
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Sementara Putra hanya memperhatikan keduanya. Yang Ririen suka, para pedagang bisa mengirim tanaman yang dia beli ke Jogja, sehingga dia tak perlu repot. Dan Ririen minta tanaman dikirim satu minggu lagi agar dia sudah tiba di Jogja juga telah istirahat sehabis liburan.
Mereka kembali berkeliling. Saat ini Ririen sedang memperhatikan aneka bentuk dan warna cabe yang dipamerkan di stand dari Malang. Ririen tertarik dan dia juga membeli banyak jenis cabe terpedas itu. Ada bibit cabe terpedas dunia yaitu Carolina reaper. Seperti di stand Nepehentes dan anggrek, kali ini Ririen juga meminta bibit yang dia beli langsung dikirim kealamat rumahnya di Jogja satu minggu lagi.
Contoh beberapa jenis cabe yang Ririen beli
“Makan dulu yok Yah,” Ririen mengajak ayahnya ke stand kuliner lebih dulu.
“Ayah enggak ngerasa lapar,” pak Kusumo. Kalau sedang hunting seperti ini memang dia sering lupa makan.
“Enggak lapar bukan alasan buat enggak makan siang,” Ririen pun sebenarnya sama tidak minat makan. Tapi sejak tadi Putra mengingatkan mereka untuk rehat sebentar.
Akhirnya dengan terpaksa pak Kusumo mengikuti anak dan menantunya untuk makan siang. Ririen sengaja makan ketoprak, makanan yang tidak ada di Jogja, sehingga setiap kepengen dia harus membuat sendiri di rumah.
Mereka kembali memutari arena pameran Flona, pak Kusumo tertarik membeli bibit jamur yang direndam di air teh manis untuk obat. KOMBUCHA adalah jamur yang dikembangkan dalam air teh manis. Setelah fermentasi minimal seminggu maka air teh itu bisa diminum dan sangat baik untuk kesehatan. Akhirnya pak Kusumo membeli bibit Kombucha.
“Ayah serius beli itu? Enggak takut? Ayah ‘kan punya penyakit maag,” Ririen agak khawatir karena teh kombucha berasa agak asam.
“Kan enggak sekaligus minumnya. Dikenalkan sedikit sedikit agat perut Ayah terbiasa,” pak Kusumo yakin teh ini bermanfaat untuk kesehatannya.
“Kalau enggak kuat jangan dipaksa ya Yah,” Ririen yang sangat khawatir terhadap kesehatan ayahnya tentu tak mau apa yang dikonsumsi lelaki pahlawannya itu membahayakan.
“Yah, itu stand TANIRE’S FLORA. Aku suka, pemiliknya pelopor perkembangan keladi hias di Indonesia lho. Bahkan dia udah nulis buku keladi hias pertama, diterbitkan agro-media pustaka. Kita kesana ya Yah,” Ririen menunjuk stand yang penuh dengan warna warni caladium di hoek blok A.
__ADS_1
“Aku baru lihat, ternyata keladi banyak macamnya ya Honey,” Putra pun tertarik dengan keindahan daun keladi nan mempesona. Yang Putra tahu tanaman yang terkenal sebagai ratu daun adalah Aglaonema.
“Iya, keladi mulai merangkak naik menyaingi Aglaonema,” Ririen menjawab suaminya sambil melihat semua jenis yang tersedia disana. Seperti biasa Ririen bertanya dulu pada penjualnya, apakah bisa kirim ke Jogja. Karena dia tidak langsung pulang melainkan akan liburan ke Bandung terlebih dahulu.
“Bun, ini konsumen tanya, kalau dia beli bisa dikirim ke Jogja enggak?” pegawai yang ditanya Ririen masuk dan bertanya pada perempuan yang Ririen yakini sebagai pemilik stand.
“Bisa, dengan minimal nominal pembelian atau dengan kuantity minimal,” balas si ibu sambil memperbaiki tanaman yang sedang di repottingnya di meja dalam.
Ririen senang, karena tanpa diharuskan dengan minimal nominal pembelian atau pilihan kedua minimal kuantity pun dia pasti belanja lebih dari ketentuan itu. Dia segera memilih jenis yang dia inginkan.
“Apa keladi berani panas? Koq ini dijemur seperti ini?” tanya Ririen penasaran. Karena Aglaonema tak berani panas. Harus ditempatkan dibalik shading dengan paranet.
“Caladium itu beda Mbak,” pemilik Tanire’s Flora menjawab. Rupanya dia sudah selesai repotting.
“Mbak bedakan dulu keladi yang Mbak miliki itu berasal dari Thailand atau dari Florida? Umumnya caladium yang dari Thailand bertangkai pendek sedang yang dari Florida bertangkai panjang.”
“Nah yang dari Florida tidak mau full sun, dia harus shading. Atau setidaknya bisa kena sinar matahari hanya pagi atau sore saja. Sebaliknya, yang asalnya Thailand maunya full sun. Bila kurang cahaya dia akan bertangkai panjang dan warnanya tidak maksimal.”
“Warna pada keladi yang dari Thailand keluar cantik bila panasnya maksimal,” sang ibu menerangkan dengan santun.
“Untuk perbanyakan bagaimana Bu?” tanya Ririen. Mumpung bertemu dengan pemilik stand Tanire flora yaitu ibu ino siswodihardjo. Yang Ririen tahu Tanire adalah singkatan empat nama anak-anaknya.
“Perbanyakan yang umum pisah anakan, atau cacah umbi. Tapi bisa juga dengan biji. Hanya pada caladium biji jarang terjadi bila tidak kita bantu. Biasanya perkembang biakan dengan biji digunakan untuk membuat jenis baru.” Pemilik stand ini juga merupakan seorang penyilang caladium Indonesia.
Ririen langsung membayar tanaman yang dia beli dan memberikan alamatnya untuk pengiriman tanaman yang dia beli tadi.
Ini sebagian jenis keladi yang Ririen beli di pameran FLONA
***
__ADS_1
Tempat yang sama dengan orang berbeda tentu mempunyai kesan berbeda. Itu yang dialami keluarga Putra. Beberapa hari lalu mereka kesini dengan keluarga besar Purwanagara. Saat ini mereka kesini dengan keluarga Purbowisono. Tetap seru dan tetap hangat.
“Kalian cepat banget besar, Bude sampai enggak ngenalin,” mbak Ariesta Purbowisono memeluk Fajar dan Fajri. Dua jagoan kecil yang sejak balita selalu dalam pengawasannya karena dulu rumah mereka berdekatan. Dan saat itu Ririen adalah single mom.
“Aku baru lulus SMA Bude,” Fajar membalas pelukan budenya dengan hangat. Dia tahu, budenya ini paling dekat dengan sang mommy diantara ketiga budenya.
“Ya ampuuuuuuuun, kamu ‘kan tiga tahun dibawah kakak Bana, lulusnya barengan gini. Hebaaaaaat keponakan Bude ini,” mbak Ariesta Purbowisono tahu pendidikan dan perhatian yang Putra berikan memang sangat bagus untuk anak-anak adiknya yang memang mereka punya kemampuan.
Kemampuan tanpa dukungan tentu tak ada artinya. Mbak Ariesta Purbowisono senang adiknya akhirnya bisa bahagia dengan pasangan yang tepat.
Makan malam itu ajang mereka bertukar cerita dan canda. Bu Purbowati Purbowisono mengamati keempat anaknya. Walau semua anaknya perempuan, tapi dia punya empat menantu lelaki yang rasanya lebih dari anak kandung.
Keempat menantunya sangat dekat dengannya. Terlebih Putra yang sejak sebelum menikahi Ririen memang selalu minta saran atau pendapatnya bila ingin memutuskan persoalan yang berkaitan dengan Ririen. “Ibu mau tambah ini enggak?” Teguh suami mbak Ariesta menyodorkan ikan bawal bakar.
“Kamu ambilkan ibu udang asem manisnya itu,” bu Purbowati menunjuk piring udang yang agak jauh dari jangkauan tangannya. Sejak tadi dia sudah makan ikan bawal bakar jadi ingin mencicipi menu lainnya.
Putra yang mendengar mertuanya minta udang asem manis memberikan lauk yang diminta dan diberikan pada mas Teguh.
Hampir tengah malam Ririen tiba kembali di rumah. “Kalian bantu Mommy packing, sisakan satu baju untuk dipakai besok perjalanan ke Bandung. Ingat baju kotor pisah dalam satu kantong tersendiri,” Ririen meminta dua jagoannya membantu packing baju sikembar dan Alesha.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI\, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL **TELL LAURA I LOVE HER ** YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL **TELL LAURA I LOVE HER ** ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta