid menggeleng kan kepalanya keras seraya mengerutkan keningnya.
"cuma keluarga aja. ga ada tamu yang lain. acaranya juga tertutup untuk umum". sahutnya kemudian.
Justin manggut manggut mengerti.
Alma menghampiri Astrid untuk memberikan sisa buah dan cookies buatan Dea pada mereka.
"maaf uni. jika semuanyo barang sisa". ujar Alma.
"ahh uni. ga apa apa. malah saya yang harus tidak enak sama uni. sedari tadi makan gratis melulu". sahut Astrid yang juga tak merasa enak hati.
"ini menantu saya.Justin papa si Keyra".
"Justin. ini bu Alma. yang punya Restoran ini".
Astrid memperkenalkan mereka berdua.
"pantas anaknya cantik banna. papanya model begini". puji Alma mengagumi laki laki tampan tersebut.
"terimakasih bu". sahut Justin.
"ayo di coba". tawar Alma membuka toples cookiesnya.
Justin mengambil satu dan menggigitnya pelan. begitupun Astrid.
" terimakasih ya bu untuk makanannya hari ini. semuanya enak termasuk cookies nya". ucap Justin tulus.
"iya uni. ini enak. siapa yang bikin? ". tanya Astrid.
__ADS_1
"si Jasmine uni. dia memang suka memasak dari dulu. terus dia juga pintar kalau menilai makanan. makanya ambo kalau masak apa apa ya suruh Jasmine yang rasa dulu sebelum di bagi ke orang". sahut Alma seraya tersenyum bangga.
"beruntung Uni memiliki satu anak perempuan seperti Jasmine ya. sudah cantik, pintar memasak Lagi". puji Astrid tulus.
malam itu obrolan tiga orang tersebut pun berakhir dengan hadiah setoples cookies milik Dea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tak terasa waktu menunjukkan setengah jam lagi akan berlaku pukul dini hari. udara laut semakin berhembus menembus kulit.
tetapi empat sekawan tersebut bener bener larut dalam perbincangan yang terkadang tak bermutu. karena percakapan yang mereka lakukan hanya sekedar tanya jawab yang menghabiskan waktu. tetapi bagi empat sekawan tersebut. itulah kisah lucu yang membuat mereka terasa geli hingga perut pun terasa kaku.
"awww". pekik Dea tiba tiba.
ia merasakan tendangan kuat berasal dari perutnya. perutnya seketika menegang. Dea mengelus elus pelan perutnya seraya menahan sakit.
tiga sekawan tersebut terdiam seketika mendengar pekikan Dea.
"Jasmine. kamu kenapa? " tanya Retha khawatir yang melihat Dea meringis kesakitan.
Rendy melihat arlojinya. sontak membelalakkan matanya.
"busyet. kebablasan. ". gumam Rendy resah.
karena ia berjanji pada tante Alma akan mengantar pulang bumil tersebut sebelum larut malam.
Arjun yang melihat kepanikan di wajah kedua temannya pun ikutan panik. ia juga melihat waktu di arlojinya. ia pun juga berjanji pada tante Alma dan auntynya akan pulang sebelum larut malam. tapi nyatanya setengah jam lagi akan memasuki dini hari.
"Jasmine". panggil nya resah yang melihat Dea meringis.
"bayinya marah kali. karena mamanya masih keluyuran malam malam. yok pulang". ajak Retha yang segera mengemas barang barang pribadi mereka.
Rendy dan Arjun pun tak bisa membantah. mereka mengikuti ajakan Retha bukan karena tentang bayinya. akan tetapi janji yang di buat pada tante Alma. selain itu mereka juga khawatir pada kesehatan Dea yang otomatis juga akan berpengaruh pada bayinya.
Mereka akhirnya pun pulang dalam satu mobil. Rendy mengantar Retha dan Arjun ke rumah Aunty Kanita. sedangkan Dea di antar Rendy kerumah nya Jasmine.
Dea yang melihat Rendy menyetir ke arah rumah Jasmine bukannya balik ke Hotel akhirnya pun bertanya.
"kok di antar kerumah. bukannya harus balik ke hotel. tante Alma kan masih di Restoran". ucap Dea sedikit protes.
" sebelun pergi tadi, tante Alma berpesan agar pulangnya kamu beristirahat di rumah aja. biar bisa check up ke rumah sakitnya lebih dekat kalau dari rumah". jelas Rendy.
"besok pagi aku jemput. sekalian mengantar mereka ke bandara. terus kita pergi bareng ke rumah sakit untuk nge check ke dokter kandungan. oke Jasmine?? ". lanjutnya seraya menekan kalimatnya.
"ya". sahut Dea pasrah.
...----------------...
ting.
pesan masuk ke ponsel Justin yang baru saja selesai bervideo call dengan istrinya. ia membuka dan membaca isi pesan tersebut.
sepupu
__ADS_1
"bang. Direktur Rumah sakit kota Pdg. barusan ngasih tau. kalau dia mau ketemu abang besok pagi. sepertinya membahas produk luka bakar kita tempo hari bang".
Justin
"ok. besok pagi abang ke sana. makasih buat infonya".
sepupu
"08**********. tu nomor telpon beliau. hubungi ya. karena beliau ga punya nomor abang"
Justim
"iya. ok".
akhirnya masing masing dari keduanya menutup ponselnya. karena di rasa tak ada lagi yang harus di bahas.
Justin menepuk nepuk pelan bokong babynya yang menggeliat bangun karena suara berisik nya. dan kini tubuh mungil itu menghadap dirinya dengan wajah yang menggemaskan. Justin tak lupa mencium pelan pipi chubby tersebut.
"putri kecil papa". gumam Justin tersenyum.
lalu ia pun merebahkan tubuhnya di samping bayi yang ia rindukan tersebut.
...----------------...
Dea baru saja terbangun dari tidurnya. ia menggeliat pelan. dan mengusap lembut perutnya.
suara ketukan pintu dari arah luar rumah terdengar. Dea menghentikan aksinya. ia bangun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya Jasmine. tak lupa ia membalut kepalanya dengan pashmina yang tergantung di belakang pintu.
Dea menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
suara ketukan masih terdengar.
"iya sebentar". sahut Dea yang terus berjalan pelan karena perut besarnya.
Dea memutar kunci serta menarik tuas untuk membuka pintu dan netranya membulat sempurna ketika ia melihat satu lelaki di hadapannya yang terkadang ia merindukannya dan sekaligus ia membencinya.
"Jus... Justin". desisnya pelan dengan darah yang berdesir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
selamat menunaikan ibadah puasa ya readers.
jangan lupa tetap di
like
komen
vote
rate
❤
__ADS_1
tunggu di next chapter ya....