
# Selamat menikmati episode ini kembali ya readers.
beberapa hari kemudian...
saat Midea semakin gerah dengan perlakuan orang orang di sekitar lab KBC. akhirnya Midea menceritakan tentang keinginan nya untuk keluar dari tim penelitian di pabrik tersebut. tentu saja hal ini menjadi pertanyaan bagi Satria mengenai apa penyebab nya.
ia pun menemui kepala bagian lab yang biasa di panggil pak Fachrul. di mana Dea adalah salah satu bagian dari anggota nya yang berada dalam tanggung jawab nya langsung.
saat Satria mendengar cerita dari kepala bagian lab tersebut. Satria pun mengerti bahwa semua ini adalah titah atau pun akal akalan dari abang sepupunya untuk menguji atau pun mencari perhatian pada mahasiswi nya itu.
akhirnya ia pun menemui abang sepupu nya yang berada dalam ruangan pribadi miliknya yang masih tampak sibuk dengan laptop nya dan beberapa berkas yang berserakan di meja sofanya.
"ehem". Satria berdehem untuk menarik perhatian abang sepupunya itu.
tetapi Justin masih tak perduli akan kehadiran Satria.
"bang". panggil Satria.
"mmm... ". sahut Justin dengan netra yang masih menatap serius layar monitor laptop nya.
Satria duduk di sofa menghadap Justin dan memperhatikan kegiatan sang abang Sepupu nya itu.
"bang. ada yang mau ku tanyakan". ujar Satria.
"iya tanya aja. emang ada masalah apa? ". sahut Justin dengan mata yang tak lepas dari berkas berkasnya bahkan masih dengan jari jemarinya yang lincah menari di atas papan keyboard.
"soal Jasmine". sahut Satria seraya menatap ke abang sepupunya itu.
Justin menghentikan kegiatan mengetik nya. lalu memandang Satria sesaat dan menunduk kan lagi netranya pada papan keyboard. dan melanjutkan kegiatan nya kembali.
"kenapa? ". tanya Justin datar.
sebab ia sendiri sudah tau kemana arah pembicaraan adik sepupunya itu mengenai Jasmine yang tak lain adalah Midea. ia yakin Dea telah melaporkan kekesalannya pada Satria. dengan begitu Dea merasa bahwa adik sepupunya itu akan melindungi nya karena hubungan akademik nya selama ini.
__ADS_1
"bisa abang hentikan ga? titah abang pada pak fahrul untuk mempersulit Jasmine". ucap Satria memohon.
Justin menghentikan sejenak kegiatan nya. lalu tersenyum sinis dan melanjutkan kembali kegiatan nya tanpa memperdulikan permintaan Satria.
"manja banget sih. baru juga di gembleng dikit udah ngadu sana ngadu sini". ketus Justin.
Satria menarik dalam nafasnya melihat reaksi sang abang.
"bukan ngadu bang. masalahnya yang abang lakukan pada Jasmine itu sangat membebani dia dan bisa membuat ia terkendala dengan skripsi nya bang. cobalah bersikap adil padanya sama seperti abang memperlakukan mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya". jelas Satria.
"Satria. perusahaan mencari seorang yang kompeten serta tangguh bukan yang cengeng seperti dia". ketus Justin.
"iya bang aku tau. tapi bagaimana pun perlakuan abang ke Jasmine tetap aja itu ga adil bang". sahut Satria.
"Jasmine dan keluarganya cukup lama menantikan hal ini. bahkan almarhumah mamanya juga mengharapkan anaknya segera selesai dan di wisuda. jika abang menghalangi niat dan usahanya saat ini. itu sama aja abang menghalangi cita cita almarhumah mama nya". lanjut Satria.
"abang tidak menghalang halanginya. hanya menguji mental dan sikapnya. sejauh mana ia bisa bersabar dalam perusahaan ini. begitu pun untuk mahasiswa yang lainnya. abang akan uji satu persatu dari mereka. mengerti kamu!". jelas Justin seraya menatap tegas adik sepupunya yang ia kenal lemah jika berhadapan pada orang yang di kasihaninya.
"aish.. ni anak terlalu lembek. apa ga mudah di tipu sama orang seperti Midea". bathinnya seraya menatap kesal adik sepupu nya itu.
"kamu itu kenapa terlalu melankolis sih dek. apa lagi sama perempuan manja seperti itu". cetus Justin.
"bukan begitu bang. Jasmine itu seorang yatim piatu bang. yang aku tau begitu. karena selama aku mengenal nya, aku tak pernah melihat papanya. Jasmine hanya hidup berdua saja dengan mamanya yang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit pemerintah di kota Pdg". Satria berujar pelan.
Justin hanya tersenyum menanggapi cerita adiknya tentang gadis yang telah tiada. sementara Satria hanya bisa menghela nafasnya saat abangnya itu menanggapi dengan senyum dingin.
Satria tidak habis fikir memikirkan sikap abang sepupunya itu yang di kenal dingin terhadap perempuan. tak perduli mau memiliki kisah semenderita apa pun perempuan tersebut. jika ia tidak memiliki rasa empati yah tetap saja seperti sekarang ini. sulit untuk mendapatkan perempuan yang bisa dekat dan menjadi pasangan hidupnya.
dalam hidup abangnya hanya dua perempuan yang ada di hidupnya, itu pun dari keluarga nya Archidean.
"dia seorang difabel dulunya". Satria mulai membuka kehidupan masa lalu mahasiswi nya itu.
konsentrasi nya Justin mulai berpecah antara memikirkan pekerjaan nya yang ia tangani sekarang dengan mendengar kan kisah hidup gadis yang bernama Jasmine yang ia pikir ia telah mengenali gadis itu selama ini. nyata nya ia telah di tipu oleh perempuan licik yang bernama Midea.
__ADS_1
hanya saja saat Satria mengucapkan kata difabel membuat Justin tergugah hatinya mengenai kehidupan gadis itu. Justin mulai di liputi rasa penasaran akan kehidupan kisah masa lalu Jasmine semasa hidupnya.
Justin menghentikan kegiatannya di atas papan keyboard laptopnya. ia memandang Satria seraya menyenderkan punggung nya ke sandaran sofa.
"lanjutkan". ujarnya untuk menunggu cerita gadis yang pernah mulai ada di fikiran nya sebelum tau bahwa gadis itu telah tiada.
Satria mengernyitkan dahinya heran dengan perubahan sikap abangnya itu.
"ya. lanjutkan ceritamu tadi. aku mau tau". ujar Justin yang masih sabar menunggu.
lalu Satria pun memulai cerita masa lalu di mana saat awal pertama kali melihat Jasmine tengah berbicara yang hanya menggerak kan bibir dengan mamanya. awalnya saat itu ia mengikuti arah pandangan Retha yang sedang memperhatikan ibu dan anak itu. dari situlah ia tertarik mengikuti perkembangan kedua mahasiswi itu.
Yah saat ia tau Retha dan Jasmine berteman dekat dari situ lah juga Satria diam diam mengikuti kegiatan mereka berdua. dimana satunya ia merasa benar benar suka terhadap Retha dalam pandangannya yang pertama. sedangkan yang satunya ia merasa awalnya iba pada keadaan Jasmine tetapi berubah menjadi rasa kagum dan bangga akan semangat dan rasa kepercayaan diri Jasmine yang luar biasa itu.
sementara Justin mulai tambah mengagumi sosok seorang Jasmine yang kini hanya tinggal nama dan kisah tentang Jasmine.
"sayang. kita terlambat bertemu Jasmine". ucap Justin di hatinya.
"sayang banget kamu dek yang menganggap jika gadis yang kalian banggakan masih hidup padahal yang kalian lihat adalah gadis palsu".
bathinnya bergemuruh mengingat kebaikan Satria yang di manfaatkan oleh seorang Midea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon dukungannya untuk novel keduaku ya readers dengan memberikan like, vote, komen dan favoritnya. dan share linknya ya readers yang caem
terimakasih
Follow my ig
Hazhilka279
#Hazhilka
__ADS_1