WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
KEDATANGAN SARAH DAN STEFANUS


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Good morning cintaku,” Putra mengecupi wajah istrinya dengan lembut. Pipinya, matanya, hidungnya, keningnya, dagunya terakhir dia kecup sekilas bibir istrinya.


“Morning too Mas,” dengan suara sengau bangun tidur Ririen kembali memeluk erat Putra. Dia masih sangat mengantuk.


“Kita salat Subuh dulu yok,” ajak Putra pada belahan jiwanya itu.


“Ngantuuuuuuk banget Mas,” jawab Ririen dengan malas. Namun dia tetap bangun dan langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum salat.


Putra dan Ririen keluar kamar bersamaan. Mereka akan membangunkan anak-anak yang belum siap untuk salat subuh berjamaah. “Morning Mom,” sapa Fajar yang sudah siap dengan sarungnya.


“Morning too Mas, tolong ke kamar twins ya. Biar Mommy ke kamar Alesha dan Daddy sejak tadi sudah dikamar Abang,” Ririen langsung berbagi tugas dengan anak sulungnya itu.


Sehabis salat bersama, Ririen langsung kedapur, menyiapkan bekal sekolah anak-anak dan bekal kerja suaminya. Kalau sarapan dia hanya memantau para asisten rumah tangga yang menyiapkan.


Sedang sussu anak-anak adalah tugas Putra sejak dia menjadi ayah anak-anak itu. Putra tak pernah membolehkan siapa pun menyiapkan sussu anak-anaknya jika dia dirumah.


“Mom, besok disekolah ada imunisasi,” Alesha memberitahu Ririen program sekolahnya.


“Iya sayang, Mommy sudah menerima pesan di group orang tua. Besok Mommy akan menemanimu saat imunisasi,” sahut Ririen mengambilkan Putra sarapan setelah dia mengambilkan sarapan putra putrinya.


“Thanks Honey,” Putra menerima sarapan yang Ririen berikan. Mereka semua sarapan sambil bercerita.

__ADS_1


***


“Pak, ada tamu,” seorang karyawan Putra melaporkan ada tamu yang datang. Biasanya kalau tamunya calon konsumen akan langsung dihandle oleh para insinyur yang memang bertugas menerima order.


“Siapa dan ada perlu apa?” tanya Putra yang sedang mengamati maket bangunan.


“Ibu Sarah dan pak Stefanus,” jawab pegawainya.


“Kamu berikan mereka minum dan bilang saya masih satu jam lagi bisa menerima tamu. Kalau tak bisa menunggu suruh bikin janji lain kali,” tanpa menoleh Putra menjawab sang pegawai.


“Assalamu’alaykum Honey,” Putra langsung menghubungi Ririen. Dia ingin Ririen langsung bertemu dengan Sarah.


“Wa’alaykum salam Mas,” jawab Ririen yang baru saja pulang dari menjemput twins.


“Dikantor ada ular berbisa. Kamu bisa datang?” tanya Putra lembut.


Ririen tiba di kantor Putra dengan santai 30 menit setelah pegawai Putra memberitahu bossnya tentang kedatangan Sarah.


Tanpa menoleh ruang tamu Ririen langsung masuk ruang kerja suaminya. “Assalamu’alaykum Mas,” tanpa ketok pintu Ririen masuk ruang kerja suaminya itu.


“Wa’alaykum salam. Koq cepet?” Putra langsung menghampiri istrinya memeluk serta mencium keningnya.


“Pas Mas telepon aku baru sampai rumah habis ngejemput twins. Jadi langsung nyuruh mereka ganti baju dan makan. Nyuruh pak Pujo ngejemput mbak Alesha, langsung cuzz kesini deh.”


“Eh … Mas mau apa? Mau kasih dia maaf?” tanya Ririen.


“Sampai lubang semut aku akan kejar dia agar dia membusuk dipenjara. Enggak  akan ada kata maaf dari Mas,” jawab Putra memberitahu keputusannya. Putra ingat bagaimana paniknya dia kemarin saat kekasih hatinya pergi tanpa pamit.

__ADS_1


Sakit yang dia rasakan kemarin harus dibayar mahal. Tak akan ada kata maaf darinya.


“Oke. Kalau gitu ayok kita temui mereka,” sahut Ririen dengan percaya diri. Sikap tegasnya kembali muncul seperti saat dia bekerja dulu.


“Selamat siang. Ada perlu dengan saya?” tanya Putra saat sampai di dekat sofa tempat kedua tamunya duduk. Mereka berdiri dan mengulurkan tangan. Ririen dan Putra hanya berjabat tangan dengan tamu lelaki yang menyebut jati dirinya Stefanus.


“Ada perlu apa pak Stefanus?” tanya Putra tegas.


“Saya Stefanus, pengacara dari mbak Sarah,” lelaki itu mengeluarkan kartu nama dan dan memperlihatkan kartu anggota Peradin. Saya ingin membahas soal aduan yang Bapak buat untuk klien saya,” sahut Stefanus.


“Iya, maksud kedatangan mau apa? Mengapa tidak bertemu dipengadilan saja?” tanya Putra. Dia malas berbelit-belit seperti ini.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2