
## wellcome back readers. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
Setelah keluar dari ruangan Dokter spesialis syaraf tersebut. Sagita berniat mengejar tiga sekawan tadi. tetapi baru juga ia keluar dari ruangan tersebut seorang perawat memanggil nya.
"kak Gita". Panggil seorang perawat yang umurnya lebih muda darinya.
"ya. ada apa?". Sahut Gita membalikkan tubuhnya.
"di panggil ibu yang tadi". Ujar perawat muda itu memberitahu.
akhirnya Gita pun lebih memilih menemui kliennya yang baru terjaga dari tidurnya.
Sementara ketiga karib itu masih terdiam dan larut dengan pemikirannya masing masing dan semua berhubungan dengan Dea.
sementara Rendy selain memikirkan nasib Dea. Ia juga memikirkan janjinya pada mama untuk mengajak dua wanita paruh baya itu jalan jalan sore ini.
"tante Alma disini". Ujar Rendy tiba tiba membuka suara.
Retha dan Arjun menatap Rendy.
"iya. Tadi pagi berangkat pulang bersamaku. Sekarang ada di rumahku sedang beristirahat" jelas Rendy yang tau arti tatapan dari kedua temannya.
"tadinya aku sama mama udah janji sih.mau mengajak beliau jalan jalan sore ini". Ungkap Rendy.
"kamu pulang aja dulu Ren. Penuhi dulu janji kamu sama mama dan tante Alma. Mengenai kak Dea biar aku aja yang nungguin disini. Soalnya nanti bang Satria bakalan nyusul kemari". ujar Retha.
"ga apa ni Tha?". Tanya Rendy kurang yakin.
"iya. Ga apa. Kamu juga Jun. kamu balik aja ke kafe. Apa lagi ini weekend. pasti ini udah mulai rame kan?". Ucap Retha.
"ya udah aku balik ya?". Sahut Rendy.
Retha menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Lalu ia melihat Arjun yang masih memainkan ponselnya saat Rendy telah berlalu dari hadapan mereka.
"kamu ga pulang Jun?". Tanya Retha.
"nanti. ke kantin yuk?". Ajak Arjun.
"oke". Sahut Retha.
...----------------...
__ADS_1
Gita baru saja selesai berbicara dengan kliennya seorang wanita korban dari kekerasan dalam rumah tangga. Rencanya ia akan kembali ke kantornya. Tetapi saat ia melewati ruang intensif. Ia melihat salah satu dari petugas lapas sedang berjaga di depan ruangan tersebut.
Tergerak hatinya ingin mengetahui lebih banyak penyebab napi tersebut masuk rumah sakit melalui penjaga lapas.
Dengan sedikit berbasa basi Gita mencoba memancing pembicaraan kepada penjaga tersebut hingga akhirnya ia sedikit menyinggung pasien napi yang kini sedang di rawat tersebut.
Awalnya Gita memang terkejut saat pasien napi tersebut di temukan kondisi pingsan dan bersmbah darah karena luka di keningnya.
"memang bikin repot mbak napi yang satu ini. Memang hari harinya dia banyak diamnya tapi ga tau deh kok malah jadi suka teriak teriak ga jelas akhir akhir ini". Curhat penjaga lapas tersebut.
"kenapa bisa gitu ya mbak. Kok kayak orang gila teriak teriak gitu. Emang yang di teriakin siapa mbak. Kalian ya para petugas".celetuk Gita semakin kepo.
"entah mbak. Cuma dia sering maki maki untuk lakiknya gitu sih. Lantaran lakiknya tak pernah mau bawa anaknya buat besukin dia. Tapi lakiknya emang betul mbak. Ngapain sih bawa bawa anak ke Lp. Nanti kan anaknya jadi minder karena punya mamak seorang napi ". Gerutu si penjaga.
Gita tersenyum seraya manggut manggut. Lalu ia permisi untuk menemui perawat jaga yang bertugas di ruang intensif.
sama seperti hal yang ia lakukan sebelumnya ia mencoba berbasa basi dan berbincang ringan pada perawat jaga tersebut. Hingga akhirnya ia pun sedikit menyinggung pasien napi yang dalam pengawasan seorang dokter yang memanggilnya.
"aduh mbak itu sih saya kurang tau. Kenapa ga tanya sendiri aja sih soal riwayat penyakit pasien sebelumnya sama pak Dokter master. Kan mbak termasuk dekat sama beliau". Sahut perawat tersebut yang menyebut dokter senior tersebut dengan master.
"hehe iya juga sih". Kekeh Gita garing karena gagal mendapatkan informasi mengenai riwayat penyakit sebelumnya dari pasien napi tersebut.
Saat ia ingin kembali ke kantornya, kembali ia di kejutkan pergerakan perawat jaga yang secara tiba tiba bergegas cepat menuju ruang intensif. tanpa menunggu lama Gita pun segera menyusul perawat tersebut di belakangnya.
Gita terpaku menatap wajah yang kini telah tertidur pulas itu meskipun tampilan nya sangat memprihatinkan karena penyakitnya dan bahkan borgol dengan rantai kecil yang mengekang tangannya tetap tidak bisa menutupi kesedihan yang terpancar di raut wajah manis itu. Di mana wajahnya mengingatkan dirinya pada seseorang di masa lalunya.
Gita mengernyitkan dahinya sembari mengingat kembali kenangan saat saat ia berkuliah dulu dan juga saat di mana ia pernah satu kost dengan seorang gadis difabel yang bernama
"Jasmine". Desisnya pelan dengan pupil matanya yang melebar tatkala ia mengingat nama gadis malang itu.
"ga mungkin. Bagaimana bisa wajah itu begitu mirip dengannya". gumamnya pelan.
Gita ingat betul saat seluruh kampus berduka karena insiden pesawat yang jatuh di perairan selat sunda. Dimana Jasmine termasuk salah satu penumpang yang menjadi korbannya.
Gita membalikkan tubuhnya untuk melihat daftar pasien yang terletak di dinding depan ruang intensif tersebut. Tetapi tak ada satu pun pasien yang bernama Jasmine.
Gita memilih bertanya kepada para perawat jaga yang tak jauh dari hadapannya.
"maaf mbak. Pasien napi yang ada di ruangan intensif itu namanya siapa ya mbak?". Tanya Gita penasaran.
"di sini tertera atas nama Midea Hasxander mbak". Sahut si perawat.
__ADS_1
"hmmm... Oke. Makasih ya". Ucap Gita seraya berlalu dari hadapan mereka.
setelah mendapatkan informasi nama dari pasien napi intensif tersebut akhirnya Sagita memutuskan untuk kembali ke kantornya.
Selama dalam perjalanan ia masih memikirkan satu nama pasien napi intensif tadi.
"mereka berdua terlihat mirip. Ada hubungan keluargakah di antara mereka". Bathin Gita seraya terus fokus pada jalan
sesampai di kantornya ia mencoba meminta bantuan pada teman se alumninya dulu mengenai keluarga almarhumah Jasminka.
"buat apa sih Git?". Kan udah tenang tu anak sama mamanya di alam sana. Ngapain diungkit ungkit lagi sih. Kasihan loh Git". Sahut teman sekampusnya dulu.
"ga cuma ke pingin tau aja almh Jasmine punya saudara kembar apa ga?". Gitu aja sih". Sahut Gita sedikit berdusta.
"mmm..kayaknya ga ada lah. Karena setau kita waktu mengecek formulir pendaftaran untuk masuk jadi anggota Bem. tertera di situ kalau almh anak tunggal". Jelas teman sekampus Gita.
"oohh..gitu". Sahut Gita pelan.
Sagita terdiam sesaat karena mendapatkan jawaban buntu dari rasa penasarannya saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kira kira Sagita nyerah ga ya?". Nantikan di next chap ya readers...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo readers khususnya yang baru singgah ni. aku mohon di baca ya hingga tuntas. Jangan di boom like. Karena bisa menurunkan performa karyaku. Jadi aku mohon readers yang baik. Di baca hingga akhir. Bukan di like tanpa di baca . Oke readers. Terima kasih ya buat dukungannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel keduaku ini dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya.
Dan jangan lupa ya buat mem Follow akun ku ya readers
Di ig Hazhilka
Di NT Hazhilka279
#Hazhilka
ig Zhil olshop
__ADS_1
Terima kasih.