
SEMOGA MAKIN SUKA AMA CERITA INI
SELAMAT MEMBACA
“Perasaan dia baru aje pulang kerja Neng. Ayo masuk sinih, duduk dulu. Sebentar deh Bapak panggilin,” bapak tersebut agak masuk lalu berteriak, “Mon, ada nyang nyari inih.”
“Si Eneng tinggal dimanah?” tanya si bapak dengan logat betawi Condet yang kental.
Ibu yang tadi di salimi tangannya oleh Ricky keluar membawa minum. “Diminum dulu Neng, si Mona baru ajah pulang, lagi mandi diah.”
“Emang Mona kerjanya jauh ya Bu?” Ririen mencoba mengorek keterangan dari ibunya Mona.
“Lumayan Neng, di pergudangan Sunter. Dulu sih awal-awal kerja dia repot, karena dari jalan raya ngojek dulu sampai pergudangan. Sekarang mah enak dia udah pacaran ama bosnya tiap pagi ama pulang kantor di anter jemput,” jelas si ibu lugu.
“Pacarnya Mona bosnya Bu? Orang mana koq bisa nganter jemput. Enak ya?” cecar Ririen, dia sedang menyebar umpan.
“Nyang Bapak tahu mah rumahnya Ricky di daerah Pondok Gede apa yah,” si bapak menyahut.
“Pacarnya Mona namanya Ricky ya Pak?” tanya Ririen lugu dan tak ada amarah sama sekali. Dia hanya butuh bukti untuk segera menggugat cerai. Jadia tak ingin marah-marah karena tak ingin mempertahankan rumah tangganya lagi.
“Iya Neng, katanya atasannya Mona di kantornya, emang jodoh mah gampang aja, baru masuk kerja langsung pacaran ama atasannya,” sahut si ibu bangga.
Ririen membuka tasnya dan mengeluarkan buku nikahnya, dibukanya bagian depan buku nikah yang terpampang wajahnya dan wajah Ricky. “Rickynya yang ini ya Bu?” tanya Ririen pura-pura memastikan.
__ADS_1
“Lah koq Eneng punya buku nikah ama Ricky?” tanya si bapak bingung.
“Dia suami saya Pak, Bu, kami sudah menikah hampir empat tahun dan kami sudah punya 2 anak,” sahut Ririen sambil mengeluarkan beberapa foto pernikahannya juga foto dirinya dengan Ricky dan 2 anak mereka.
Ibunya Mona langsung lemas terkulai saat melihat foto-foto tersebut, Mona yang baru keluar tidak mengetahui pembicaraan awal hanya bingung melihat ibunya lemas. Dia melihat foto-foto yang dipegang ibunya dan terbelalak tidak percaya, calon suaminya sudah mempunyai istri dan 2 anak.
Ririen pamit, sambil memberikan copyan buku nikahnya pada Mona. Dia berpesan kalau Mona mau bekasnya silakan, dia akan menggugat cerai suaminya. Keluarga Mona sangat menghargai Ririen yang tidak ngamuk-ngamuk apa lagi mencakar seperti yang mereka sering lihat para tetangga mengalaminya bila ketahuan merusak rumah tangga orang lain. Istri sah si lelaki pasti ngamuk-ngamuk. Sangat berbeda dengan Ririen yang tetap santun.
Malam itu Mona mematikan HP nya, biasanya saat Ricky sampai rumah lelaki itu akan mengabarinya, begitu pun saat akan tidur mereka akan ngobrol dahulu sebentar sambil mengucapkan selamat tidur dan melontar rayuan mereka saling merindu walau baru berpisah beberapa saat.
***
Sampai rumah Ririen sangat santai, dia tidak marah atau menegur Ricky, tadi di jalan dia sudah menghubungi temannya yang memiliki firma hukum dan meminta besok mengambil berkas di kantornya untuk pengajuan cerainya. Sebaliknya dia melihat Ricky gelisah, mungkin Mona marah atau bagaimana Ririen tidak peduli.
Keesokannya Ricky berangkat lebih pagi dari biasanya, sejak Ririen memergokinya dulu dan meneleponnya di mobilnya, memang Ricky selalu berangkat jauh sebelum Ririen berangkat agar tidak ketahuan lagi. Sejak semalam Ricky sangat gelisah karena sejak dia sampai rumah nomor ponsel Mona tidak aktif. Pagi ini sesampai di rumah Mona dia di sambut bapaknya Mona.
“Iya Beh, lagi banyak kerjaan mau audit gudang,” jelas Ricky.
“Ngopi dulu, karena masih kepagian,” ibu Mona keluar membawa 2 gelas kopi.
“Gini Rick, ari ini kayaknya Mona kagak kerja, dia cuma nitip ini,” kata ibunya Mona sambil menyerahkan amplop besar. “Katanya titip buat HRD.”
“Mona sakit Nyak, koq surat dokternya gede amat?” tanya Ricky
“Kagak Rick, dia brenti, dia malu pacaran ama laki orang nyang udah punya anak 2!” jelas bapaknya Mona sambil memberikan Ricky selembar kertas photocopy-an buku nikahnya dengan Ririen.
__ADS_1
Ricky lemas dan mati kutu, dia sudah tidak punya alasan lagi karena sudah jelas data pernikahannya sudah di ketahui oleh keluarga Mona.
Sayang kesempatan ke dua yang Ririen berikan untuk Ricky kembali di kotori oleh perbuatan selingkuh Ricky. Kali ini Ririen langsung menggugat cerai tanpa diskusi dengan siapa pun. Ririen ingat ketika Ricky tahu keluarga Mona kekasihnya sudah tahu kebohongannya pagi itu dia langsung pulang tidak jadi berangkat ke kantor. Di rumah di lihatnya Ririen sedang bersiap berangkat kantor, dia menahannya untuk bicara. “Ma, saya mau bicara.”
“Silakan!” jawab Ririen tegas.
“Aku enggak ada hubungan apa-apa ama Mona, kamu ‘tu salah duga Ma,” Ricky memberi alibi.
“Kalau aku salah duga, kenapa ibu Mona bilang kamu sebentar lagi mau ngelamar Mona, dan Bapaknya Mona cerita dengan bangga Mona belum lama kerja langsung dapat jodoh atasannya?”
“Apa kamu kira saya enggak lihat kamu mencium tangan ama ibu Mona dan kamu bukain pintu mobil saat Mona mau turun serta naik mobil mu? Apa perlakuan ke teman seperti itu? Sedang ama istrimu aja kamu enggak gitu. Lalu kamu dengan mesranya cium pipi dia saat dia baru turun mobil dan cium kening dia saat dia antar kamu ke mobil. Itu di tempat umum ‘kan.”
“Gimana kelakuan mu di dalam mobil dan di ruang kerja kalian, apa enggak lebih dari itu? Yang aku tau Mona selalu pakai rok di atas lutut, aku yakin di mobil tanganmu leluasa menjamah pahanya hingga ke pangkal pahanya kan? Itu kamu bilang aku salah duga?” cecar Ririen tanpa rem.
“Kamu bersiap aja akan dapat panggilan sidang cerai dari pengadilan. Dan mulai hari ini aku minta kamu tidak tinggal di sini lagi. Atau kalau kamu ingin tetap di sini, aku dan anak-anak yang akan keluar. Sesudah cerai aku akan pindah dari rumah ini dan hasil penjualan rumah ini akan aku bagi dua. Mobil yang kamu pakai walau itu dibeli dari uang kita berdua aku hibahkan ke kamu. Aku punya mobil yang aku beli dengan uangku sendiri tanpa bantuan uangmu!”
“Kamu terlalu sombong Ma, Papa tau mobil yang Papa pakai itu milik kita. Enggak perlu lah kamu sebutkan kamu hibahkan, saat kita cerai nanti, aku juga akan jual dan uangnya akan kita bagi dua!” Ricky terbawa emosi, dia tanpa sadar menyebutkan persetujuan cerai saat berkata saat kita cerai nanti.
“Ha ha haaa, aku berangkat kerja dulu,” Ririen tertawa bahagia karena Ricky tidak menolak perceraian lagi.
========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta