
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Hallo,” sapa Ririen saat menerima telepon dari nomor tak tersimpan di HP nya.
“Hallo, ini aku!” sapa suara berat di seberang sana. Ririen seakan tidak percaya, sudah sangat lama dia tak mendengar suara itu. Suara mantan suaminya.
“Maaf dengan siapa ya?” Ririen tidak mau salah orang, maka dia ingin memastikan siapa yang menghubungi dirinya.
“Ricky”
“Ada perlu apa?” tanya Ririen, setelah sembilan tahun lebih mantannya tidak pernah menghubunginya, tetiba sekarang menggunakan nomor baru menelponnya.
“Bisa ketemu enggak?” tanya Ricky.
“Bicara aja di telepon, saya enggak bisa atur waktu!” jawab Ririen ketus.
“Papa ingin bertemu dengan anak-anak,” sahut Ricky.
“Maaf, kami tinggal di Jogja, kami tidak bisa atur waktu untuk berkunjung,” Ririen jelas tak ingin dia dan anak-anak mengatur waktu menemui mantan mertuanya. Dia pikir bukan kesalahan dia perceraiannya dengan Ricky, dan awal-awal mereka bercerai pun dia tidak membatasi bila Ricky atau keluarganya ingin bertemu dengan anak-anak. Namun mereka saja yang tak pernah ingin bertemu. Sekarang saat mereka sudah pindah ke Jogja baru keluarga Ricky ingin bertemu.
“Baik, kami yang akan ke Jogja, kita tentukan saja di mana kami bisa ketemu dengan anak-anak,” Ricky langsung memutuskan mereka yang akan ke Jogja.
“Saya akan diskusikan dulu dengan anak-anak dan Daddy mereka. Saya tidak bisa memutuskan sendiri. Karena anak-anak yang bisa ambil keputusan!” Ririen memperjelas penolakannya.
“Mereka anak kecil, mana bisa memutuskan seperti itu, kamu aja ‘kan yang enggak ngebolehin kami ketemu!” keras Ricky menjawab perkataan Ririen barusan.
“Buat anda mereka anak kecil, tapi buat saya dan suami saya tidak! Kami tidak menganggapnya demikian. Semua hal yang melibatkan mereka, selalu kami diskusikan dengan mereka sebagai individu dewasa. Pola asuh suami saya memang berbeda dengan pikiran anda yang picik!” sarkas Ririen membalas perkataan Ricky yang menuduhnya tidak membolehkan dia bertemu dengan anak-anak biologisnya.
“Sekarang saya tutup dulu, nanti akan saya beritahu keputusan kami terhadap permintaan anda!” Ririen kesal karena Ricky tak berubah. Semakin tua bukan semakin sareh ( bijaksana ).
***
Ririen kembali ke halaman, diperhatikannya Leona dan Leoni yang sedang bermain dengan kelincinya, usia mereka sekarang sudah lima tahun. Mereka sudah duduk di kelas satu SD,
__ADS_1
Sedang Alesha hampir delapan tahun dan sudah duduk di kelas tiga SD. Alesha sedang melukis di kanvasnya. Daddynya menyalurkan bakat Alesha yang hobby melukis dengan membelikannya alat lukis lengkap dan memanggilkan guru privat untuknya.
Sore menjelang, Fajar yang sudah duduk di kelas sepuluh atau kelas 1 SMA masuk lebih dulu, dia sejak SD ikut kelas akselerasi, tak aneh di usianya yang baru 14 sudah masuk SMA.
“Assalamu’alaykum Mom, De,” sapanya saat masuk teras belakang.
“Wa’alaykum salam,” jawab Ririen, Leona dan Leoni berbarengan sementara Alesha tidak mendengar salam yang Fajar berikan karena sedang konsentrasi melukis.
“Cape Mas, minum dulu nih,” Ririen menyerahkan air jeruk yang baru saja dia tuang di gelas untuk anak sulungnya.
“Lumayan Mom, tadi langsung ngajar karate,” jawab Fajar , dia memang mulai diberi kepercayaan melatih karate bagi pemula oleh para seniornya.
“Kalau sudah istirahat langsung mandi ya, baju kotornya keluarin, jangan kebiasaan lupa di bawa terus dalam tas,” Ririen mengingatkan anaknya yang sering lupa mengeluarkan baju kotornya.
“Assalamu’alaykum Mom, De,” sapa Fajri saat masuk teras belakang, kebiasaannya saat bertemu dengan mommynya, dia akan langsung mencium pipi wanita kesayangannya itu.
“Wa’alaykum salam,” jawab Ririen, Leona dan Leoni serta Fajar dan Alesha hampir berbarengan.
“Mas enggak disebut?” protes Fajar pada satu-satunya adik lelaki yang dia punya.
“Daddy enggak nginep ‘kan Mom?” tanya Fajri pada Ririen.
“Enggak, tadi bilang on the way pulang koq,” jawab Ririen, dia tau Fajri paling tak bisa tidur bila belum curhat dengan daddynya. Hari ini Putra ke Boyolali, mengecek proyeknya di sana.
Putra sampai rumah pukul 20.00 saat Leona dan Leoni sudah tidur dan Alesha bersiap tidur. Putra segera menyapa Alesha lebih dulu, mengucapkan selamat tidur pada gadis kecilnya. Sesudah itu baru dia mandi. Sebelum menuju ruang keluarga disempatkannya mencium Leona dan Leoni.
Ririen hanya menemani Putra makan, karena dia sudah makan bersama kelima anak-anaknya. Dengan telaten diambilkannya nasi serta sayuran dan lauk bagi suaminya.
Sehabis makan Putra langsung terlibat percakapan seru dengan dua jagoannya, Fajri yang sudah duduk di kelas enam SD dan baru berusia sepuluh tahun lebih belum genap sebelas tahun, tidak terlihat seperti anak seusianya ketika berbicara tentang musik.
Pengetahuan Fajri tentang musik terlalu tinggi untuk anak sebayanya. Kali ini Fajri sedang merengek agar Daddynya main gitar dan bernyanyi untuknya. tentu saja Putra selalu berhati-hati mencari lagu yang tidak berlirik dewasa, dan itu merupakan kesulitan baginya, karena dia terpaksa harus banyak belajar lagu anak-anak. Itulah seringnya dia menyanyikan lagu anak-anak dalam bahasa inggris.
“Kita nyanyi lagu apa nih Mas?” tanya Putra pada Fajar.
“Lagu buat Mommy aja,” Fajri spontan menjawab dengan polosnya.
__ADS_1
“Wah, apa lagu buat Mommy?” tanya Putra bingung sambil menatap pujaan hatinya yang selalu membuatkan makin cinta dari waktu ke waktu.
“Morning has broken dari cat steven aja Dadd” pinta Ririen menengahi, sambil meletakkan teh jahe untuk Putra, Ririen tau Putra super cape pulang dari luar kota, tapi tetap berupaya memenuhi kewajibannya berbincang dengan kedua anak mereka.
Irhan pun mulai memetik gitar menyanyikan lagu morning has broken sesuai arahan Ririen
Morning has broken, like the first morning
Blackbird has spoken, like the first bird
Praise for the singing, praise for the morning
Praise for them springing fresh from the Word
Ririen selalu mengagumi suara Putra bila sedang menyanyi, dan sejak mereka menikah memang setiap Putra main gitar dan menyanyi lagu apa pun, Putra akan selalu memandang mata Ririen, seakan menyiratkan rasa cintanya.
“Cukup santainya. Ayo kalian masuk kamar, jangan lupa cek lagi buku untuk pelajaran besok sudah masuk tas semua belum,” perintah Ririen pada kedua anaknya, sementara Putra tetap memetik gitarnya.
“Teh jahenya diminum Dadd, atau mau dibikinkan beras kecur biar ngilangin pegel?” tanya Ririen dengan penuh cinta.
“Cukup teh jahe aja deh Mom, paling nanti rendam kaki pakai air hangat dan garam aja buat hilangin pegel,” kilah Putra, sambil mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh cinta.
Putra sungguh tak menyangka mempunyai kehidupan sempurna dengan menikahi janda beranak tiga yang usianya lebih tua dari dirinya.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta