
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Putra memetik gitarnya kembali sehabis meneguk minumannya, ditatapnya mata istrinya dan dimainkannya lagu Aku makin cinta dari Vina Panduwinata
Mungkinkah ini tandanya cinta
Ataukah perasaanku saja
Kini baru kusadari
Yang sesungguhnya terjadi
Putra mengambil jemari Ririen, menarik hingga Ririen bersandar di dadanya, dia ciumi jemari istrinya. Putra terus memainkan gitar dengan Ririen yang berada disiepan tubuhnya. Dia membisikan syair lagu itu pelan
Ternyata aku makin cinta
Cinta sama kamu
Hanya kamu seorang kasih
Ku tak mau yang lain
Kamu yang terakhir
Yang kucinta
Sehabis lagu selesai, Putra mencium pipi Ririen dengan lembut. “Terima kasih telah mendampingiku selama ini. Terima kasih telah memberi kebahagiaan dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi ibu dari anak-anak kita.”
“Dad, tadi Ricky telepon” Ririen memberitahu Putra persoalan telepon dari Ricky sore tadi.
“Ada perlu apa, sudah sejak cerai enggak pernah hubungi Mommy kan? Tahu nomor Mommy dari mana?” Putra bingung ada persoalan apa mantan suami Ririen menghubungi istrinya.
“Sejak dulu ‘kan Mommy enggak pernah ganti nomor telepon. Katanya papanya minta ketemu anak-anak, tapi Mommy bilang kami enggak akan atur waktu buat berangkat ke Jakarta. Trus Ricky minta waktu kapan dan di mana bisa ketemu,” jelas Ririen.
“Lalu Mommy kasih waktu kapan dan di mana?” pancing Putra sambil sesekali masih memetik senar gitarnya untuk meredam kesalnya terhadap mantan suami Ririen itu.
“Mommy belum jawab lah, ‘kan belum minta izin Daddy dan belum bilang anak-anak. Yang ingin mereka temui ‘kan anak-anak, bukan Mommy,” Ririen menyiratkan bahwa dia sangat menghormati suaminya untuk mengambil keputusan.
“Ya besok saat antar anak-anak ke sekolah, Daddy akan tanya mereka dulu,” Putra juga tidak akan gegabah menjawab, karena itu berhubungan dengan perasaan anak-anaknya.
“Sekarang bobo yok, Daddy cape banget,” ajak Putra.
__ADS_1
“Enggak jadi rendam kaki pakai garam?” tanya Ririen.
“Rendam yang lain aja ya?” rajuk Putra sambil menarik istrinya ke kamar.
***
“Mas, Bang kemarin ayah kalian nelepon Mommy,” Putra membuka pembicaraan mereka saat sedang di mobil hendak mengantar sekolah anak-anaknya.
Usia Fajar dan Fajri hanya berjarak tiga tahun, tapi Fajar sudah kelas 2 SMA, sedang Fajri baru kelas 6 SD sehingga saat ini mereka sedang menuju SD lebih dulu karena jaraknya lebih dekat dari rumah mereka.
“Ada perlu apa Dadd?” tanya Fajar lembut, dia tak ingin menyakiti hati daddynya.
“Minta diizinkan ketemu dengan kalian,” Putra langsung ke pokok persoalan.
“Mau apa ketemu? Selama ini kan enggak pernah anggap kami ada. Enggak ada sedikit pun attensi ke kami apalagi kasih nafkah ke anak,” ketus Fajar menjawab pernyataan Putra, walau masih 14 tahun tapi lingkungannya adalah anak SMA, sehingga tentu saja pemikirannya lebih dewasa dari anak-anak seusianya.
Fajri dan Alesha hanya mendengarkan mas mereka berbicara dengan daddy nya. “Mommy dan Daddy juga enggak tahu tujuannya apa, hanya ayah kalian bilang opa pengen ketemu dengan kalian,” Putra tidak mau ikut terbawa emosi, dia berupaya sabar menghadapi Fajar yang terluka.
Fajri dan Alesha turun di sekolahnya. Mereka salam dan mencium pipi Putra seperti biasa. Putra selalu memeluk anak-anaknya di depan gerbang sekolah, dia tidak hanya membiarkan anak-anaknya turun dari mobil, tapi mengantarkannya hingga pintu gerbang.
Putra mencium puncak kepala anaknya serta tak lupa kening anaknya. Fajar yang melihatnya dari mobil sangat bersyukur mempunyai daddy seperti Putra yang tak pernah membedakan perhatian pada semua anaknya.
“Trus maunya ketemu di mana dan kapan Dadd?” tanya Fajar meneruskan pembicaraan yang tadi terputus ketika mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolah Fajar.
“Kalau begitu ketemu di rumah aja Dadd, aku enggak mau pergi nemuin mereka, bolehkan ketemu di rumah aja?” Fajar meminta izin pada Putra
“Daddy sih enggak masalah, tapi kita ‘kan enggak tahu gimana pemikiran Mommy mu? Nanti Daddy diskusiin dulu ama Mommy gimana baiknya,” Putra memberhentikan mobilnya depan sekolah Fajar, dia tidak turun, Fajar pasti malu bila diantar hingga gerbang seperti adik-adiknya.
Putra mencium Fajar dalam mobil sesudah putranya mencium tangan dan pipinya.
Dulu saat anak-anak TK, Putra mengantar anak-anak hingga depan pintu kelas, beranjak SD hanya sampai pintu gerbang sekolah dan saat SMA ini Putra tidak turun dari mobil.
Putra sangat menjaga perasaan anak-anaknya. Terlebih semua tahu usia Fajar saat di SMA masih sangat muda. Bila Putra turun dan memeluknya d depan gerbang, tentu Fajar akan di bully teman-temannya dianggap anak bawang.
***
“Hallo cinta, ada apa?” Putra menjawab telepon Ririen dengan lembut sambil terus memandangi gambar di meja kerjanya.
“Aku siang nanti mau keluar ama si kembar, mereka mau cari buku dan bahan tugas mereka, Mas mau di bawain makan siang apa?” tanya Ririen.
“Dirumah Mommy masak apa?” Putra malah balik nanya. Dia lebih suka makanan yang dimasak istrinya dari pada makanan beli.
“Ada lele goreng dan lalapan aja, juga sayur bening daun kelor,” Ririen menyebut menu di rumah.
__ADS_1
“Mending bawain itu aja Mom, jangan lupa tambah kerupuk,” pinta Putra.
“Anak-anak minta ke McD, pastinya mereka pengen ice creamnya. Mas mau di bawakan soupnya?” Ririen menawarkan menu lain.
“Enggak ah, enggak minat” Putra malah menolaknya.
“Ya wis, sampai jam makan siang ya Dadd, I love you,” Ririen mengakhiri pembicaraannya.
“Love you too Darl.”
***
"Daddy….tadi Kakak Ona makan ice creamnya dua cup, punya dede Oni dia ambil,” Leoni datang langsung ngadu kelakuan kembarannya.
“Salahnya dede Oni lambat habiskan makannya, daripada ice creamnya mencair ya Ona makan aja semua,” Leona menjawab tanpa rasa bersalah.
Putra yang sedang mencium kening istrinya hanya tertawa melihat kelakuan kedua anaknya tersebut. “Kayaknya kalau nambah satu lagi udah pas nih, mereka udah gede-gede,” bisiknya pada Ririen. Yang langsung dibalas Ririen dengan memberi cubitan di perut suaminya.
“Sakit banget Mom, tega banget sih nyubit seperti itu?” Putra meringis merasakan cubitan Ririen.
Ririen menyiapkan makan untuk suaminya, dan seperti biasa Putra selalu minta disuapi, alasannya tangannya sedang kerja sehingga sulit untuk makan.
“Kalau makan dengan sambel dan ikan gini enaknya nyuap sendiri pakai tangan enggak pakai sendok Dadd,” Ririen membujuk Putra agar makan sendiri.
“Enakan pakai tanganmu, ada manis-manisnya,” kilah Putra.
Akhirnya Ririen mengalah, dia menyuapi Putra sambil mengawasi kedua putri mereka mewarnai.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI\, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL **CINTA KECILNYA MAZ ** YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1