
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ha ha ha ha anak kecil dengerin ya, kamu enggak pantes posesive gini ke aku, enggak perlu cemburuan. Harusnya yang posesive itu aku, cewek tua sudah punya anak tiga pacaran ama bujangan yang usianya lebih muda dan ekonominya lebih mapan.” Ririen mencoba meyakinkan Putra.
“Kalau ngomong untung rugi ya jelas aku yang bakal rugi bila aku putusin kamu dengan tiga kelebihanmu tadi. Sebaliknya kamu enggak rugi ngelepasin perempuan dengan tiga anak yang enggak kaya. Inget itu!” Ririen menjabarkan dengan jelas posisi untung rugi kondisi status mereka berdua.
“Aku bukan anak kecil, aku bisa bikin anak kecil lho, mau buktiin?” tantang Putra.
“Ha ha haa, kenapa diem, buktiin ya? Mau ya ya ya ya,” goda Putra. “Biar gimana pun aku yang rugi kalau ada yang ambil my angel. Pokoknya kamu enggak boleh tepe-tepe,” perintah Putra ketus.
Tepe yang dimaksud Putra adalah TP atau tebar pesona.
“Kerjaanku ‘kan emang tepe-tepe, kalau enggak tepe gimana konsumen mau nyantol?” balas Ririen. “Put beli duren dong, kayaknya enak deh tu duren,” kata Ririen melihat pedagang duren di pinggir jalan.
Putra menepikan mobilnya, sebelum mematikan mesin dia berkata “Bisa enggak, jangan panggil namaku gitu?” pintanya.
“Lalu aku harus panggil gimana? Depan anak-anak ‘kan sudah aku sebut daddy,” jawab Ririen polos.
“Pakai kata depan, entah mas, kak, atau A’a,” pinta Putra lagi. Putra tahu secara usia dia lebih muda dari Ririen. Tapi dalam status dia harus dituakan. Itu sebabnya dia ingin Ririen mengubah panggilannya.
“Aku panggil om aja ya? Atau Kek dari kata kakek?” goda Ririen sambil membuka pintu mobil.
‘Mendingan makan duren deh,’ pikir Ririen.
Ririen memilih durian, ada enam durian yang ingin dia bawa pulang di tambah satu yang dia ingin makan di situ, “Suka durian pahit enggak Put?” tanya Ririen. Putra yang diajak ngomong hanya diam memandang Ririen.
Penggemar durian memang bisa terbagi dua, penggemar durian dengan rasa manis atau ada yang suka dengan rasa manis sedikit pahit karena kadar alkoholnya lebih tinggi.
Ririe tidak perduli dengan reaksi Putra yang tetap diam, dia makan satu buah duren yang sudah dibuka oleh pedagangnya, dia menyuapi Putra.
Putra yang disodori buah duren mengambil kesempatan menjilati jemari Ririen dan menggodanya dengan lidahnya.
__ADS_1
“Put, aku belum selesai makan,” rengek Ririen minta tangannya dilepas.
“Tadi ‘kan aku sudah bilang, semua bagian tubuhmu pengen aku makan,” goda Putra. “Dan kamu masih aja panggil namaku tanpa panggilan didepannya.”
“Kamu maunya ikutin suku aku atau sukumu?” tanya Ririen demokrasi.
“Aku maunya panggilan itu keluar dari hatimu, bukan karena permintaanku,” jawab Putra.
“Enaknya mas atau A’a?” masih aja Ririen bertanya.
“Aku bingung Put, enaknya apa. Nanti aja ya, pasti aku robah koq,” Ririen memang bingung beneran.
“Mborong A’ Putra,” sapa seorang perempuan manis yang tiba-tiba ada di dekat mereka.
“Eh Susi, enggak, cuma makan di sini aja, enggak borong koq. Kamu ama siapa?” tanya Putra menjawab sapaan perempuan yang di panggilnya Susi tersebut.
“Ama Ocas, ‘tu lagi parkir motor,” jawab Susi lagi lalu dia duduk mepet dengan Putra. Rupanya dia tadi sudah memilih duriannya, karena si tukang datang mengantarkan durian yang sudah dibuka ujungnya.
“A’ tolong bukain dong, ini sepertinya si mamang kurang dalam mbukanya jadi Susi susah,” rengek Susi pada Putra.
“A’ cobain deh, ini manis lho,” Susi menyodorkan kulit buah duren yang masih ada isinya.
Putra baru sempat menengok saat didengarnya Ririen memanggilnya manja “Mas, masih mau lagi enggak?” katanya sambil menyuapi buah duren langsung ke mulut Putra.
Dan dengan sengaja dia juga berucap “Mas kalau makan kebiasaan deh berantakan gini,” sambil dia usap mulut Putra dengan tissue.
Putra yang tau Ririen sedang cemburu langsung mendekatkan mulutnya ke bibir Ririen, di kecupnya sepintas agar Ririen lebih merasa nyaman dengan keberadaannya.
“Cukup satu aja yang kita makan di sini ya, kamu sudah enggak nyaman ‘kan makan di sini” bisiknya. Putra segera bersiap mengajak Ririen pulang. Dia tak ingin ada perang dunia.
Ririen segera menghabiskan duren yang sudah dibuka, lalu dia mengeluarkan tissue basah dari tasnya, dibersihkannya mulut Putra lalu juga jemarinya satu persatu agar tidak bau duren. Sesudah itu dia baru membersihkan mulut dan jemarinya sendiri.
“Mang ini,” kata Ririen mengeluarkan uang dari dompetnya. Yang lima bawa ke dekat mobil sana ya,” pintanya.
__ADS_1
Susi melihat Ririen mengeluarkan uang dari dalam dompetnya sendiri, bukan Putra yang bayar, batal deh dia mau minta bayarin sekalian duren yang di makannya. “Saya duluan ya Sus,” Putra berjalan sambil memeluk pundak Ririen, sesekali dikecupnya pelipis wanita pujaannya tersebut.
“Sampe rumah aku pengen langsung tidur ya Mas, cape banget, mana besok pagi pasti perang ama kak Fajar dan Fajri,” pinta Ririen, dia sudah sangat letih.
“Hemm, sekarang bobo aja di sini,” Putra mencoba menarik kepala Ririen untuk bersandar di bahunya.
“Tanggung, nanti malah pusing, nanti aja sekalian di rumah” tolak Ririen.
Sampai rumah Ririen melihat kamar anak-anak dulu apakah kasurnya sudah siap, ternyata Fajar dan Fajri sudah tidur di kasur bawah tidak di kasur mereka masing-masing. Putra yang habis menaruh duren di belakang, ketika masuk kamar langsung tersenyum karena dua jagoannya sudah menunggu di kasur yang akan dia tiduri.
“Met bobo my sweet angel,” bisik Putra, tapi dia juga nakal mendaratkan bibirnya di leher Ririen. Ririen yang tidak siap dengan serangan Putra tentu saja kaget.
“Mas, jangan nakal gitu ah,” tolak bibirnya tapi bahasa tubuhnya berlawanan.
“Brenti ya, kita belum boleh,” katanya lagi tapi dia malah menyerahkan leher depannya. Di jambaknya rambut Putra untuk meredam keinginannya.
“Mas, kamu bilang cinta aku, walau aku bukan perawan, tapi enggak boleh ‘kan kita lakukan sebelum nikah, brenti ya,” pinta Ririen sambil terengah-engah disela ******* bibir Putra dan juga kenakalan lidah lelaki itu.
“Makanya cepet nikah ya, biar kita enggak kesiksa gini,” bibir dan tangan Putra tetap saja gerilya walau dia menjawab perkataan Ririen.
“Sana ah, aku mau tidur di kamarku,” Ririen mendorong tubuh Putra yang memepetnya ke dinding dekat pintu. Dikecupnya pipi Putra lalu dia berucap “Met bobo daddynya anak-anakku.”
Putra yang mendengar kata-kata daddynya anakku kembali menarik Ririen dalam pelukannya, mencium keningnya lama, lalu berucap “Makasih cintaku, met bobo juga ya.”
***
\===============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta