
HAIIIII
SEKARANG KITA LIHAAT DARI SISI RICKY YAAA
SELAMAT MEMBACA
Namaku Ricky Putrawan Mahendra, lelaki tampan lulusan D3 teknik komputer. Suatu ilmu baru di Indonesia saat ini ( jangan terkecoh, saat ini yang dia maksud 25 tahun lalu ) . Belum ada universitas atau sekolah tinggi yang menyediakan program S1 bidang ini.
Aku dua bersaudara dari papa seorang dosen bahasa German bernama Fuad Setyawan Mahendra dan mamaku yang pandai melukis merupakan dosen bahasa Inggris di sebuah Institut yang sama dengan papaku. Siska Mahendra nama mamaku.
Saat aku kecil, mereka sedang mengejar karier. Papa ditugaskan di German dan mama ke Australia. Padahal usiaku baru enam tahun dan adikku Indira Mahendra baru berulang tahun yang pertama.
“Kamu nanti saja berangkatnya. Kalau Dira sudah lebih besar,” pernah aku dengar papaku menegur mama yang juga ingin berangkat saat papa tugas belajar ke German.
“Enggak bisa, kamu tahu aku yang duluan ngajuin tugas belajar. Bahkan aku yang lebih dulu lulus seleksi dari kamu,” mama yang ambisius mana mau mengalah.
Akhirnya mereka berangkat hanya selisih 4 hari. Mama berangkat lebih dulu. Dira yang masih bayi dipegang oleh kerabat jauh yang memang disekolahkan oleh mamaku. Kalau dia sekolah maka Dira dijaga oleh ibu dari Martha sepupu mamaku itu. Yang biasa aku panggil oma Cimie.
Dan sebagai pelengkap ada dua orang om ku di rumah. Mereka juga masih sepupu mama. Mama anak tunggal sehingga tak ada kakak atau adiknya yang bisa membantu menjaga kami. Dan papa anak bungsu sehingga kakak-kakaknya punya anak yang harus mereka urus. Tak bisa dititipi kami sampai 6 bulan.
Dari sinilah awal aku tergila-gila pada hubungan perempuan dan lelaki. Kedua pamanku sering membawa perempuan dan beberapa kali mata polosku ternoda melihat percumbuan yang mereka lakukan di kamar.
__ADS_1
Saat aku SMP, aku mulai mencoba bermain api. Aku mulai pacaran dengan temanku. Tapi tak ada yang bisa aku gunakan sebagai ajang uji coba. Akhirnya aku bergaul dengan teman yang lebih dewasa.
Saat SMP kelas 3 atau kelas 9 kalau anak sekarang, aku mulai merasakan apa nikmatnya ciuman bibir. Aku mahir dan saat kelas 1 SMA keperjakaanku diambil oleh seorang teman yang biasa menjadi ayam kampus.
SMA kelas 1 aku lalu melanglang buana dari satu lubang semut ke lubang lainnya. Tak pernah takut akan penyakit kelamin atau teman mainku hamil. Karena semua perempuan itu selalu menjaga dirinya agar tidak hamil.
Ayam kampus tentu rugi bila hamil. Sehingga aku aman bermain tanpa pengaman.
“Abang, besok antar aku ke pesta ulang tahun tamanku. Bukan pesta disko. Ini anak rumahan. Teman SMP. Dia mengundangku. Aku yakin akan membosankan karena tak akan ada jojing di rumahnya,” Indira Mahendra adikku minta diantar ke rumah temannya di daerah Cempaka Putih Tengah I. sedang rumah kami sekarang sudah di Kranji masuk wilayah Bekasi. Mama dan Papa satu tahun lalu memang membeli rumah disini. Awalnya kami tinggal di Rawasari Barat 3, Jakarta Pusat.
“Kalau bukan pesta jojing ngapain kamu datang?” tanyaku penasaran. Adikku penggila pesta disko. Bahkan bisa disebut dia ratu disko.
“Aku lagi pengen ngedeketin cowoq yang udah bilang bakal dateng juga ke pesta Dewi. Mereka sama-sama bintang pelajar jadi mereka sahabatan,” sahut Dira manja.
“ini mau kiamat kali ya sampe lo ngedeketin cowoq gila ilmu. Cowoq suka ilmu kan enggak suka ama ceweq pecicilan kayak elo,” sahutku.
Akhirnya aku mengantar Dira ke pesta makan-makan milik Dewi teman SMP adikku. Tak ada musik genjrang genjreng. Mirip arisan ibu RT, salaman makan dan ngobrol. Aku berkenalan dengan yang ulang tahun. Dia sedang akan ujian SMA, sama seperti Dira adikku. Perempuan cukup manis. Bahkan sangat manis. Kulitnya coklat tua atau hitam manis entahlah. Yang pasti bukan putih. Dia ramah dan banyak senyum.
Sejak itu aku sering mengunjunginya. Entah mengapa. Aku yang sudah selesai kuliah dan sedang mencari kerja yang mapan tertarik pada gadis hitam manis itu. Aku tertarik berhubungan dengannya bukan hanya sekedar making love seperti yang biasa aku lakukan.
Aku seperti menemukan oase di padang gersang. Dengannya terasa hidupku lebih indah. Dan rasanya aku ingin berlabuh. Urusan kebutuhan? Aku tetap lakukan dengan perempuan lain seperti biasa.
Saat dia mulai kuliah aku bisa resmi jadi pacarnya. Dia pacar pertamaku. Baru dengan dirinya aku ingin menjalin hubungan pacaran.
__ADS_1
Cukup lama pacaran aku baru bisa mengecup bibirnya yang perawan. Sensasinya beda. Bibirnya masih sangat polos saat menerima sentuhan bibirku. ‘Ah, aku jadi ingin merasakan keperawanan bagian lainnya,’ pikirku nakal.
Sejak itu aku rajin ******* bibirnya yang makin lama makin pintar membalas kecup atau lumatanku.
Suatu siang sepulang menjemputnya dari kuliah aku mampir ke rumahnya yang kebetulan kosong. Aku mencumbunya hingga tak sadar kakak sulungnya masuk melihat kami. Kami masih pakaian lengkap tapi sudah tak beraturan.
”Jauhi Dewi atau kamu nikahi dia!” itu ultimatum keluarganya. Aku tak mau bila dia menjadi milik orang lain. Aku teramat sangat mencintainya. Dia memang cinta pertamaku karena selama ini aku tak pernah punya pacar apalagi mencintai semua perempuan yang mudah aku acak-acak sesukaku.
“Pa, aku mau Papa melamar Dewi karena aku ingin menikahinya,” tanpa diskusi aku minta papaku untuk melamarnya.
Papa dan mama setuju sebab mereka pikir daripada aku salah melangkah lebih baik dinikahkan saja. Mereka tak tahu kalau aku bukan hanya salah melangkah, tapi pakar di ilmu perlubang semutan.
‘Aaaahhhhhhhhhhhhhhh,’ memang perawan itu bedaaaaaaa banget ama lubang semut yang biasa aku masuki' Itu kesan pertamaku saat malam kedua kami. Malam pertama Dewi istriku terlalu lelah sehingga aku tak bisa membobol gawangnya.
Aku memang baru pertama kali dapat perawan. Dan tentu itu sangat nikmat. Kureguk kepuasan itu hingga pernikahan kami berjalan dua tahun. Ketika anakku berusia 1 tahun aku ditugaskan mengajar komputer di Balai Latihan Kerja di Karawang.
Disini ada kost bagi aku dan kawanku. Jauh dari istri aku kembali merasa bujang. Banyak siswa yang mengejarku karena mengira aku masih lajang. Tapi ada yang menarik hatiku yaitu gadis polos anak pak Lurah. Dia tak terlalu cantik, tapi hanya dia yang terlihat polos. Aku yang hafal perempuan polos dan bekas tentu teringat getar merasakan jadi yang pertama. Itu sebabnya aku mendekati Nina.
Aku ingin mengulang mereguk nikmatnya perawan. Bibir Nina bisa aku perawani di bioskop. Dan sejak itu dia sangat mudah aku cumbu. Untuk memuluskan jalan, aku pun mendekati keluarganya. Aku masuk dengan resmi bukan sembunyi sembunyi.
=================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
__ADS_1
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta