
# Selamat menikmati episode ini kembali ya readers.
besok paginya...
sepulang nya Andra dari honeymoonnya ia membawa segudang oleh oleh untuk sekretarisnya dan juga kedua sahabat nya. Andra memasuki ruangan Justin di mana ia mendapati Indra sedang memeriksakan beberapa berkas di sofa dengan Alex, asisten pribadinya Indra.
"oi bro". sapa Andra dengan cengirannya.
"aishh si bro yang baru bulan madu". sahut Indra menyambut hangat sahabatnya itu.
"nih buat lu". Andra memberikan satu paperbag yang terdiri dari tiga bingkisan untuk Indra.
"banyak amat dra". ujar Indra seraya membuka paperbag tersebut.
"buat lu, anak dan binik lu. itu Cindy yang pilihin kok". ujar Andra.
"wahh.. makasih ya. makasih juga untuk bini lu yang udah repot repot milih oleh oleh untuk anak gue". ucap Indra sumringah.
"si Justin mana? ". tanya Andra seraya celingak celinguk mencari sahabat nya itu.
"di pabrik". sahut Indra.
"ohh.. ya udah. kita ngumpul di kafe aja ntar yuk". ajak Andra.
"mmm.. ga tau juga sih. soalnya udah dari seminggu yang lalu dia nya bolak balik antara kantor dan pabrik". sahut Indra.
"terus juga kemarin si Justin ngantor di sana numpang ruangannya Satria sama kayak gue numpang ruangan nya si Justin.
"ohh. emamg si Satria kemana? ". tanya Andra.
"yah biasalah". sahut Indra.
"oh iya ya. ya udah kita berdua aja yok. kangen gue sama kopinya kita". ajak Andra.
"mmm. ntar kalau laporan gue selesai. lu bantuin dong". sahut Indra.
"beres pak Ceo". kekeh Andra.
"bisa aja lu. lu juga kan Ceo. lebih paten lu ndra". timpal Indra.
__ADS_1
"lu lah yang paten dan tahan banting. gue mah apalah semua nya udah tersedia. bukan dari kerja keras gue sendiri". ujar Andra merendah.
"ada ndra. perusahaan yang lu pijak ini juga hasil usaha kita bersama. cuma elu nya aja ga mau di angkat jadi ceo di sini. malah masih aja betah dengan jabatan elu sekarang". ujar Indra.
"lu kan tau sifat gue. ogah ribet. pusing gue". sahut Andra.
"iya. gue maklum si Justin juga". sahut Indra.
...----------------...
di sebuah hotel yang sering ia kunjungi saat berada di Jkt. lelaki tua yang biasa berkencan dengan banyak model memandang foto foto gadis setengah bugil untuk ia ajak kencan panas malam ini.
"hmmm... tak ada satu pun yang menarik di hatiku". ucapnya seraya mengetik satu nama di fikirannya.
lalu muncullah akun sosial media yang hampir setiap harinya ia pandangi foto foto syurnya. ia pun mulai berkhayal membayang kan sebuah tubuh yang selalu membuat nya penasaran selama ini.
saat tangannya mulai mengggerayangi tubuhnya sendiri hingga ke bagian tubuh intinya yang telah menegang. jari jemarinya pun bermain solo di sana seraya membayang kan seseorang wanita yang selalu membuat nya penasaran akan tubuh erotis nan indah nya.
"ohhh... Midea..... ohh.. honey.... ahh.... syit..
Midea... ". desisnya yang mulai merasakan nikmat atas perbuatan nya sendiri.
hingga beberapa menit kemudian ia pun mencapai puncaknya dari hasil perbuatan nya sendiri dengan fikirannya yang masih membayangkan wajah dan tubuh sexy dari seorang Midea Hasxander.
ia menarik tisu di atas nakas dan membersih kan cairan kental yang putih di atas perut dan juga senjatanya. setelah di rasa cukup ia menelpon seorang asistennya.
"aku mau kau cari keberadaan Midea Hasxander sekarang juga". titahnya tegas.
lalu ia menutup telponnya dan bergegas ke kamar mandi dan merendam kan dirinya di sana dalam sebuah bath up yang telah berisikan air hangat untuk merilekskan tubuhnya. saat berendam ia memejamkan matanya dan membayangkan tubuh Midea yang ikut berendam bersamanya.
"akh.. Midea.. di mana kau sekarang. kenapa keberadaan mu sangat sulit ku temukan". gumam nya.
...----------------...
tiga hari kemudian
selama Satria berada di luar kota untuk melakukan survey maka selama itu juga Justin berada di pabrik. tentu saja hal ini membuat heran kedua temannya terlebih Andra yang membuat dirinya penasaran akan Kebiasaan Justin.
jika dulunya Justin lebih suka menghabiskan waktu di kantor pemasaran dari pada harus menghabiskan waktu di pabrik yang menurutnya sedikit berisik, kini justru terbalik meskipun Justin tak memiliki ruang khusus untuk dirinya pribadi dari setiap pabrik yang menghasilkan produk produknya. Justin kini lebih rela menumpang di ruangan adik sepupunya itu.
__ADS_1
"gue heran sama si Justin mau berapa hari dia betah ngantor di sana selama Satria di luar kota. bukannya itu anak anti lama lama kalau udah ke pabrik?". ujar Andra pada Indra.
sedangkan Indra yang awalnya heran, akhirnya mengerti juga. karena di sana lah tempat perkumpulan mahasiswa calon peneliti baru untuk perusahaan mereka.
Indra berasumsi jika Justin sengaja ngantor di sana lantaran gadis manis yang bernama Jasmine ada di sana. karena itu ia pun membiarkan saja Justin mengejar gadis itu untuk mendapatkan simpati dari gadis yang bernama Jasmine itu.
berbeda pemikiran denga Indra. justru keberadaan Justin di pabrik adalah menjalankan suatu misi untuk memgawasi pergerakan Midea agar ia tau apa saja yang di lakukan oleh istri gilanya itu di sini.
mengingat track record nya Midea yang dulunya hampir pernah menghancurkan perusahaan nya lewat produk produk KBC yang menyebabkan para konsumen menjadi alergi akan perbuatan Midea.
tentu saja hal ini bisa saja terjadi lagi jika Midea berada di ruangan yang seharusnya di jaga ketat oleh orang orang seperti Dea.
Akhir nya tanpa sepengetahuan Midea dan Satria Justin memerintahkan kepala bagian lab agar mengawasi pergerakan Midea sekecil apa pun.
seperti saat ini Midea tidak boleh lagi memegang bahan dasar pembuatan obat. Midea hanya boleh masuk lab sebagai seseorang yang harus patuh pada setiap orang yang meneliti.
Midea sama sekali tidak boleh menyentuh apa pun di lab tersebut. ia hanya boleh menyentuh dan mengambil sesuatu jika di suruh.
tentu saja hal ini membuat Midea semakin gerah akan situasi dan kondisi yang ia hadapi. Midea di buat congek di ruangan lab tersebut.
tetapi Midea bisa bersabar dalam satu atau dua hari.
akan tetapi di hari yang ketiga. kembali Midea di perlakukan seperti pembantu oleh asisten asisten tersebut.
Midea akhirnya menyerah ia keluar dari lab dengan perasaan gerah dan ingin marah. hanya saja ia tidak tau ingin melampiaskan nya pada siapa. Midea menarik nafasnya sedalam mungkin.
"mungkin aku harus menunggu pak Saria kali ya? ". mana tau dia bisa membantu ku agar aku melakukan penelitian di tempat lain. semisal di ruangan lab kampus.
sementara Justin menyeringai puas saat mendengar laporan dari kepala bagian lab bahwa Midea di buat sulit oleh orang yang disuruhnya secara langsung.
"Midea. aku menunggu pengakuan mu istri gilaku, "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel keduaku ya readers dengan memberikan like, vote, komen dan favoritnya. dan share linknya ya readers yang caem
terimakasih
Follow my ig
__ADS_1
Hazhilka279
#Hazhilka