She is My Dea (Mengejar Istri Gila)

She is My Dea (Mengejar Istri Gila)
cobaan Justin


__ADS_3

# selamat menikmati episode kali ini ya readers....


Tama yang tau maksud dari tatapan Dean pun tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya dan merelakan Dean untuk menghampiri Mona.


Lalu Dean berjalan ke arah Mona yang menyambutnya sumringah.


"Dee sayang mmmmmm....oma kangen sama kamu. Udah mandi ya?". Ujar Mona seraya mencium kedua pipi gembulnya.


"udah". Sahut Dean seraya menganggukkan kepalanya.


"hmmmm....wangi banget cucu oma". Ucap Mona seraya memeluk dan mencium ubun ubun kepala Dean serta mengelus elus lembut rambut coklat yang halus nan lembut itu.


Sementara Justin terkesima melihat penampilan keren anaknya. Ia mencoba menyentuh kepala sang anak. kali ini Dean tidak menepis tangan Justin saat pertama kali Justin mencoba membelai kepalanya.


Dean mendongakkan wajahnya ke arah Justin yang terus tersenyum menatap putranya itu.


"sini sama Daddy". ucap Justin menawarkan pelukan untuk putranya itu.


Tetapi Dean hanya mengambil tangan kanan Justin dan menciumnya lalu ia lepaskan lagi. tentu saja hal ini membuat Justin yang tadinya tersenyum menjadi cemberut melihat tingkah anaknya yang memberi harapan palsu itu.


Sementara Tama tersenyum lucu melihat wajah Justin yang bete karena kelakuan anak kandungnya sendiri.


"rasain lu". cibirnya di dalam hati.


"kita au alan alan ya oma?". Tanya Dean ke Mona.


"iya sayang udah di kasih tau ya sama umi dan abi?". Tanya Mona.


"iya udah". Sahut Dean.


"Dee mau kan?". Jalan jalannya sama oma dan Daddy?". Tanya Mona lembut.


"om Tama juga?". Tanya Dean.


"coba tanya sama Om Tama mau ikut ga?". Tanya Mona ke Dean.


"oom ikut Dee?". Tanya Dean ke Tama.


"enggak bisa. Oom harus belajar. Besok ada ujian". dusta Tama dengan tenggorokan yang mulai tercekat.


"0oo ujian itung itung ya om". celoteh Dean.


"iiya..Dee". Sahut Tama tersenyum.


"oom nya halus belajal oma". ucap Dee polos.


"ya udah ga apa apa. Kita perginya sama oma dan Daddy aja ya". bujuk Mona.

__ADS_1


"iya". Sahut Dean mengangguk setuju.


Mona dan Justin tersenyum lega karena Dean bisa di bawa pulang dengan mudah saat ini. Sedangkan Retha menatap sendu pada batita itu yang kini dalam pelukan sang nenek kandungnya.


Satria mengelus elus punggung Retha untuk menenangkan istrinya itu saat Mona dan Justin pamit pulang seraya membawa Dean bersama mereka.


"bu'de". Panggil Satria saat Dean sudah di bawa masuk oleh Justin ke mobilnya.


"kalau kami kangen. Boleh ga Dee nya kami bawa pulang dan menginap di rumah kami sama seperti Keyra". Ucap Satria memohon.


"ya boleh lah Satria. Bu'de ga keberatan kok. Hanya saja saat ini biar Dee dekat dulu sama Daddy kandungnya ya". Sahut Mona meminta pengertian Satria.


"ya bu'de". Sahut Satria seraya tersenyum miris.


Ia mulai merasakan mirisnya jika tidak memiliki anak sendiri dan hanya berharap pada anak orang meskipun itu adalah keponakan nya sendiri.


Mona pamit pada keluarga tersebut lalu memilih masuk ke jok belakang mobil karena di samping Justin sebagai driver hari ini ada Dean yang menemaninya.


Sepeninggalnya mereka raut wajah dari anggota keluarga Syahrul ramadhan lubis tersebut berubah menjadi sendu. Terlebih Tama dan Retha yang sudah terbiasa bersama batita tampan tersebut selama beberapa minggu ini.


"coba aku punya adik lagi atau keponakan sendiri". Celetuk Tama seraya ngeloyor pergi ke luar dari halaman rumah.


"mau kemana Tama?". Tanya sang mama.


"cari cewek di lapangan sana". Sahut Tama asal dan menghilang dari pagar rumah mereka.


Sementara di perjalanan menuju taman bermain anak yang baru saja di resmikan. Justin tak henti hentinya melirik sang putra yang tampak anteng di jok nya.


"udah sampek sayang. Kita turun yuk". Ajak Justin.


Dean menuruti kata sang Daddy saat Justin membukakan pintu untuk putranya itu. Sementara Mona memang sengaja membiar kan Justin bertindak duluan dari dirinya, hal ini ia lakukan agar ayah dan anak itu bisa lebih dekat satu sama lain.


Sedangkan Dee melihat lampu lampu dan permainan permainan yang pernah ia lihat dan juga ia rasakan saat bersama Alma dan bundanya hanya berkomentar kecil


"ampu lip lip". Celotehnya pada dirinya sendiri.


"odong odong". Celotehnya kembali saat melihat komidi putar yang besar.


Justin dan Mona tersenyum geli mendengar celotehan batita itu.


"Dee mau naik yang itu ga?". ajak Justin seraya menunjukkan kereta api mainan yang bisa di duduki dua orang dewasa di setiap kabinnya.


"ndak au. Dee dah naik cama bunda, nenek, ayah, papa, abi, umi. Cama oom Tama uga". Sahut Dean.


"mmm..kalau yang itu. Dee mau kan?". Ajak Justin kembali seraya menunjukkan komidi putar yang besar.


"ndak au. Dee udah naik kok". Sahut Dean polos.

__ADS_1


kembali Justin menahan kekecewaan untuk kedua kalinya, ketiga kali, ke empat, ke lima bahkan ke enam kalinya Justin menelan rasa kecewa dari setiap jawaban putranya itu.


bagaimana tidak setiap ia mengajak putranya itu mencoba suatu permainan semuanya sudah pernah ia rasakan bersama orang orang yang Justin tidak kenal sama sekali.


Sementara Mona menepuk nepuk pundak Justin untuk lebih sabar dan tawakkal menghadapi anak seusia Dee yang lebih nyaman jalan jalan bersama orang lain di bandingkan Daddynya sendiri.


Justin hanya menarik sudut bibirnya menahan rasa kecewa yang mulai terasa menghimpit dadanya. Ia merasa menjadi orang yang sangat terlambat dalam membahagiakan sang putra.


Bagaimana tidak, kesan pertama yang harus di berikan sang ayah untuk anaknya telah di dahulukan melalui orang lain untuk anaknya. Tentu saja hal ini membuat Justin merasa kesal terhadap Midea. Ia mengulik kembali kisah lalu saat Midea kabur dari rumah sakit jiwa.


"seandainya saat itu kamu mematuhiku Dea. Mungkin saat itu aku bisa tau kalau kamu hamil anakku". Ucap Justin kesal di hatinya.


"seandainya kamu tidak kabur. Mungkin saat ini aku bisa akrab dengan Dee dan menjadi Hero satu satunya buat dia". Bathinnya kesal mengingat Dea saat itu.


"Justin". Panggil Mona pelan seraya menggenggam tangan mungil Dean.


"nih. Coba bawain ke tempat yang banyak balon balonnya. Mungkin dia tertarik". Saran Mona seraya memberikan tangan Dean ke Justin.


"Dee mau balon ga?". Tanya Justin penuh harap.


"balon becal?". tanya Dean.


"iya. Balon besar. Kita ke sana yuk". Ajak Justin sedikit lega karena sedikit adanya harapan pada anak itu.


"iya au." sahut Dean seraya menganggukkan kepalanya.


Justin tersenyum sumringah dan menatap sang mama. Sementara Mona mengangguk kan kepalanya agar Justin pergi berdua bersama putranya itu untuk membeli balon.


"thank you ma". Ucap Justin pelan seraya menoleh ke belakang meninggalkan sang mama sebentar di bangku taman.


Sedangkan Mona hanya tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya kepada putranya itu.


...----------------...


Next chap kira kira sepanik dan seheboh apa ya Justin dan Mona kalau Dee menghilang di antara kerumunan pengunjung lantaran ia mengikuti seorang perempuan yang ia pikir adalah bundanya.


Tetap stay di sini ya. Jangan lupa like, vote, komen dan share linknya ya readers.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon dukungannya untuk novel keduaku ya readers dengan memberikan like, vote, komen dan favoritnya. dan share linknya ya readers yang caem


terimakasih


Follow my ig


Hazhilka279

__ADS_1


#Hazhilka


 


__ADS_2